Menakar Peluang Bisnis Kopi Jabar ala Abah Kurnia
Abah Kurnia Danu Miharja modal dalam berbisnis memang penting, namun pasar yang jelas dan kepercayaan yang dijaga menjadi fondasi yang lebih kokoh.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bukan semata-mata soal uang di tangan, namun bagaimana membuka pintu pasar yang tak diketahui banyak orang.
Begitulah inti pandangan Abah Kurnia Danu Miharja (68), pelaku usaha kopi yang kisah perjalanannya dari bengkel motor hingga membangun Tona's Coffee kini menjadi teladan bagi banyak pegiat ekonomi rakyat.
Di tengah kesulitan akses permodalan, menyempitnya keuntungan akibat kenaikan bahan baku, serta lemahnya daya beli masyarakat, Abah Kurnia membagikan apa yang ia pelajari bertahun-tahun. Menurutnya, modal memang penting, namun pasar yang jelas dan kepercayaan yang dijaga menjadi fondasi yang lebih kokoh.
Banyak pegiat usaha terhenti di titik tak punya agunan atau riwayat kredit, sehingga menganggap pintu permodalan tertutup. Abah Kurnia menegaskan hal itu bukan alasan berhenti lantaran ia sendiri tidak mengandalkan modal 100% milik pribadi.
Namun, ia menekankan satu syarat tak dapat ditawar, yakni kualitas, jumlah, kesinambungan produksi dan kejujuran kepada mitra. Sekali kepercayaan dikhianati, usaha bisa runtuh seketika.
Modal dari bank pun bukan hal tabu karena ia sendiri memanfaatkannya. Namun, berjalan sendiri tanpa mitra, tanpa investor, tanpa dukungan pihak lain menjadi langkah bakal terasa sangat berat dan lambat.
"Kalau kita berjalan sendiri dengan modal sendiri, melangkah itu terasa seret. Tidak bisa kita berdiri sendiri. Harus ada pihak lain yang terlibat," kata Abah Kurnia di Lembang, Rabu (7/10/2026).
Abah Kurnia menilai, di sinilah peran pemerintah menjadi penentu, bukan sekadar membagikan dana, namun menjembatani pertemuan antara pelaku usaha dengan pemilik modal, dengan pembeli, dengan pasar yang belum diketahui.
"Banyak investor mencari usaha yang berpotensi, namun belum tersambung," ujarnya.
Sehingga, pemerintah yang seharusnya membuka ruang pertemuan itu, mempertemukan UMKM dengan bank, dengan calon pembeli, dengan pasar ekspor.
Dia memberi contoh sederhana, sapu lidi ternyata dibutuhkan Arab Saudi, anyaman bambu dicari Amerika Serikat, bawang goreng Kuningan tembus pasar Singapura. Produk sederhana sekalipun bisa melangkah jauh jika pintu pasarnya dibukakan.
"Bank memang punya aturan tersendiri, plafon pinjaman tidak bisa disamakan antara usaha kecil dengan korporasi besar," ucapnya.
"Di sinilah pemerintah perlu hadir untuk mendampingi, memberi pemahaman, menjembatani, bukan sekadar melepaskan begitu saja setelah dana cair," sebutnya.
Tak cuma itu, pendampingan dan pengawasan ringan diperlukan agar kepercayaan tumbuh dua arah, bank percaya menyalurkan, sementara pelaku usaha mampu mengelola dengan benar.
Menghadapi tekanan biaya bahan baku yang naik dan daya beli yang melemah, Abah Kurnia mengingatkan solusinya bukan sekadar menunggu harga turun, tetapi memperluas pasar.
"Jika pasar hanya di lingkungan sekitar, persaingan ketat dan keuntungan makin tipis. Ketika pasar dibuka lebih luas, peluang tumbuh lebih besar," ujarnya.
Abah Kurnia menyebut, pemerintah dipandang memiliki tugas utama memetakan dan membukakan akses pasar tersebut, mulai dari mengenalkan produk lokal ke pembeli yang lebih jauh, mengajarkan cara menembusnya, sehingga omzet tidak bergantung pada satu titik yang mudah terguncang.
"Pemerintah harus membuka jalan selebar-lebarnya. Banyak hal yang belum terjangkau, padahal permintaan ada di luar sana," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

