Cerita Jun Maulana, Bocah Penderita Cerebral Palsy Asal Lembang yang Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah Selama 12 Tahun
Atik Yulia (50) dan Mukti Efendi (53) hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya Jun Maulana (12) yang menderita cerebral palsy atau lumpuh otak yang dideritanya sejak berusia tiga hari.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Atik Yulia (50) dan Mukti Efendi (53) hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya Jun Maulana (12) yang menderita cerebral palsy atau lumpuh otak yang dideritanya sejak berusia tiga hari.
Jangankan untuk bermain dengan anak sebayanya, Jun Maulana penderita cerebral palsy yang merupakan warga Kampung Langensari RT 02/03, Desa Langensari, Kecamatan Langensari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini hanya bisa menyeret badannya lantaran tak bisa berjalan.
Lebih memprihatinkan, ketika Jun Maulana mulai memukuli badannya sendiri. Terlihat luka lebam di beberapa bagian, seperti di kepala dan tangannya.
"Kelainan otak pada anak saya (Jun Maulana) terjadi sejak dia lahir 3 hari," kata Atik Yulia saat ditemui di kediaman anak pertamanya, Selasa 22 Oktober 2024.
Berdasarkan keterangan dari dokter, Atik menceritakan, Jun Maulana saat itu didiagnosa mengalami infeksi di bagian pusar, mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang.
"Anak saya sempat dirawat sampai tujuh kali dan harus menjalani rawat jalan selama 4 tahun," kata ibu dua anak ini.
"Jun Maulana kalau malam jarang tidur dan suka teriak-teriak. Yang paling khawatir kalau udah tiba-tiba mukulin kepala sampai memar," sebutnya.
Atik mengaku, usahanya untuk bisa menyembuhkan kondisi sang anak belum membuahkan hasil. Kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan membuat Atik dan Mukti kini hanya bisa pasrah.
Atik dan Mukti yang sehari-hari berprofesi sebagai petani tanaman hias dan juga buruh tani tak memiliki penghasilan tetap, sehingga keduanya tak bisa meneruskan pengobatan anak bungsunya itu berobat.
"Sempat saya mengeluhkan kondisi anak saya ke bu Camat Lembang namun tak pernah ada yang datang untuk menindaklanjuti," katanya.
"Dari Pemda Bandung Barat pun tak pernah ada bantuan. Padahal, kami hanya ingin anak kami mendapatkan penanganan kesehatan, seperti terapi," sambungnya.
Selamat ini, kata Atik, sang anak berobat menggunakan fasilitas BPJS gratis. Namun, dia berharap, anak kesayangannya itu bisa mendapat hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
"Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan anak-anak disabilitas seperti Jun. Karena gak cuma Jun, ada sekitar 16 anak lainnya yang menderita kondisi yang sama kaya Jun," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani

