Covid-19 Mengganggu Perekonomian, Jabar Cocok Genjot Sektor Pertanian

Provinsi Jawa Barat dianggap potensial untuk melakukan pengembangan di sektor pertanian. Itu karena wilayahnya ditunjang sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang baik.

Covid-19 Mengganggu Perekonomian, Jabar Cocok Genjot Sektor Pertanian
net

INILAH, Bandung - Provinsi Jawa Barat dianggap potensial untuk melakukan pengembangan di sektor pertanian. Itu karena wilayahnya ditunjang sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang baik.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli mengatakan, ketika pandemi Covid-19 menganggu perekonomian secara global maka sektor pertanian menjadi elemen penting yang kapasitasnya harus ditingkatkan.

"Nah, Jabar sangat cocok mengembangkan bidang tersebut," ujar Rizal Ramli, dalam alam diskusi virtual bertajuk Ngopi (Ngobrol Perkembangan Terkini), belum lama ini.

Menurutnya, dunia termasuk Indonesia sangat membutuhkan sektor pertanian terutama pangan dan sayur-sayuran. Bila pemerintah fokus pada pertanian, maka hal itu bisa mengantisipasi adanya ancaman kelangkaan pangan. 

Menurut Rizal, jika Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dapat melakukan penekanan di sektor pertanian maka pertumbuha ekonomi dapat baik 9 persen. Dengan kapasitas sektor pertanian yang dimiliki Jabar, seharusnya mampu bernegosiasi dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan dana stimulan pengembangan pertanian.

"Sektor pertanian itu risiko (akibat) Covid-19-nya sedikit. Pemerintah harus meningkatkan sektor pangan, apalagi di Jabar banyak lahan. Jadi, fokus ciptakan stabilitas pangan," katanya. 

Selain itu, potensi lainnya tampak dari hadirnya kampus atau universitas ternama di Jabar yang dapat menyokong pengembangan sektor pertanian. Rizal menyebutkan seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Karena itu, jika dikelola serius bukan tidak mungkin pengembangan sektor pertanian di Jabar bakal sukses. 

"Riset di bidang pertanian perlu ditingkatkan karena Jabar memiliki banyak fakultas pertanian yang bagus, IPB, Unpad. Jika berhasil, pasti banyak yang mengikuti," ujarnya.

Rizal Ramli pun menyarankan agar warga Jabar menghilangkan anggapan bahwa lahan di Jabar hanya cocok untuk tanaman tertentu. Pasalnya, dengan pengembangan teknologi pertanian, segala jenis tanaman sebenarnya bisa ditaman dan tumbuh subur.

"Selama ini kita dicekoki ada tanaman yang gak cocok ditanam di Jabar, ini kuno sekali," katanya. 

Dia mencontohkan Israel yang notabene negara gurun namun mampu menjadi  penghasil buah di Timur Tengah. "Kuncinya nutriennya. Apalagi, orang Jabar ini kan kreatif, dari musik, tekstil, dan lain-lain. Kalau kita arahkan ke pertanian atau perikanan pasti bakal kreatif juga," imbuh dia. 

Kendati demikian, Rizal menyampaikan, meskipun mendorong pengembangan sektor pertanian, di sisi lain sektor industri pun tetap harus digenjot. Catatannya, saat sektor pertanian pesat dan efek pandemi Covid-19 mulai berkurang, Jabar bisa menggenjot bidang industri. Industri di Jabar pun sangat berpeluang besar karena berbatasan langsung dengan Jakarta dan Jabodetabek.

Pada kesempatan yang lain, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengakui bahwa sektor pertanian relatif paling sedikit terdampak pandemi Covid-19. Bahkan, dia menyebutkan sektor pertanian sebagai zona ekonomi yang paling tangguh terhadap interupsi Covid-19.

Ridwan Kamil pun menyatakan komitmennya untuk memaksimalkan sektor pertanian dan ketahanan pangan sebagai salah satu program unggulan Jabar ke depan melalui pemanfaatan teknologi digital. 

Diketahui, ketahanan pangan dan pertanian merupakan sektor yang paling sedikit terdampak pandemi Covid-19, itu tampak dari persentase penurunan pertumbuhan ekonomi keduanya yang hanya 0,9 persen dari 4,1 persen.

Sementara sektor yang paling terdampak perekonomiannya oleh pandemi global tersebut adalah sektor jasa dan manufaktur, dengan penurunan dari 7,2 persen menjadi 2,4 persen.

"Sektor pangan dan pertanian terkoreksinya tidak terlalu besar, hanya turun 0,9 persen," ucap Ridwan Kami, beberapa waktu lalu. (Rianto Nurdiansyah) 


Editor : Doni Ramdhani