Bukan Pemerintah, Komunitas DTB Indonesia Berikan Bantuan Kursi Roda Khusus untuk Bocah Penderita Cerebral Palsy di Lembang

Kondisi Jun Maulana, 12 tahun bocah asal Kampung Langensari RT 02/03, Desa Langensari, Kecamatan Langensari, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang mengidap Cerebral Palsy atau lumpuh otak menuai keprihatinan dari pelbagai pihak.

Bukan Pemerintah, Komunitas DTB Indonesia Berikan Bantuan Kursi Roda Khusus untuk Bocah Penderita Cerebral Palsy di Lembang
Salah satunya dari komunitas Disabilitas Tanpa Batas atau DTB Indonesia yang terus berupaya memberikan bantuan dan penanganan bagi para disabilitas, termasuk Jun Maulana. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Kondisi Jun Maulana, 12 tahun bocah asal Kampung Langensari RT 02/03, Desa Langensari, Kecamatan Langensari, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang mengidap Cerebral Palsy atau lumpuh otak menuai keprihatinan dari pelbagai pihak.

Salah satunya dari komunitas Disabilitas Tanpa Batas atau DTB Indonesia yang terus berupaya memberikan bantuan dan penanganan bagi para disabilitas, termasuk Jun Maulana.

"Waktu pertama saya bertemu dengan Jun yang paling dibutuhkannya itu alat untuk mobilitas berupa kursi roda," Ketua DTB Indonesia Corfied Margetan, Jumat 25 Oktober 2024.

Corfied menyebut, kursi roda tersebut sudah pernah didapat Jun, namun tidak sesuai dengan peruntukannya. Sebab, untuk kondisi Jun, kursi roda yang harus digunakan disebut kursi roda Cerebral Palsy.

"Memang bukan buatan dalam negeri karena memang adanya masih impor. Jadi, kalau kita mau bantu harus tahu dulu kursi roda yang cocok untuk mereka apa," sebutnya.

Sebenarnya, jelas Corfied, di Indonesia bukan tidak mampu memproduksi kursi untuk pengidap Cerebral Palsy. Namun, karena terbentur berbagai aturan, akhirnya produksi kursi roda khusus itu tidak berkembang.

"Jadi masyarakat kita kan tahunya kursi roda standar rumah sakit, saya pun mencoba mengedukasi masyarakat bahwa kursi roda itu banyak macamnya," ungkapnya.

Namun, sambung Corfied, untuk kursi roda yang diberikan untuk Jun itu didapat dari donatur asal Australia. Kebetulan mereka peduli dengan kaum disabilitas.

"Saya ceritakan bahwa ada anak yang membutuhkan kursi roda khusus," imbuhnya.

Kendati jika dirupiahkan harga kursi roda Cerebral Palsy itu mahal. Namun, mereka mau untuk menyumbangkan dananya untuk dibelikan kursi roda khusus Cerebral Palsy.

"Pada prinsipnya, dana yang saya dapat full saya belikan seharga kursi rodanya. Jadi saya memang terbiasa transparan, baik untuk dana yang didapat, dipergunakan untuk apa saya perlihatkan," paparnya.

Ditanya terkait ada atau tidaknya keterlibatan pemerintah, Corfied menyebut, bantuan dari Kemensos itu ternyata banyak, namun tidak pernah sampai kepada masyarakat bawah.

"Terkait dengan bantuan dari pemerintah saya belum tahu apa yang jadi bottlenecknya (kendala). Jadi kalau dari Kemensos bantuan itu banyak, tapi enggak pernah bisa sampai ke bawah," bebernya.

"Itu yang sampai saat ini kita enggak tahu kenapa?. Enggak cuma di KBB, Kota Bandung pun sama, bottlenecknya apa," sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, Atik Yulia (50) dan Mukti Efendi (53) hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya Jun Maulana (12) yang menderita Cerebral Palsy (CP) atau lumpuh otak yang dideritanya sejak tiga hari lahir.

Jangankan untuk bermain dengan anak sebayanya, Jun Maulana yang merupakan warga Kampung Langensari RT02/03, Desa Langensari, Kecamatan Langensari, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini hanya bisa menyeret badannya lantaran tak bisa berjalan.

Lebih memprihatinkan, ketika Jun mulai memukuli badannya sendiri, terlihat luka lebam di beberapa bagian, seperti di kepala dan tangannya.

"Kelainan otak pada anak saya (Jun Maulana) terjadi sejak dia lahir 3 hari," kata Ibu Jun, Atik Yulia saat ditemui di kediaman anak pertamanya, Selasa 22 Oktober 2024.

Berdasarkan keterangan dari dokter, Atik menceritakan, Jun saat itu didiagnosa mengalami infeksi di bagian pusar, mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang.

"Anak saya sempat dirawat sampai tujuh kali dan harus menjalani rawat jalan selama 4 tahun," kata ibu dua anak ini.

"Jun kalau malam jarang tidur dan suka teriak-teriak. Yang paling khawatir kalau udah tiba-tiba mukulin kepala sampai memar," sebutnya.


Editor : Doni Ramdhani