Disbudpar Cirebon: Kesenian Gembyung Hampir Punah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon menyebut kesenian tradisional Gembyung berada dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian karena berdasarkan catatan dinas keberadaannya hampir punah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Disbudpar kembali menampilkan kesenian Gembyung di hadapan generasi muda dalam rangkaian Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon di halaman Museum Cakrabuana, Kamis (1/10).
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, R. Moh. Al Bana mengatakan, Gembyung merupakan salah satu kesenian tradisional asli Kabupaten Cirebon yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Kita akan menyaksikan kesenian Gembyung yang merupakan kesenian tradisional asli Kabupaten Cirebon, yang memang menurut catatan kami hampir punah. Sehingga pada ajang ini kita tampilkan, kita perkenalkan kepada adik-adik selaku generasi muda,” kata Al Bana.
Selain Gembyung, Disbudpar juga menampilkan kesenian Tarling Klasik sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali seni tradisional Cirebon kepada pelajar.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 50 pelajar SMA se-Kabupaten Cirebon mengikuti Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon. Para peserta membacakan puisi menggunakan bahasa Cirebon sekaligus menampilkan kemampuan dalam mengekspresikan sastra daerah.
Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno melalui Sekretaris Disbudpar Juju Juhariah mengatakan, bahasa Cirebon merupakan bagian dari kekayaan budaya sekaligus identitas masyarakat yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Bahasa Cirebon merupakan bagian dari kekayaan budaya dan jati diri masyarakat Cirebon yang perlu terus dikenalkan, dicintai, dan dilestarikan, khususnya oleh generasi muda,” ujar Juju.
Menurutnya, puisi dapat menjadi salah satu media untuk mendekatkan pelajar dengan bahasa dan sastra daerah.
“Melalui puisi, para pelajar tidak hanya belajar menggunakan bahasa Cirebon, tetapi juga belajar menghayati, mengekspresikan, dan menghargai keindahan bahasa serta sastra daerah,” katanya.
(maman suharman)
Editor : Inilahkoran

