Chikungunya Turun, Dinkes Jabar Tetap Gencarkan Sosialisasi 3M Plus dan Kuatkan Fasilitas Layanan Kesehatan

Secara nasional, Provinsi Jawa Barat mengalami lonjakan kasus yang signifikan pada 2025 ini untuk penyakit Chikungunya.

Chikungunya Turun, Dinkes Jabar Tetap Gencarkan Sosialisasi 3M Plus dan Kuatkan Fasilitas Layanan Kesehatan

INILAHKORAN, Bandung - Secara nasional, Provinsi Jawa barat mengalami lonjakan kasus yang signifikan pada 2025 ini untuk penyakit Chikungunya.

Sejak Januari-November 2025, terjadi 4.848 kasus atau naik tiga kali lipat ketimbang 2024 lalu, yang sebanyak 1.271 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar Raden Vini Adiani Dewi menuturkan, kasus Chikungunya tertinggi terjadi pada Juni 2025, yakni sebanyak 1.037 kejadian.

Namun kini lanjut Vini, dari data Dinkes Jabar sudah relatif turun. Di mana per November hanya terjadi 26 kasus Chikungunya.

"Saat ini sudah menurun, jika dibandingkan bulan April, Mei, Juni," ujar Vini dalam keterangannya, Minggu 30 November 2025.

Tingginya kasus Chikungunya di Jabar kata dia, karena dipengaruhi musim hujan yang membantu percepatan pengembangbiakan nyamuk vektor Chikungunya, yakni Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.

Kurang baiknya sanitasi dan drainase di kawasan permukiman, memicu banyaknya genangan air yang menjadi sumber berkembangbiaknya nyamuk.

"Interaksi dan mobikisasi manusia sangat tinggi. Sehingga jika vektornya nyamuknya dalam jumlah banyak dan ada penderita, penularan bisa cepat terjadi," ucapnya.

Kasus Chikungunya tertinggi di Jabar lanjut Vini terjadi di Kabupaten Subang sebanyak 1.272 kasus, Kabupaten Bandung 749 kasus dan Kabupaten Tasikmalaya 303 kasus.

"Penyebabnya akibat cuaca, mobilitas penduduk, banyaknya breeding place vector pendukung Chikungunya. Namun selain itu, karena pendataan yang lebih akurat dan surveilans aktif yang dilakukan petugas kesehatan, juga meningkatkan pencatatan dan pelaporan kasus Chikungunya di Puskesmas," katanya.

Guna menekan kasus Chikungnya, Vini mengatakan Dinkes Jabar bersama kabupaten/kota akan terus melakukan surveilans dan pengendalian faktor risiko terutama di daerah yang dianggap darurat potensi wabah.

Selain itu, sosialisasi gerakan 3M plus, menguras, menutup dan mendaur ulang tempat penampungan air terus digencarkan.

"Peningkatan kapasitas layanan kesehatan, terutama fasilitas untuk penanganan Chikungunya, termasuk ketersediaan RDT, infus, obat pereda nyeri, serta logistik untuk fogging jika diperlukan," ucapnya. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti