Cerita Saksi Hidup Kekejaman Gerombolan DI/TII di Gununghalu: Ketakutan, Kelaparan hingga Kematian menjadi Ancaman Warga

Suara desing peluru masih terngiang jelas ditelinga H Gugun (75) saat gerombolan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) akan membantai habis warga Desa Gununghalu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada 1 Mei sekitar tahun 1958-1959-an.

Cerita Saksi Hidup Kekejaman Gerombolan DI/TII di Gununghalu: Ketakutan, Kelaparan hingga Kematian menjadi Ancaman Warga
Kendati usianya tak lagi muda, namun Gugun masih mengingat dan menjadi saksi hidup kekejaman gerilyawan DI/TII di Gununghalu. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Suara desing peluru masih terngiang jelas ditelinga H Gugun (75) saat gerombolan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) akan membantai habis warga Desa Gununghalu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada 1 Mei sekitar tahun 1958-1959-an.

Kendati usianya tak lagi muda, namun Gugun masih mengingat dan menjadi saksi hidup kekejaman gerilyawan DI/TII di Gununghalu.

Gugun pun tak terlalu ingat jam berapa peristiwa tragis itu terjadi, namun yang jelas peristiwa pembantaian warga oleh gerombolan DI/TII terjadi di dekat Pabrik Teh Montaya pada malam hari. 

Saat itu, Gugun masih berusia 12 tahun dan kakaknya yang berusia 15 tahun berusaha mencoba bersembunyi di bawah atap rumah atau kasau untuk menyelamatkan diri dari gerombolan DI/TII yang tak terhitung jumlahnya. 

Bunyi desingan peluru hingga benturan senjata tajam yang saling beradu membuat suasana malam itu terasa mencekam. Warga yang menjadi korban keganasan gerilyawan DI/TII terus berjatuhan, salah satunya Ketua Kampung Gununghalu yang bernama Padmo.

"Waktu serangan gerombolan 1 Mei itu bapak sama kakak ngumpet di para (bawah atap) sambil menyaksikan langsung pembantaian warga oleh gerombolan. Waktu itu bapak masih 12 tahun," kata Gugun saat ditemui di kediamannya di Kampung Babakan Resmi RW 16, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu 22 Juni 2025.

Salah satu korban pembantaian oleh gerombolan itu, kata Gugun, merupakan Ketua Kampung yang bernama Padmo. Namun, banyak korban lain yang berjatuhan.

Usai pembantaian di dekat Pabrik Teh Montaya, para gerombolan itu bermaksud melanjutkan invasinya ke arah Tangsijaya, namun karena Sungai Cidadap tiba-tiba meluap mereka pun tidak jadi melancarkan aksinya.

"Jadi waktu itu, gak ada tentara karena semua lagi ke Yogyakarta. Cuma ada polisi 6 orang yang menahan gerombolan itu di dekat pabrik teh," tuturnya.

"Mayat-mayatnya juga berjejer di depan kantor kecamatan. Kalau sekarang mah Masjid Agung Gununghalu atau Masjid Kaum," lanjutnya.

Gugun pun mengungkapkan adanya keanehan saat meluapnya Sungai Cidadap, padahal malam itu tidak sedang turun hujan. 

"Lokasinya itu tepat di dekat Kantor Kecamatan Gununghalu kalau sekarang," ucapnya.

Operasi Pagar Betis

Tak lama usai peristiwa pembantaian warga di Pabrik Teh Montaya, Pemerintah Indonesia pun melancarkan operasi Pasukan Garnisun Berantas Tentara Islam atau yang lebih dikenal dengan Pagar Betis yang dimulai pada tahun 1959 sebagai upaya tegas untuk menumpas pemberontakan di Jawa Barat yang dipimpin Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo. 

Dilansir dari berbagai sumber, dalam taktik ini, pasukan TNI bekerja sama dengan masyarakat untuk mengepung daerah-daerah yang dicurigai menjadi tempat persembunyian pasukan pemberontak.

Dengan mengisolasi daerah tersebut, diharapkan pasokan logistik untuk pasukan DI/TII bisa terputus dan mempersempit ruang gerak mereka.

Tak hanya itu, pengepungan ini juga bertujuan untuk memperburuk kondisi moral pasukan DI/TII yang terjepit dan tidak bisa melakukan perlawanan yang efektif.

"Jadi setelah peristiwa pembantaian malam itu, beberapa waktu kemudian ada yang namanya operasi Pagar Betis," sebutnya.

"Ada banyak saung kalau dulu mah. Kalau sekarang mah pos. Satu pos itu isinya 4 orang, tapi enggak cuma tentara banyak warga dari daerah lain, kaya dari Makassar, Jawa dan ada juga yang matanya sipit," bebernya.

Gugun pun mengingat betul ada satu pos yang diisi tentara. Pos tersebut berada tepat di seberang rumahnya saat ini. Menurutnya, keberadaan Pagar Betis itu membuat kekuatan para gerombolan yang kerap menjadi ancaman untuk warga melemah.

"Kalau bapak perkirakan, operasi Pagar Betis di Gununghalu itu beberapa bulan. Karena sudah dikepung, gerombolan itu enggak berani lagi turun gunung," ujarnya.

Kekejaman Gerombolan DI/TII (Sebelum Operasi Pagar Betis)

Lantaran terancam dengan keberadaan Pagar Betis, lanjut Gugun, para gerombolan itu mulai kelaparan dan hanya makan apapun yang ada di gunung. Padahal, sebelumnya mereka kerap merampas sumber makanan warga termasuk keluarga Gugun.

