Bumdes Niagara, Dimodali Habibie, Kini Jadi Andalan Terkuat Negeri
SALAH satu Bumdes terbaik di Jawa Barat. Lahir dari program BJ Habibie. Sumbangsihnya setara dana desa pemerintah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
SALAH satu Bumdes terbaik di Jawa Barat. Lahir dari program BJ Habibie. Sumbangsihnya setara dana desa pemerintah.
Ini data tahun lalu. Di Kabupaten Bandung, alokasi dasar dana desa untuk setiap desa adalah Rp672,42 juta. Sama sebenarnya dengan yang diterima desa-desa lainnya di tanah air.
Angka itu pula yang diterima Desa Wangisagara di Kecamatan Majalaya. Tapi, beda dengan desa-desa lainnya, Wangisagara memiliki anggaran yang lebih longgar. Sebab, sumber mereka bukan hanya dari dana desa (DD) atau alokasi dana desa (ADD).
Sumber yang setara dengan itu, dan sangat membanggakan, adalah dari pendapatan asli desa (Pades). Anggaran senilai Rp600 juta mereka dapatkan dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Niagara. “Rata-rata, setiap tahun kami mampu memberikan sumbangan bagi pendapatan asli desa sebesar Rp600 juta,” ujar Saepul Hidayat, Sekretaris Bumdes Niagara, pekan lalu.
Bumdes adalah cara Desa Wangisagara melawan ketertinggalannya. Kerja keras lebih dari 20 tahun membuat mereka kini mulai menikmati hasilnya. Bumdes Niagara dinobatkan sebagai bumdes terbaik kedua di Jawa Barat tahun lalu.
Padahal, ketika pertama kali diluncurkan, Wangisagara termasuk salah satu desa tertinggal. Itu sebabnya, mereka mendapatkan bantuan modal kerja sebesar Rp150 juta tahun 1999 melalui program Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal (P3DT) dari pemerintah di era kepemimpinan BJ Habibie kala itu.
Saepul mengatakan, sebelum menjelma menjadi Bumdes dengan jumlah nasabah lebih dari 3.000 orang, usaha ini diawali dengan pembangunan pasar desa yang didirikan di atas tanah carik desa pada 1999 lalu. Duit bantuan P3DT itu rupanya dimanfaatkan untuk pembangunan pasar desa.
Awalnya, hanya terbangun beberapa los dengan puluhan kios saja. Seiring perjalanan waktu, lewat kerja keras, cerdas, dan ikhlas, pasar desa ini berkembang. Jumlah kios pun bertambah, dari puluhan kini menjadi ratusan unit kios.
“Awalnya desa kami itu dikategorikan sebagai desa tertinggal. Kemudian pada 1999, desa kami mendapatkan bantuan modal dari pemerintah sebesar Rp150 juta. Saat itu kepala desa dan para tokoh masyarakat ingin uang itu dijadikan modal usaha yang produktif. Maka dibangunlah pasar desa di tanah carik itu,” kata Saepul.
Saepul melanjutkan, usaha pasar desa ini berkembang dengan baik dan terus menambah jumlah kiosnya. Begitu juga dengan pengurus pasar yang pada awal dibentuk hanya mempekerjakan empat orang, karena kebutuhan terus ditambah. Kantor Bumdes Niagara pun cukup megah seperti sebuah bank lengkap dengan ruangan berpendingin udara, meja teller dan deretan kursi tunggu untuk nasabah.
“Setelah itu kami juga menyediakan produk simpan pinjam bagi para pedagang pasar. Ternyata produk simpan pinjam ini juga berkekembang dengan baik. Tak hanya pedagang pasar saja, kami juga melayani nasabah umum sampai dari luar kecamatan. Kemudian pada 2003, usaha milik desa ini berubah nama menjadi Bumdes Niagara. Hal ini dilakukan seiring dengan adanya kewajiban setiap desa memiliki Bumdes. Itu ada Surat Edaran (SE) dari Pemkab Bandung,” ujar Saepul yang mengaku bergabunh dengan Bumdes Niagara sejak 2007 lalu itu.
Saat ini, jumlah nasabah kreditur sudah mencapai 3.000 orang dan nasabah debitur sebanyak 2.500 orang. Angka yang tinggi untuk sebuah badan usaha setingkat desa.
Bumdes ini semula hanya melayani pinjaman untuk modal usaha atau kredit produktif dengan suku bunga 1,75% perbulan. Namum saat ini Bumdes tersebut pun bisa memberikan pinjaman konsumtif seperti untuk biaya pernikahan dan lainnya. Dari semula hanya untuk para pedagang pasar desa saja, kini berkembang hingga melayani nasabah dari luar Kecamatan Majalaya.
“Nilai pinjaman beragam dari mulai Rp2 juta hingga Rp50 juta. Tapi biasanya kami berikan bertahap. Kalau pembayarannya bagus, bisa terus ditambah. Agunan atau jaminan di Bumdes Niagara yakni BPKB kendaraan atau bisa juga dengan akta tanah. Alhamdulilah selama ini berjalan lancar,” katanya.
Saepul menjelaskan, selain usaha pasar desa dan simpan pinjam, unit usaha lain dari Bumdes Niagara yakni produksi air minum kemasan. Selain menjual produk air kemasan siap minum, Bumdes ini juga menjual mesin alat pengolah air kemasan. Produk air kemasan dan menjual mesin pengolah air kemasan ini dimulai sejak 2018 lalu dan hingga saat ini berjalan dengan baik.
“Dari ketiga produk Bumdes ini alhamdulilah berjalan dengan baik. Kalau ada kendala sih itu wajar, namanya juga usaha,” katanya.
Ke depan, Bumdes Niagara akan terus mengembangkan usahanya. Salah satunya adalah pembuatan sandal. “Di desa ini banyak pengrajin sandal. Nanti akan kami himpun, kami bina, dan diberikan bantuan permodalan serta pemasarannya,” tambah Saepul.
Dari usaha yang telah berlangsung sejak 1999 itu, kata Saepul, Bumdes Niagara rata rata setiap tahun bisa memberikan sumbangan Rp600 juta untuk pendapatan asli desa (Pades). Maklum, hingga hitungan 2019 lalu, total aset yang dimiliki Bumdes Niagara sudah mencapai Rp12,5 miliar.
Keberhasilan Bumdes Niagara ini tidak terlepas dari dukungan sumber daya manusia (SDM) dan juga konsistensi Pemerintah Desa Wangisagara untuk memajukan Bumdes tersebut.
“Biasanya kendala dari Bumdes sehingga susah berkembang itu karena SDM yang tidak siap. Yang paling penting juga dukungan dari pemerintah desa sebagai pemilik. Biasanya kalau di tempat lain, kepala desanya suka campur tangan. Kalau di desa kami, sejak usaha atau Bumdes ini berdiri, kades tidak ada yang merongrong, justru mendukung dengan mengucurkan penyertaan modal rata rata Rp100 juta setiap tahunnya,” katanya. (rd dani r nugraha/ing).
Di Kabupaten Bandung terdapat 270 BUMDes. Dari jumlah tersebut, menurut dia, terdapat satu BUMDes yang telah maju dan mandiri, yakni BUMDes Niagara Desa Wangisagara Kecamatan Majalaya. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Bandung, hampir semua desa di Kabupaten Bandung sudah memiliki BUMDes. 85 di antaranya BUMDes berkembang dan 184 BUMDes pemula. (Dani R Nugraha)
Editor : Bsafaat

