INILAHKORAN, Ngamprah - Kabar Jun Maulana (12), bocah asal Kampung Langensari RT02/03, Desa Langensari, Kecamatan
Lembang,
Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menderita
cerebral Palsy atau lumpuh otak menuai keprihatinan sejumlah pihak.
Ironisnya sejak mengidap Cerebral Palsy, Jun Maulana tak pernah sekalipun tersentuh bantuan pemerintah daerah baik di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.
Mendengar kabar pilu itu, Calon Wakil Bupati Bandung Barat nomor urut 4,
Unjang Asari, Komunitas Disabilitas Tanpa Batas (DTB) Indonesia dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) KBB langsung mendatangi kediaman keluarga Jun Maulana.
Kedatangan Cawabup Bandung Barat dengan akronim EDUN (Edi Rusyandi-Unjang Asari) itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian Unjang Asari, Komunitas DTB dan PSI terhadap nasib kaum disabilitas yang kerap dipandang sebelah mata.
"Kami sengaja menjenguk salah satu penyandang disabilitas di Desa Langensari, Lembang yakni Jun Maulana yang usianya masih 12 tahun," kata pria yang akrab disapa Kang Unjang saat ditemui di lokasi, Selasa 22 Oktober 2024.
Sebetulnya, ungkap Kang Unjang, saat menemui keluarga Jun ini ada juga beberapa anak yang mengidap kondisi yang sama.
"Ternyata di Desa Langensari ini bukan hanya Jun, tapi ada beberapa anak yang menderita Cerebral Palsy," ungkapnya.
Hasil berdialog dengan pihak keluarga dan warga, terang Kang Unjang, mereka berharap adanya keberlangsungan hidup yang laik terhadap anak-anaknya yang menjadi penyandang disabilitas.
Kemudian, mereka ingin anak-anaknya mendapatkan hak-hak mereka sebagai warga negara.
"Saya menyampaikan kepada para orang tua, ke depan kita akan memprioritaskan karena ini merupakan bagian dari program EDUN, yakni memperhatikan kaum disabilitas baik keberlangsungan hidupnya dan menciptakan kreativitasnya," terangnya.
"Nanti mereka dibekali atau diajarkan keahlian agar mampu berkreatifitas agar kehidupan mereka bisa terus berlangsung," sambungnya.
Hal terpenting lainnya, sebut Kang Unjang, memperhatikan kesehatan mereka dengan pendampingan yang masif.
"Walaupun sudah di Bandung Barat sudah ada melalui Komunitas Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) yang fokus kepada kaum difabel dan anak berkebutuhan khusus, tapi belum maksimal dan belum optimal," sebutnya.
Oleh karena itu, sambung Kang Unjang, ke depan pihaknya bakal lebih mengoptimalkan lagi melalui program yang dikemas pasangan calon EDUN.
"Ini merupakan program prioritas untuk memperhatikan kaum disabilitas itu. Itu harus diwujudkan karena kita melihat langsung kondisi anaknya, kondisi ekonomi keluarganya seperti apa, termasuk orangtuanya seperti apa," paparnya.
Ke depannya, lanjut Kang Unjang, ada dua role model, yakni kita bisa kelompokan orangtua yang memiliki anak disabilitas punya usaha UMKM untuk menghidupi anak dan keluarganya.
"Kemudian bagi anak-anak disabilitas yang masih di bawah umur akan kita berikan perhatian khusus, sementara yang sudah berumur atau jelang dewasa yang memiliki potensi akan kita dampingi agar bisa dibekali keahlian dan kreativitas. Misalnya saja jadi konten kreator dan lainnya," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Atik Yulia (50) dan Mukti Efendi (53) hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya Jun Maulana (12) yang menderita Cerebral Palsy (CP) atau lumpuh otak yang dideritanya sejak tiga hari lahir.
Jangankan untuk bermain dengan anak sebayanya, Jun Maulana yang merupakan warga Kampung Langensari RT02/03, Desa Langensari, Kecamatan Langensari, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini hanya bisa menyeret badannya lantaran tak bisa berjalan.
Lebih memprihatinkan, ketika Jun mulai memukuli badannya sendiri, terlihat luka lebam di beberapa bagian, seperti di kepala dan tangannya.
"Kelainan otak pada anak saya (Jun Maulana) terjadi sejak dia lahir 3 hari," kata Ibu Jun, Atik Yulia saat ditemui di kediaman anak pertamanya, Selasa 22 Oktober 2024.
Berdasarkan keterangan dari dokter, Atik menceritakan, Jun saat itu didiagnosa mengalami infeksi di bagian pusar, mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang.
"Anak saya sempat dirawat sampai tujuh kali dan harus menjalani rawat jalan selama 4 tahun," kata ibu dua anak ini.
"Jun kalau malam jarang tidur dan suka teriak-teriak. Yang paling khawatir kalau udah tiba-tiba mukulin kepala sampai memar," sebutnya.
Meski begitu, usahanya untuk bisa menyembuhkan kondisi sang anak belum membuahkan hasil. Kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan membuat Atik dan Mukti kini hanya bisa pasrah.
Atik dan Mukti yang sehari-hari berprofesi sebagai petani tanaman hias dan juga buruh tani tak memiliki penghasilan tetap, sehingga keduanya tak bisa meneruskan pengobatan anak bungsunya itu berobat.
"Sempat saya mengeluhkan kondisi anak saya ke bu Camat Lembang namun tak pernah ada yang datang untuk menindaklanjuti," katanya.
"Dari Pemda Bandung Barat pun tak pernah ada bantuan. Padahal, kami hanya ingin anak kami mendapatkan penanganan kesehatan, seperti terapi," sambungnya.***