Dampak Longsor Cisarua, MTs Yabis Pasirlangu jadi Tempat Logistik dan Jenazah

Sebanyak 80 jiwa menjadi korban longsor Cisarua KBB. Selain menghancurkan rumah, bencana itu juga melumpuhkan aktivitas warga, termasuk sekolah.

Dampak Longsor Cisarua, MTs Yabis Pasirlangu jadi Tempat Logistik dan Jenazah
Salah satunya MTs Yabis Pasirlangu. Sejumlah fasilitasnya digunakan sebagai posko logistik dan lokasi pemulasaraan jenazah korban longsor Cisarua. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 80 jiwa menjadi korban longsor Cisarua KBB. Selain menghancurkan rumah, bencana itu juga melumpuhkan aktivitas warga, termasuk sekolah.

Salah satunya MTs Yabis Pasirlangu. Sejumlah fasilitasnya digunakan sebagai posko logistik dan lokasi pemulasaraan jenazah korban longsor Cisarua.

Pimpinan Yayasan Bina Insah Sejahtera Jajang Darmawan mengatakan, pembelajaran di MTs Yabis Pasirlangu terpaksa berjalan secara daring selama hampir dua pekan akibat penggunaan bangunan untuk penanganan korban longsor Cisarua

Kondisi serupa juga dialami sejumlah madrasah dan sekolah lain yang berada di wilayah terdampak atau dijadikan lokasi pengungsian.

"Sekitar enam ruang kelas, satu masjid, dan satu madrasah tidak bisa dipakai karena masih digunakan untuk penanganan korban," kata Jajang, Senin 2 Februari 2026.

Menurutnya, penggunaan ruang belajar dan tempat ibadah untuk proses pemulasaraan berpotensi meninggalkan dampak psikologis mendalam bagi siswa dan santri. 

"Bila belajar kembali dilakukan di tempat yang sama, anak-anak bisa merasakan trauma dan ketakutan, terutama mereka yang melihat langsung peristiwa tersebut," tuturnya.

Sebagai langkah pemulihan, terang Jajang, pihaknya berharap mendapatkan bantuan rehabilitasi fasilitas pendidikan, minimal perbaikan atau bahkan revitalisasi total agar siswa tidak lagi teringat momen traumatis. 

"Selain itu, kehadiran tim psikologis untuk trauma healing juga diharapkan agar kondisi mental anak-anak bisa pulih dan pembelajaran bisa segera berjalan seperti biasa," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar yang mengunjungi lokasi pada Minggu 1 Februari 2026 berjanji bakal mendata seluruh rumah ibadah, madrasah, hingga pegawai Kementerian Agama yang terdampak. 

"Kami akan mencatat jumlah fasilitas dan tenaga yang terpengaruh sesuai kapasitas kami untuk memberikan bantuan," ucapnya.

Hingga saat ini, operasi pencarian korban masih berlanjut dengan 6 orang masih dalam status hilang. Sebanyak 57 jenazah telah teridentifikasi, sedangkan 16 lainnya masih dalam proses identifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI). 

Sebelumnya, puluhan anak terdampak juga telah mengikuti kegiatan trauma healing yang digelar bersama Pemprov Jabar.


Editor : Doni Ramdhani