DAS Cimanuk Menyusut, Masyarakat Mengeluh Bau Tak Sedap

Menjelang memasuki musim hujan, ketinggian permukaan air pada lintasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk sekitar Pos Duga Air Otomatik Leuwidaun Kelurahan Paminggir Kecamatan Garut Kota saat ini hanya mencapai sekitar  0,81 meter.  

DAS Cimanuk Menyusut, Masyarakat Mengeluh Bau Tak Sedap
foto: INILAH/Nulzainul

INILAH, Garut-Menjelang memasuki musim hujan, ketinggian permukaan air pada lintasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk sekitar Pos Duga Air Otomatik Leuwidaun Kelurahan Paminggir Kecamatan Garut Kota saat ini hanya mencapai sekitar  0,81 meter.  

“Padahal ketinggian air pada kondisi relatif normal itu mencapai 1,7 meter,” kata Mandor Pos Duga Air Otomatik Leuwidaun Solihin (56),  Selasa (29/10).

Susutnya debit air sungai Cimanuk membuat pencemaran  beragam sampah, dan limbah tampak mencolok. Kondisi air keruh kehitam-hitaman dengan menimbulkan bau tak sedap, serta aneka jenis sampah menyangkut di banyak tempat.

Buruknya kondisi air Cimanuk semakin tampak memasuki kawasan Bendung Copong. Kendati begitu, pada arah hilir sungai, banyak masyarakat masih memanfaatkan air sungai Cimanuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Mereka bahkan tak segan mandi di kubangan air di tengah gundukan pasir sarat limbah, dan sampah.

Ketinggian permukaan air sungai Cimanuk pernah mencapai hanya sekitar lima centimeter dengan debit air sekitar 750 liter per detik. Hal itu terjadi pada puncak musim kemarau panjang pada 2015 lalu.

Susutnya debit air pada lintasan DAS Cimanuk di kawasan Kota Garut tersebut antara lain karena susutnya debit air pada sungai pemasok daerah irigasi teknis, seperti Cipacing, Cipeujeuh, dan Cimaragas.

Kendati kondisi air permukaannya susut drastis, Solihin mengingatkan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi aliran sungai Cimanuk menjelang pergantian musim kemarau ke musim hujan sekarang ini.

Pasalnya, sungai terbesar di Kabupaten Garut itu juga pernah dilanda banjir bandang hebat pada 2016 dengan puncak ketinggian permukaan air mencapai 8-12 meter berkecepatan sekitar 50 kilometer per jam. Dampak kerusakan ditimbulkannya pun luar biasa. Puluhan nyawa melayang, ribuan warga kehilangan tempat tinggal, dan berbagai bangunan serta fasilitas umum rusak berat.(zainulmukhtar)

 


Editor : JakaPermana