Cerita Warga Cibabat saat Detik-detik Pergerakan Tanah Terjadi, Khawatir Kian Meluas
Warga di kawasan Jalan Cihanjuang, Gang Ikras 2, RT04/19 Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi terus dihantui ancaman bencana pergerakan tanah yang terjadi sejak Senin 7 April 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - warga di kawasan Jalan Cihanjuang, Gang Ikras 2, RT04/19 Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi terus dihantui ancaman bencana pergerakan tanah yang terjadi sejak Senin 7 April 2025.
Bahkan, warga terdampak bencana masih mengingat jelas detik-detik bencana pergerakan tanah terjadi pada pagi hari tersebut.
"Warga panik setelah mendengar suara gemuruh dari dalam rumah mereka, sebelum akhirnya menyelamatkan diri ke luar rumah," kata salah seorang warga Hendarsyah (43), Rabu 9 April 2025.
Kemudian, lanjut Hendarsyah, warga yang
terdampak melaporkan bahwa retakan di tanah dan bangunan terjadi secara bertahap, dari yang awalnya kecil hingga semakin membesar.
Menurutnya, pergerakan tanah tersebut menyebabkan beberapa rumah mengalami retak serta kemiringan yang signifikan dan tidak lagi aman untuk ditempati.
"Kejadian ini dipicu kontur tanah yang labil," ucapnya.
Kendati telah memperkuat rumahnya dengan delapan fondasi cakar ayam, ungkap Hendarsyah, bangunannya tetap mengalami pergeseran.
"Katanya, dulunya di sini bekas galian pasir, jadi tanahnya labil," ucapnya.
Hendarsyah mengakui, akibat kondisi bangunan yang miring dengan sebuah lubang di bawah pondasinya, rumah tiga lantai miliknya kini tak bisa dimasuki.
"Masih ada barang-barang di lantai atas yang belum diambil karena takut kalau masuk rumah bisa terjadi sesuatu. Khawatir ambruk," ujarnya.
Warga lainnya, Memen Suhara (72) menceritakan, saat kejadian dirinya tengah bekerja. Kemudian, dirinya mendapat kabar dari adiknya bahwa rumahnya mengalami getaran hebat.
"Di rumah ada istri saya yang sudah tiga tahun mengalami stroke. Saat kejadian, dia digendong keluar oleh adik saya supaya aman," kata Memen.
Memen menyebut, bencana pergerakan tanah ini baru pertama kali terjadi di lingkungan rumahnya. Sebelumnya, kejadian serupa pernah terjadi di wilayah lain yang tidak terlalu jauh.
"Harapan kami, pemerintah bisa memberikan bantuan terkait kondisi rumah yang terdampak," harapnya.
Kini, para warga yang terdampak terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara nya bahkan ada yang mengontrak sementara.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menjelaskan pergerakan tanah ini disebabkan oleh faktor alami, terutama karena lokasi permukiman warga berada di pinggir lereng.
"Hampir 10 rumah terdampak, dengan empat rumah mengalami dampak langsung dan enam rumah lainnya berpotensi terdampak," katanya.
Menurutnya, kondisi tanah terus bergerak, menyebabkan lantai rumah-rumah yang berada di zona terdampak mulai terangkat. Oleh karena itu, BPBD meminta warga untuk melakukan evakuasi mandiri demi keselamatan.
"Potensinya sangat jelas. Kami menyarankan dengan sangat agar warga segera mengungsi dari rumah-rumah yang berisiko," ujarnya.
Fithriandy menyebut, pergerakan tanah ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari intensitas hujan hingga kondisi kontur tanah yang tidak stabil.
"Ini faktor alami. Di daerah lereng seperti ini, seharusnya ada bentuk konstruksi yang lebih khusus agar bangunan bisa lebih kuat," ungkapnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sambung Fithriandy, kondisi rumah-rumah yang terdampak sudah dalam kategori sedang hingga berat.
"Kerusakannya sedang, tetapi rumah-rumah ini sudah tidak bisa ditinggali. Secara fisik, bangunan terlihat miring, retak, dan sangat berisiko," bebernya.
Untuk prosedur pengamanan, BPBD bakal berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk kajian teknis mengenai pembongkaran dan pengamanan bangunan yang terdampak.
"Kami tidak bertindak sendiri. Semua harus dikaji dengan baik sebelum tindakan lebih lanjut dilakukan. Tapi, kami akan tetap berusaha melaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama," tandasnya.***
Editor : JakaPermana

