Cukai Industri Vape Berpotensi Naik 100 Persen
Industri rokok elektrik atau vape di Indonesia kini semakin berkembang. Terbukti dengan terus bertambahnya jumlah pengguna serta pelaku usaha produk tersebut.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Industri rokok elektrik atau vape di Indonesia kini semakin berkembang. Terbukti dengan terus bertambahnya jumlah pengguna serta pelaku usaha produk tersebut.
"Bahkan, ada sekitar 4.500 toko yang saat ini memperjualbelikan vape dan berbagai kelengkapannya. Jumlah itu yang sudah diregistrasikan ke pemerintah, belum lagi yang kecil-kecil dan belum terdaftar,” kata Direktur Utama Vapemagz Indonesia Bernaldi Djemat dalam diskusi bertajuk "Resolusi 2020 I Choose To Be Healthier' di Jalan Gudang Selatan, Bandung, Kamis (5/12/2019).
Bernaldi menuturkan, pada 2018 pendapatan cukai dari vape terhitung senilai Rp1 triliun sedangkan pada 2019 pendapatan cukai berpotensi meningkat 100% hingga Rp2 triliun.
"Terus bertambahnya jumlah pengguna serta pelaku usaha industri vape menyumbang kontribusi industri rokok elektrik untuk kas negara hingga mencapai Rp2 triliun pada 2019," ujarnya.
Menurutnya, di Inggris disediakan toko vape di dalam rumah sakit. Toko vape itu, kata dia, disediakan untuk pasien rumah sakit yang ingin merokok. Jika memang benar berbahaya, ujar dia, tentunya tidak akan ada gerai dekat rumah sakit.
"Mengapa di rumah sakit ada ruangan vape karena banyak orang yang ingin berhenti merokok datang ke rumah sakit. Nah jika sudah pulang ingin merokok lagi, bisa memakai vape untuk alternatif. Kalau tidak disediakan maka orang yang ingin berhenti ini akan mencari rokok lagi," katanya.
Sementara itu, Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto menilai sangat positif dengan adanya pemasukan untuk kas negara dari perdagangan rokok elektrik ini. Pemerintah, harus memberikan perhatian lebih terhadap industri rokok elektrik karena dengan meningkatnya cukai yang kini mencapai 65% tentunya memberikan kontribusi besar.
"Karena perkembangannya cepat, perlu perhatian dari segi perdagangannya, kesehatannya," ujarnya.
Menurut Adisatrya, memang benar banyak berita negatif mengenai vape ini. Namun ada juga berita positif tentang vape tersebut, semisal hasil dari berbagai penelitian bahwa vape 95 persen jauh lebih aman daripada merokok.
"Penelitian itu diadakan di Inggris, namun kita pun jangan telan bulat-bulat, perlu ada riset yang mendalam mengenai hal tersebut. Penelitinya harus dari Indonesia sehingga apapun hasilnya nanti bisa dipertangungjawabkan dengan baik," ucapnya.
Namun kata dia, dari sisi industri inilah yang bisa menjadi pintu agar vape ini diperhatikan. Hal ini dikarenakan makin banyaknya pengguna vape di Indonesia, apalagi dari data yang didapat Indonesia merupakan konsumen rokok terbesar di dunia.
"Industrinya kan bermacam-macam terkait vape ini, dari device alat penghisap, lalu likuid dengan berbagai rasa. Ini juga bisa menjadi industri baru yang bisa dikembangkan di Indonesia dan menyerap investor yang ada," tandasnya. (Okky Adiana)
Editor : Doni Ramdhani