"Sebelum ada Pagar Betis, gerombolan itu setiap malam turun ke perkampungan warga. Mereka enggak segan buat merampas makanan hingga membantai warga," ungkapnya sambil bergidik mengingat masa kelam yang dialaminya bersama keluarga dan warga lainnya saat itu.

"Ngeri, mereka juga gak sungkan untuk menggorok warga," sambungnya.

Merasa tak tenang berada di kampung, Gugun menuturkan, para warga pun berinisiatif untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan membawa apapun yang dinilai berharga.

"Karena udah gak tahan, warga pun memutuskan untuk evakuasi kalau warga disini bilang mah. Kita cari tempat yang lebih aman. Apapun mereka bawa, mulai dari genteng rumah hingga kayu dibawa. Saung butut juga ikut dibongkar," ujarnya.

"Ada yang ke daerah Batu Korsi, Cibatu, Bojong Pari, Legong. Semua mengevakuasi saking takutnya," kata Gugun menyebut satu per satu daerah dengan rinci.

Ketika tahu kampung sudah kosong, lanjut Gugun, gerombolan itu juga ikut turun gunung menyusul. Malam itu, semua sudah kosong, ada yang bersembunyi di hutan hingga lubang-lubang yang dirasa aman.

"Jadi saking takutnya, semua dibantai apalagi laki-laki. Enggak cuma itu, mereka juga bakar padi milik warga, api itu dua hari dua malam masih menyala," ungkapnya.

"Orang kampung Cicariu, Cibuluh, Pasir Lemo semua lari mengungsi," lanjutnya.

Kalau bapak, ungkap Gugun, dibawa sama keluarga itu ke daerah Legong. Namun, tetap, setiap malam gerombolan iti berkeliling sambil menenteng senjata.

"Memang enggak semua pegang senjata api, sebagian dari mereka ada yang pake senjata tajam buat membantai warga," ungkapnya.

Kelaparan Melanda Warga

Sembari meneguk segelas air putih, Gugun pun kembali meneruskan cerita pengalamannya saat gerombolan merampas harta dan makanan milik warga.

"Kami itu mulai bekerja dari pagi sampai adzan dhuhur, lewat dari itu kami takut. Itu juga terpaksa karena padi kami sudah dirampas gerombolan," tuturnya.

"Enggak cuma padi, semua tanaman mulai dari singkong, pisang sampai umbi-umbian semua dirampas, dicuri sampai kami kelaparan," lanjutnya.

Kondisi kelaparan itu, sambung Gugun, berlangsung selama beberapa tahun. Warga bertahan hidup dengan makan seadanya.

"Apapun kita makan, pucuk daun ubi, daun sintrong kita makan yang penting ada yang masuk ke perut," ucapnya.

Namun, Gugun mengaku masih bersyukur masih bisa makan meski sekadar mengonsumsi dedaunan yang ada di sekitar. 

"Ada warga yang enggak makan sampai tiga hari karena sulitnya mencari makan. Ada yang sampai gak bisa jalan, bahkan hingga meninggal dunia," ujarnya.

"Korban meninggal di Batu Korsi sehari bisa empat sampai lima orang. Ironisnya yang menggali kubur juga kelaparan," sambungnya.

Gugun mengaku, dirinya pun saat berusia 7 tahunan hampir ditangkap gerombolan. Namun, Ayah Naria (sesepuh) bersama puluhan warga datang mencarinya.

"Bapak juga hampir ketangkap, tapi alhamdulillah bapak keburu selamat karena orang tua bapak bersama puluhan warga nyari. Waktu itu gerombolan udah turun, tapi karena lihat banyak Ayah Naria dan puluhan warga mereka langsung mundur," bebernya.

Tumbangnya Gerombolan DI/TII di Gununghalu 

Pasca dilakukannya operasi Pagar Betis di Gununghalu, gerombolan DI/TII pun mulai tumbang. Mereka mulai kesulitan mencari bahan makanan hingga sebagian dari mereka tewas karena kelaparan.

"Perkiraan operasi Pagar Betis di Gununghalu itu beberapa bulan. Jadi gerombolan itu sengaja dibiarkan kelaparan hingga mati di hutan. Tapi sebagian menyerahkan diri," ungkapnya.

"Bahkan dulu tengkorak kepala gerombolan itu ada ditancapkan di sini," sambil menunjuk kandang domba yang berada tepat di samping kanan rumahnya.

Operasi Pagar Betis iti terus berlanjut hingga akhirnya pada 4 Juni 1962 dan iman DI/TII Kartosuwiryo berhasil ditangkap di Gunung Geber, sebuah kawasan pegunungan yang sebelumnya menjadi markas besar pasukan DI/TII.

Penangkapan Kartosuwiryo menjadi titik balik dalam pemberontakan ini, yang pada akhirnya membuat pasukan DI/TII kehilangan arah dan kekuatan mereka.

Operasi Pagar Betis tidak hanya menghasilkan penangkapan Kartosuwiryo, tetapi juga membawa dampak besar bagi stabilitas di Jawa Barat.

Usai pemberontakan DI/TII dihentikan, pemerintah Indonesia berhasil mengembalikan ketertiban dan keamanan di wilayah tersebut.

Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketakutan dan kekacauan kini dapat menjalani kehidupan dengan lebih aman.

"Setelah Pagar Betis berakhir, warga pun kembali ke kampungnya masing-masing dan kembali memulai kehidupan mulai dari nol lagi," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani