Menuju Masa Depan Cerah Sepak Bola Indonesia: Peran Strategis Elite Pro Academy dan Sinergi Klub dalam Suksesnya Timnas U-17 ke Piala Dunia 2025
Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), Ferry Paulus, menegaskan bahwa capaian bersejarah ini merupakan buah dari kolaborasi yang erat antara liga, klub, dan sistem pembinaan usia muda di tanah air.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Kesuksesan tim nasional Indonesia U-17 menembus putaran final Piala Dunia U-17 2025 bukanlah hasil dari kerja satu pihak saja.
Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), Ferry Paulus, menegaskan bahwa capaian bersejarah ini merupakan buah dari kolaborasi yang erat antara liga, klub, dan sistem pembinaan usia muda di tanah air.
Dalam keterangannya kepada awak media di Jakarta, Selasa (8/4), Ferry menyoroti pentingnya kompetisi yang berkesinambungan dalam membentuk fondasi kuat bagi para pemain muda Indonesia.
“Tidak semata-mata kita mengklaim ini adalah kontribusi liga, bukan, ini adalah kontribusi bersama, di mana klub mau berkontribusi dan memiliki wadah untuk pemain, sehingga pemain punya latihan fisik bagus karena berkompetisi dengan durasi yang panjang,” ungkap Ferry dikutip dari ANTARA.
Mayoritas pemain yang mengantarkan Garuda Muda ke panggung dunia berasal dari kompetisi Elite Pro Academy (EPA), kompetisi usia muda yang dikelola dengan serius oleh klub-klub Liga 1.
Nama-nama seperti Iqbal Gwijangge, Arkhan Kaka, hingga Althaf Indie telah menjadi wajah dari kesuksesan sistem pembinaan ini.
Hanya segelintir pemain, seperti Torres Aziz, Mathew Baker, dan Aldyansyah Taher, yang tidak berasal dari jalur EPA, namun tetap mampu memberikan kontribusi penting bagi tim.
Ferry menambahkan bahwa pembinaan pemain muda melalui kompetisi EPA telah memiliki standar yang jelas, dengan kualitas kompetisi dan intensitas latihan yang mendukung pembentukan pemain tangguh dan profesional.
“Kalau dibilang standardisasi, standar kita sudah jelas, dengan pemain yang berkompetisi di EPA (Elite Pro Academy) akan terus berkesinambungan untuk menciptakan pemain yang andal,” lanjutnya.
Melihat dampak nyata dari kompetisi EPA terhadap prestasi tim nasional, PT LIB pun berencana memperluas cakupan kompetisi tersebut.
Mulai musim depan, bukan hanya klub Liga 1 yang akan ambil bagian. Klub-klub Liga 2 juga akan diwajibkan memiliki tim usia muda, yang akan turut berkompetisi di berbagai jenjang EPA, termasuk U-16, U-18, dan U-20.
“Musim depan U-20 akan ikut berkompetisi di U-20, kita juga akan menjaring EPA pemain pemain yang istilahnya bisa dimodifikasi dari anak-anak Liga 2. Ada beberapa (klub) Liga 2 yang berminat ikut berkompetisi di EPA. Kalau partisipasi kompetisi lebih banyak, menit bermain lebih banyak, itu sinkronisasi yang diminta PSSI,” jelas Ferry.
Dengan langkah strategis ini, harapannya akan semakin banyak talenta muda yang mendapatkan menit bermain, pengalaman bertanding, dan pengembangan kemampuan yang optimal.
Penambahan jumlah peserta dan kelompok usia di EPA diyakini akan menciptakan ekosistem sepak bola yang lebih kuat, kompetitif, dan terstruktur di seluruh Indonesia.
“Liga 2 wajib U-20, tahun depan wajib U-16 dan U-18, jadi makin banyak yang ikut berkompetisi,” tegasnya.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan

