Budaya Literasi Menghindarkan Anak dari Ketergantungan Gawai

Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kerasipan (Dispusip), Neti Supriati membagikan sejumlah hal yang harus diperhatikan untuk memulai menerapkan budaya literasi kepada anak-anak. 

Budaya Literasi Menghindarkan Anak dari Ketergantungan Gawai
Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kerasipan (Dispusip), Neti Supriati /foto: INILAH/Okky Adiana

INILAH, Bandung - Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kerasipan (Dispusip), Neti Supriati membagikan sejumlah hal yang harus diperhatikan untuk memulai menerapkan budaya literasi kepada anak-anak. 

Penanaman budaya literasi menjadi salah satu alternatif cara menghindarkan ketergantungan anak terhadap gawai. Menurut Neti, literasi bukan hanya persoalan membaca ataupun menulis saja. Namun, mengolah informasi sebelum disampaikan itu menjadi aktifitas literasi.

“Harus ada tahapan cara menyampaikan informasi, termasuk di golden age itu ada tahapannya. Seperti 2-3 tahun itu tidak bisa diajak membaca menulis seperti orang biasa, tetapi diajarkan mengenal simbol dan gambar dahulu,” kata Neti di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Rabu (6/11/2019).

Setelah mengenal simbol, lanjut Neti, itulah waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan membaca, menulis dan berhitung (calistung). Karena di penghujung usia emas tersebut syaraf motorik anak beranjak semakin matang.

“Ketika anak itu dipaksakan membaca maka anak itu akan terjadi stres. Karena fungsi dari sarafnya itu belum matang. Maka akan lebih matang untuk itu di usia sekitar 6-7 tahun,” terangnya.

Untuk itu, Neti memaklumi apabila ada temuan dari Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Bandung yang menyatakan bahwa 15 persen siswa di sebuah PAUD masih belum fasih calistung.

“Perlu kita pahami anak yang belum bisa baca tulis dari Himpaudi itu rata-rata dalam satu PAUD ada 100 anak dan 15 persennya itu belum mengenal baca tulis. Wajar karena di usia anak PAUD baru mengenal simbol saja,” tegasnya.

Lebih lanjut Neti memaparkan untuk mulai menumbuhkan kebiasaan literasi juga memperhatikan agar anak memiliki ketertarikan. Sebagian besar faktor yang mendukung anak bisa tertarik literasi datang dari lingkungan keluarga.

“Banyak faktor anak tertarik atau tidak. Pertama ada faktor keluarga mengenal tulisan memahami dan mengenal bacaan kepada anak. Kedua, keteladanan dari orang tua itu sendiri,” ujarnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dispusip memiliki banyak program untuk menumbuhkan budaya literasi di anak-anak. Di antaranya dengan mendekatkan bacaan kepada anak-anak melalui perpustakan keliling atau micro library yang terdapat di sejumlah daerah.

Selain itu, tambah Neti, Dispusip juga menyediakan program khusus untuk kunjungan anak ke perpustakaan daerah Kota Bandung. Menurutnya, program kunjungan bagi siswa sekolah mulai dari PAUD sampai SMA ini cukup banyak menarik peminat.

“Dari total pengunjung ke perpustakaan kami, 45 persennya atau 67.235 orang itu adalah anak-anak sekolah. Ini setiap tahun kunjungan anak itu meningkat 10 persen. Tinggal kami meningkatkan kualitas dari kunjungan itu. Kita bangun inkubator penulis. Kita ada anak siswa kelas 2 SD yang sudah mulai membukukan tulisannya,” katanya. (Okky Adiana)


 


Editor : JakaPermana