Dari Raja Eropa ke Mimpi yang Pupus, Ancelotti Gagal Bersama Brasil

Debut Carlo Ancelotti di Piala Dunia 2026 berakhir pahit setelah Brasil tersingkir di babak 16 besar. Rekam jejak gemilangnya kini menjadi sorotan.

Dari Raja Eropa ke Mimpi yang Pupus, Ancelotti Gagal Bersama Brasil
Debut Carlo Ancelotti di Piala Dunia 2026 berakhir pahit setelah Brasil tersingkir di babak 16 besar. Rekam jejak gemilangnya kini menjadi sorotan.

INILAHKORAN.ID - Carlo Ancelotti datang ke Brasil dengan reputasi yang nyaris tanpa cela. Pelatih asal Italia itu telah menaklukkan kompetisi elite Eropa, mengoleksi puluhan trofi, hingga menjadi satu-satunya pelatih yang mampu menjuarai lima liga top Eropa. Namun, catatan emas tersebut gagal berlanjut di panggung Piala Dunia 2026.

Brasil harus mengakhiri langkahnya di babak 16 besar setelah takluk 1-2 dari Norwegia di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (6/7/2026) dini hari WIB.

Kekalahan itu menjadi noda pertama dalam perjalanan Ancelotti bersama Selecao sekaligus mengundang tanda tanya besar tentang proyek yang dibangunnya.

Harapan publik Brasil terhadap Ancelotti memang sangat tinggi. Saat ditunjuk sebagai pelatih pada 2025, dia diharapkan mampu mengakhiri penantian panjang Brasil meraih gelar Piala Dunia yang terakhir kali diraih pada 2002. Pengalaman dan prestasinya di level klub menjadi modal utama untuk mengembalikan kejayaan Selecao.

Reputasi Mentereng Ancelotti

Ancelotti bukan pelatih sembarangan. Kariernya dimulai bersama Reggiana sebelum menangani Parma dan Juventus. Namanya kemudian melambung saat memimpin AC Milan meraih dua gelar Liga Champions dan satu Scudetto.

Kesuksesan itu berlanjut di Chelsea dengan meraih gelar Liga Inggris dan Piala FA, kemudian membawa Paris Saint-Germain kembali menjadi juara Ligue 1 setelah penantian panjang.

Puncak kariernya terjadi bersama Real Madrid. Dalam dua periode kepelatihannya, Ancelotti mempersembahkan empat trofi Liga Champions, dua gelar La Liga, serta berbagai trofi domestik dan internasional. Dia juga mencatat sejarah sebagai pelatih pertama yang menjuarai kompetisi liga di Italia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol.

Deretan prestasi tersebut membuat Brasil yakin Ancelotti adalah sosok yang tepat untuk memimpin generasi baru Selecao yang dihuni Neymar, Vinicius Junior, Rodrygo, hingga Endrick.

Keputusan Ancelotti Jadi Sorotan

Namun, kenyataan di Piala Dunia 2026 berkata lain. Brasil gagal memanfaatkan sejumlah peluang, bahkan menyia-nyiakan penalti pada babak pertama sebelum akhirnya dihukum dua gol Erling Haaland. Gol Neymar pada masa injury time hanya mampu memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2.

Sebelum laga, keputusan-keputusan Ancelotti sempat menjadi sorotan. Pemilihan Gabriel Martinelli sebagai starter, strategi yang dinilai gagal membendung Haaland, hingga minimnya perubahan taktik selama pertandingan menjadi bahan kritik para pendukung Brasil.

Kegagalan tersebut memang belum menghapus reputasi Ancelotti sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang sejarah. Namun, pelatih berusia 67 tahun itu harus menghadapi tekanan besar sebagai arsitek tim nasional yang gagal memenuhi ekspektasi di turnamen paling bergengsi dunia. ***


Editor : Gin gin T Ginulur