Dedie A Rachim Sebut Kolaborasi Pelaku Kreatif Dibutuhkan untuk Perkuat Visi Bogor City of Gastronomy

Sebagai kota yang kaya akan kuliner, memiliki banyak pelaku ekonomi kreatif (ekraf) dan didukung kemudahan dalam berinvestasi, ini menjadi modalitas awal untuk memperkuat langkah menuju Bogor City of Gastronomy tidak hanya di Jawa Barat tapi juga di Indonesia.

Dedie A Rachim Sebut Kolaborasi Pelaku Kreatif Dibutuhkan untuk Perkuat Visi Bogor City of Gastronomy
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menuturkan, para pelaku ekraf, pengusaha, pengusaha media promosi, pemerintah serta berbagai stakeholder lainnya berkumpul menggelar sebuah diskusi bersama iDEA Friends yang digelar Ideafest di Samsara, Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor, Rabu 11 Juni 2025. (istimewa)

INILAHKORAN, Bogor - Sebagai kota yang kaya akan kuliner, memiliki banyak pelaku ekonomi kreatif (ekraf) dan didukung kemudahan dalam berinvestasi, ini menjadi modalitas awal untuk memperkuat langkah menuju Bogor City of Gastronomy tidak hanya di Jawa Barat tapi juga di Indonesia.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menuturkan, para pelaku ekraf, pengusaha, pengusaha media promosi, pemerintah serta berbagai stakeholder lainnya berkumpul menggelar sebuah diskusi bersama iDEA Friends yang digelar Ideafest di Samsara, Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor, Rabu 11 Juni 2025.

"Dalam diskusi saya menyampaikan bahwa topik Bogor City of Gastronomy ini merupakan sebuah upaya untuk menguatkan kuliner yang ada di Bogor agar lebih dikenal lagi di tingkat nasional maupun internasional," ungkap Dedie kepada wartawan pada Kamis 12 Juni 2025.

"Bogor itu punya banyak sekali kekayaan kuliner, laksa, soto kuning, sop buntut, asinan, doclang, toge goreng, roti unyil, cungkring dan masih banyak lagi. Modalitas inilah yang kemudian kami coba kapitalisasi, kami jadikan sebagai branding Kota Bogor ke depan," tambah Dedie.

Dedie menjelaskan, sehingga Bogor City of Gastronomy akan diingat  sebagai kota yang memiliki kekayaan kuliner yang spesifik.

"Selain modalitas kekayaan kuliner, Bogor juga memiliki modalitas kemudahan berinvestasi dengan adanya pelayanan terpadu yang ditempatkan dalam Mal Pelayanan Publik yang bisa melayani 144 perizinan," jelasnya.

Dedie mengungkapkan, bahwa iklim investasi di Kota Bogor terus berkembang positif, bahkan saat pandemi Covid-19 para pengusaha muda mengajukan izin usaha baru yang jumlahnya mencapai 500 pengajuan.

"Jadi sebuah kota itu bukan sebuah kumpulan dari gedung saja. Sebuah kota itu harus ada jiwanya. Jadi kumpulan dari orang-orang kreatif, orang-orang yang punya kepedulian, punya satu keinginan, kita kumpulkan menjadi sebuah entitas yang nantinya akan mendukung Bogor City of Gastronomy," tuturnya.

Dedie menjelaskan, keberadaan universitas di Kota Bogor juga diharapkan bisa mendukung konsep tersebut. Dilihat dari jurnal penelitian, ada beberapa penelitian yang dilakukan bahwa Kota Bogor merupakan Kota Gastronomi.

Di antaranya penelitian Dhanik Puspita Sari dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor Indonesia, Program Studi S1 Pariwisata. Ia membuat penelitian Strategi Pengembangan Wisata Gastronomi di Kota Bogor, Jawa Barat. Penelitiannya membahas tentang wisata gastronomi yang menjadi minat khusus bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor.

Kemudian ada juga penelitian dari Kania Sofiantina dari Sekolah Vokasi IPB University dan Annisa yang membahas tentang The Traditional Program in Bogor City, West Java, Based on Tourist Preferences. 

Founder of Joongla Farah Mauludynna juga bercerita, bahwa Joongla sempat mengikuti forum internasional berkaitan dengan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) serta The World Economic Forum yang salah satu pembahasannya yakni gastronomi akan menjadi the next ekonomi yang berkembang.

"Saya pun kaget saat menerima undangan untuk hadir dalam kegiatan gastronomi di Bogor. Ketika dikontak teman-teman penyelenggara, Bogor mau menjadi bagian dari UCCN, karena memang pengetahuan tentang gastronomi ini belum begitu luas, sehingga masyarakat atau market harus terus diedukasi," ungkapnya.

Secara singkat, Farah menyebut gastronomi yaitu tentang bagaimana proses pembuatan makanan dari berbagai macam aspek, seperti geografi, antropologi, sosiologi, yang gambaran mudahnya bisa dilihat dari keberadaan tumpeng yang memiliki jejak filosofi, tradisi, budaya, dan sejarahnya.

"Bahwa kota-kota di dunia, termasuk di Asia, telah banyak yang mendeklarasikan sebagai kota gastronomi. Di mana dalam satu kota itu memiliki kuliner yang sejak bahan baku sampai hasil akhirnya bisa dilacak atau bisa dilihat langsung yang dikombinasikan dengan narasi sejarahnya," jelasnya.

Berkaitan dengan Kota Bogor yang akan menuju Kota Gastronomi, ia pun menanggapi positif kepemimpinan Dedie Rachim yang sangat visioner. Sebab menurutnya semua dimulai dengan cinta dan keberanian.


Editor : Doni Ramdhani