Dago Macet Akhir Pekan, Pakar ITB: Perlu Perencanaan Terpadu untuk Wisata dan Warga

Kawasan wisata Dago Kota Bandung kembali menjadi sorotan akibat macet yang kerap terjadi pada akhir pekan dan hari libur. 

Dago Macet Akhir Pekan, Pakar ITB: Perlu Perencanaan Terpadu untuk Wisata dan Warga
Jalan-jalan utama Dago (Jalan Ir H Djuanda) yang dipenuhi restoran, kafe dan pusat belanja kerap tersendat dan macet puluhan menit membuat pengunjung dan warga setempat frustrasi. (adam husein)

INILAHKORAN.ID - Kawasan wisata Dago Kota Bandung kembali menjadi sorotan akibat macet yang kerap terjadi pada akhir pekan dan hari libur. 

Jalan-jalan utama Dago (Jalan Ir H Djuanda) yang dipenuhi restoran, kafe dan pusat belanja kerap tersendat dan macet puluhan menit membuat pengunjung dan warga setempat frustrasi.

Pengamat tata kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Frans Ari Prasetyo menilai, situasi macet Dago itu seharusnya bisa dikendalikan melalui perencanaan yang tepat dan intervensi infrastruktur berbasis data.

“Strategi pengurangan macet Dago itu tidak bisa hanya berupa pembangunan jalan baru. Semua intervensi harus selaras dengan RDTD (rencana detail tata ruang) Kota Bandung dan memperhatikan kenyamanan warga serta akses wisatawan,” kata Frans, Selasa 3 Februari 2026.

Menurutnya, pendekatan teknokratis perlu dipadukan dengan perencanaan mikro yang mempertimbangkan aktivitas sehari-hari warga dan ekonomi lokal. 

Dago yang termasuk dalam subwilayah Cibeunying, harus mematuhi ketentuan zonasi dan fungsi lahan setiap kali ada perubahan infrastruktur.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengacu pada rencana tata bina lingkungan (RTBL). RTBL menjadi panduan untuk menentukan lokasi parkir, jalur pejalan kaki hingga area shuttle wisata. 

“Harus memastikan wisatawan nyaman datang, tapi warga tidak merasa terganggu. Pemerintah juga perlu mengantisipasi risiko gentrifikasi, dan dampak sosial lain yang mungkin muncul,” ucapnya.

Strategi lain yang dianjurkan termasuk manajemen kunjungan. Beberapa opsi yang dapat dikaji adalah kuota kendaraan, jam kunjungan terbatas dan penyediaan shuttle wisata dari area parkir di pinggiran kawasan. Langkah tersebut, diharapkan mampu mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalan utama.

Dago juga diakuinya memiliki peran penting dalam perekonomian lokal. Kawasan tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) dan ekonomi masyarakat sekitar. 

Namun, Frans menekankan manfaat tersebut harus diseimbangkan dengan pengelolaan eksternalitas negatif seperti kemacetan dan ketimpangan sosial.

“Intervensi tanpa perencanaan matang bisa berdampak ekstrem, mulai dari penyingkiran warga lokal hingga kemacetan yang lebih parah,” ujarnya.

Pemerintahan Kota Bandung sebenarnya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Termasuk pemanfaatan data kepadatan kendaraan real-time, dan integrasi transportasi publik berbasis aplikasi. 

Target jangka panjangnya, Pemkot Bandung menjadikan Dago kawasan wisata yang nyaman, tertata dan berkelanjutan tanpa mengorbankan kenyamanan warga.

“Ini bukan sekadar soal jalan raya. Ini soal bagaimana kota bisa hidup harmonis dengan warganya dan tetap menarik bagi pengunjung,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani