Diguyur Hujan, Tumpukan Limbah Batu Bara Cemari Sumur dan Lahan Sawah Warga Desa Cihampelas

Pencemaran lingkungan akibat tumpukan ratusan karung limbah batu bara yang dibuang di Jalan Irigasi, Kampung Rongga, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai dirasakan warga sekitar.

Diguyur Hujan, Tumpukan Limbah Batu Bara Cemari Sumur dan Lahan Sawah Warga Desa Cihampelas
Pencemaran lingkungan akibat tumpukan ratusan karung limbah batu bara yang dibuang di Jalan Irigasi, Kampung Rongga, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai dirasakan warga sekitar./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Pencemaran lingkungan akibat tumpukan ratusan karung limbah Batu Bara yang dibuang di Jalan Irigasi, Kampung Rongga, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai dirasakan warga sekitar.

Pasalnya, limbah batu bara jenis material sisa pembakaran atau fly ash dan bottom ash (FABA) ini dilaporkan meresap ke sumur warga sehingga air berubah keruh kehitaman usai diguyur hujan deras dalam sepekan terakhir.

Khawatir mengalami dampak negatif, masyarakat pun memilih untuk tidak menggunakan air sumur tersebut untuk konsumsi air minum.

"Sudah ada satu sumur warga yang tercemar. Ini karena beberapa hari ke belakang hujan deras sehingga meresap masuk ke sumur," kata Ketua RW 06 Desa Cihampelas, Asep Kusumah saat dikonfirmasi, Kamis 7 November 2024.

Tak hanya mencemari sumur, hujan yang mengguyur itu mengakibatkan limbah B3 ini ikut terbawa ke lahan sawah dan kebun palawija milik masyarakat. 

Hal ini juga membuat para petani harap-harap cemas terhadap nasib tanaman yang mereka budidayakan.

"Kondisi tumpukan limbah terbuka jadi ketika hujan tergerus masuk sawah dan terbawa ke irigasi. Airnya keruh masyarakat khawatir akan berdampak pada padi dan kesuburan tanah," paparnya.

Sebelumnya, warga Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, dibuat resah oleh aktivitas pembuang limbah batu bara di sepanjang Jalan Irigasi Kampung Rongga. 

Sebelumnya, limbah tersebut memicu polusi debu di musim kemarau dan berpotensi mencemari perairan serta lahan pertanian sawah saat hujan turun. 

Limbah tersebut diangkut dari kawasan industri Batujajar dan Padalarang menggunakan mobil dump truck dengan jumlah ritase antara 10-15 kali dalam sehari. 

Parahnya lagi, limbah tersebut ditumpuk begitu saja di pinggir Jalan Irigasi tanpa melalui proses pengolahan. Kondisinya membentuk gundukan berwarna hitam atau dikemas dalam ratusan karung 25 kilogram di jalan sepanjang 1 kilometer. 

Salah seorang warga setempat, Suprianto (63) mengaku para warga di Kampung Rongga sudah merasakan dampak keberadaan limbah yang diduga batu bara itu.

"Waktu hujan beberapa waktu kemarin airnya berubah warna jadi hitam. Kemudian saat kemarau debu limbahnya cukup tebal dan membuat anak-anak terkena flu dan radang tenggorokan," kata Suprianto kepada wartawan.

Suprianto menyebut, limbah yang diduga batu bara itu dibuang ke kawasan pertanian sejak dua bulan terakhir. Di awal, hampir setiap hari dump truk kerap hilir mudik mengangkut limbah-limbah tersebut, sehingga membuat warga khawatir.

"Udah dua bulan, setiap hari dump truk itu bisa sampai 15 hingga 16 kali buang limbah. Tapi belum tahu siapa dan darimana truk-truk itu," ucapnya.*** 


Editor : JakaPermana