Dikira Batu Akik, Ternyata Fosil Gajah 1,5 Juta Tahun
Unang Herman masih ingat betul. Warga Desa Cikawung, Kabupaten Indramayu, berusaha membawa benda itu pulang. Dia berpikir, itu batu akik yang bisa dipecah dan diasah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Indramayu – Unang Herman masih ingat betul. Warga Desa Cikawung, Kabupaten Indramayu, berusaha membawa benda itu pulang. Dia berpikir, itu batu akik yang bisa dipecah dan diasah.
“Benda itu dibiarkan saja di lembah. Baru diangkat dan dibawa pulang setelah ada keinginan untuk dibuat batu akik,” katanya di Indramayu, Kamis (16/1).
Siapa nyana, benda itu ternyata fosil gajah purba. Sering juga disebut stegodon. “Masyarakat di sini tidak tahu kalau itu fosil,” kilahnya.
Fosil hewan vertebrata jenis stegodon atau gajah purba itu ditemukan warga di lembah Sungai Cilalanang, Dusun Ciwado, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.
Unang mengatakan menemukan fosil hewan tersebut saat melakukan aktivitas di sekitar obyek wisata alam Ciwado.
Awalnya, Unang membiarkan temuan tersebut berserak di atas tanah. Namun, temuan tersebut diambil dan dibawa pulang ke rumahnya karena ada keinginan untuk digosok menjadi batu akik. “Tapi tidak sempat saya buat akik dan disimpan di pos wisata Ciwado,” ujarnya.
Unang menuturkan dirinya baru tahu setelah ada seorang fotografer asal Jakarta yang berkunjung memberi tahu bahwa temuannya itu merupakan fosil.
Di melanjutkan karena ketidaktahuan masyarakat, banyak warga yang menjadikan fosil tulang berukuran panjang dijadikan tungku untuk memasak di dapur.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu Dedy S Musashi mengatakan fosil gajah purba yang ditemukan warga itu langsung diamankan ke tempat yang aman, agar terhindar dari para pemburu fosil ilegal.
“Saat ini fosilnya kita amankan dahulu di lokasi yang aman, agar terhindar dari buruan pemburu fosil ilegal,” kata Dedy.
Dedy menuturkan fosil gajah purba yang ditemukan ini memiliki panjang 32 centimeter dan lingkar tulang 22 centimeter.
Dedy menambahkan setelah adanya informasi temuan tersebut, TCB Indramayu langsung konsultasi dengan DR Lutfi Yondri, peneliti utama di Balai Arkeologi Bandung. Dari keterangannya dapat dipastikan sebagai fosil hewan vertebrata jenis stegodon atau gajah purba.
Setelah mendapatkan informasi ditemukannya fosil tulang hewan vertebrata, tim TACB Indramayu bersama Kasi Cagar Budaya Disparbud Kabupaten Indramayu Tinus Suparto, menyusur ke lokasi sekitar temuan dengan radius 1 kilometer.
“Dari hasil survei awal, kami juga menemukan serpihan tulang dan taring hewan, termasuk banyak ditemukan molusca yang banyak menempel di dinding batu,” ujarnya.
Terkait dengan temuan tersebut, TACB Kabupaten Indramayu sudah melaporkan kepada Balar Bandung dan Balai Pelestarian Cagar Budaya di Banten. Dari laporan ini akan ditindaklanjuti ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.
Mengenai usia fosil tersebut, Dedy mengaku tidak dapat menduga-duga karena diperlukan penelitian lanjutan yang melibatkan disiplin ilmu Paleontologi dan geologi.
“Namun, berdasarkan literasi yang ada menyebutkan masa hidup gajah purba diperkirakan pada masa pleistocen awal atau sekitar 1,5 juta tahun yang lalu,” tambahnya. (ant/ing)
Editor : Bsafaat

