Dari Bengkel Motor ke Panggung Dunia, Kisah Abah Kurnia Bangkitkan Kopi Lembang
Dulu, urusan mesin kendaraanlah yang mengisi hari-harinya. Abah Kurnia Danu Miharja (68) bukanlah petani kopi, tak punya latar belakang perkebunan sama sekali.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dulu, urusan mesin kendaraanlah yang mengisi hari-harinya. Abah Kurnia Danu Miharja (68) bukanlah petani kopi, tak punya latar belakang perkebunan sama sekali.
Namun sejak tahun 2008, tangan yang terbiasa memegang kunci pas beralih merawat bibit, memetik buah dan memproses biji kopi di tanah kelahirannya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Apa yang bermula sekadar rasa ingin tahu kini tumbuh menjadi satu kesatuan kebun, kafe dan merek yang tak sekadar menjual rasa, namun menjaga kenang keluarga sekaligus mengangkat keunikan tanah pegunungan Bandung Barat ke panggung yang lebih luas.
Langkah pertamanya ia berkelana belajar ke Pangalengan memahami budidaya, ke Toraja dan Sidikalang mengenal karakter tanaman, hingga ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember mendalami jenis-jenis kopi yang tumbuh subur di nusantara.
Empat jenis utama dipelajari antara lain Arabika, Robusta, Liberika, dan Excelsa. Lalu dipadukan dengan kondisi tanah, ketinggian, serta iklim Lembang. Pilihannya jatuh pada varietas Sigararutang, tanaman lokal bersertifikasi yang terbukti paling cocok dengan karakteristik lahan di ketinggian tersebut.
"Saya tak berpikir kopi akan sedunia ini saat itu. Hanya tahu permintaannya terus tumbuh, dan ini komoditas ekspor. Terlintas: warga desa pun bisa menembus pasar luar negeri," kata Abah Kurnia saat ditemui di Tona's Coffee, Maribaya, Lembang, Selasa (6/10/2026).
Tepat pada 20 November 2008, dia menanam benih pertama di lahan seluas 5 hektare, tanggal itu kini dianggap sebagai hari lahir kebun kopinya. Tiga tahun kemudian, pada 2011, panen pertama mulai mengalir.
Awalnya dijual berupa buah segar dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Perlahan dia meningkatkan nilai jual dengan cara diolah menjadi green bean, lalu dipanggang siap seduh, hingga akhirnya membuka kafe sendiri pada tahun 2016.
Perjalanan menembus pasar ekspor pun tak mudah. Pada Juni 2019, berangkat ke Berlin, Jerman, bermodal sendiri untuk ikut pameran internasional. Sepuluh hari mencari mitra, akhirnya terkoneksi dengan pembeli Eropa. Pengiriman perdana berangkat Januari 2020, namun pandemi Covid-19 memutus hubungan itu.
Pembeli di Jerman tak bisa dihubungi lagi, kemungkinan besar menjadi salah satu korban wabah yang melanda negara tersebut. Pintu ekspor tertutup sementara, namun semangat tak ikut padam.
Dia beralih memperkuat pasar dalam negeri: memasok hingga Kalimantan, membuka jaringan di Bali, serta menjadikan kebunnya tempat pelatihan bagi guru-guru SMK dari berbagai provinsi, termasuk Papua dan Maluku.
Di balik nama Tona's Coffee tersimpan kisah yang menyentuh hati. Awalnya merek yang dipakai, yakni "Arjuna", namun ditolak oleh Kemenkumham karena sudah banyak digunakan.
Putra bungsunya, Cantona Yusuf atau yang akrab dipanggil "Tona" justru yang merintis nama Tonas. Namun pada 2018, kecelakaan merenggut nyawanya dan tak sampai dua bulan kemudian, ibunya pun berpulang.
Di tengah duka mendalam, keluarga sepakat meneruskan nama yang dibuat anaknya itu. Tona's Coffee resmi terdaftar HAKI dan berdiri tegak, bukan sekadar usaha, melainkan warisan cinta yang dihidupkan kembali.
"Kami bangkit kembali. Nama Tonas adalah penghormatan sekaligus janji: melanjutkan apa yang telah dia mulai," ungkap Abah Kurnia.
Kunci bertahan puluhan tahun, menurutnya, sederhana, yakni produk dibuat setelah pasar ditemukan, kualitas dijaga agar tak mengecewakan kepercayaan mitra, dan konsistensi tak pernah diabaikan.
Dia yakin kopi Lembang punya keistimewaan yang tak bisa ditiru daerah lain, tanah yang kaya sisa abu vulkanik Gunung Tangkuban Perahu, iklim panen yang berbeda masa dengan kopi Sumatera, serta biota tanah khas yang memberi corak rasa unik, persis seperti beras Pandanwangi yang hanya tumbuh istimewa di lokasi tertentu.
"Kopi Lembang punya karakter sendiri. Bukan soal lebih hebat, tapi berbeda dan tak tergantikan. Itulah keunggulan yang kami rawat," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani

