Daftar Kecamatan di Kabupaten Bandung yang Rawan Longsor dan Banjir Bandang

Badan Geologi mencatat lebih dari 20 kecamatan di Kabupaten Bandung berada dalam zona rawan longsor yang tersebar di wilayah selatan dan timur

Daftar Kecamatan di Kabupaten Bandung yang Rawan Longsor dan Banjir Bandang
Badan Geologi mencatat lebih dari 20 kecamatan di Kabupaten Bandung berada dalam zona rawan longsor yang tersebar di wilayah selatan dan timur

INILAHKORAN.ID - Tragedi longsor di Arjasari menjadi pengingat bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap pergerakan tanah. 

Badan Geologi mencatat lebih dari 20 Kecamatan di Kabupaten Bandung berada dalam zona rawan longsor yang tersebar di wilayah selatan dan timur.

Kondisi topografi yang dikelilingi pegunungan membuat ancaman bencana begitu besar, terutama saat curah hujan meningkat.

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa hujan dengan durasi panjang bisa mengaktifkan kembali gerakan tanah lama.

Menurutnya, wilayah yang berada dekat alur sungai, lereng terjal, hingga daerah yang mengalami gangguan stabilitas tanah, menjadi kawasan yang sangat rentan.

Ia menyebutkan bahwa wilayah seperti Arjasari, Banjaran, Cangkuang, Cimaung, Cimenyan, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Majalaya, Pasirjambu, Rancabali, dan Soreang tergolong dalam kategori menengah hingga tinggi dengan potensi banjir bandang atau aliran bahan rombakan.

"Sementara sebagian lainnya seperti Baleendah, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Ciparay, Kutawaringin, Margaasih, Nagreg, Pameungpeuk, Pangalengan, dan Paseh berada dalam kategori menengah hingga tinggi," katanya, Senin (8/12/2025).

Selain berada di lereng perbukitan yang curam, banyak permukiman warga berdiri di kawasan yang tidak sepenuhnya memenuhi kaidah keselamatan geologi. 

Tanah lapuk yang mudah jenuh air, sistem drainase lingkungan yang kurang mendukung, serta pembangunan yang kadang mengabaikan kondisi kontur, membuat ancaman longsor semakin nyata.

Lana mengatakan bahwa satu saja pemicu seperti hujan ekstrem dapat menyebabkan gerakan tanah tiba-tiba terjadi. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah meningkatkan upaya mitigasi dan edukasi kepada masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa upaya pencegahan perlu dilakukan secara terpadu dan tidak menunggu bencana besar terjadi kembali.

"Masyarakat yang tinggal di daerah rawan diimbau untuk selalu memperhatikan tanda-tanda alam. Jika muncul retakan tanah baru, pintu rumah tiba-tiba sulit ditutup, atau drainase berubah menjadi keruh dan deras, maka warga diminta segera melapor kepada perangkat setempat atau BPBD," kata dia.

"Bahkan, jika intensitas hujan meningkat, warga diminta lebih baik mengungsi ke tempat yang lebih aman sebelum terjadi bencana," sambungnya.

Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah dengan intensitas bencana geologi tertinggi di Jawa Barat. Karena itu, Lana mengingatkan bahwa keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan dan penataan ruang di wilayah ini.***


Editor : Bsafaat