Disdik Jabar Siapkan Barak Militer untuk Pelaku Pengeroyokan Pelajar Cirebon

Disdik Jabar menyiapkan barak militer untuk para pelajar pelaku pengeroyokan di Cirebon

Disdik Jabar Siapkan Barak Militer untuk Pelaku Pengeroyokan Pelajar Cirebon
Kepala Disdik Jabar Purwanto

INILAHKORAN.ID - Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menyiapkan opsi pembinaan di barak militer bagi dua pelajar SMK Nusantara Weru, yang ditetapkan sebagai pelaku pengeroyokan terhadap siswa SMKN 1 Cirebon.

Namun, langkah tersebut baru dapat dilakukan setelah proses hukum yang ditangani kepolisian selesai dan mendapat persetujuan orang tua atau wali murid.

Kepala Disdik Jabar Purwanto mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil penanganan kepolisian terhadap kasus yang terjadi di wilayah Plered, Kabupaten Cirebon tersebut.

Berdasarkan laporan yang diterima Disdik Jabar melalui Kantor Cabang Dinas Pendidikan, korban sedang dalam perjalanan pulang sekolah menggunakan angkutan kota ketika kejadian berlangsung.

"Memang betul ada kejadian seperti itu. Kasusnya setelah diinvestigasi sama cabang dinas, yang sampai ke saya laporannya, anak SMKN 1 itu sedang perjalanan pulang menggunakan angkot," ujar Purwanto, Senin 5 Oktober 2026.

Purwanto menjelaskan, korban kemudian ditarik oleh sejumlah pelajar dari SMK Nusantara Weru. Keributan pun terjadi hingga korban mengalami luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kemudian ditarik oleh anak-anak SMK Nusantara Weru. Terjadilah keributan, dipukulin sehingga anaknya masuk rumah sakit. Korban dari rumah sakit itu sudah pulang," ucapnya.

Atas kejadian tersebut, kepolisian telah memproses dua pelajar yang diduga terlibat sebagai pelaku pengeroyokan.

Disdik Jabar, kata Purwanto, menghormati proses hukum yang sedang berlangsung. Setelah proses tersebut tuntas, pihaknya membuka kemungkinan memberikan pembinaan khusus kepada para pelaku.

"Kalau yang swasta itu kan ada tata tertib sekolahnya. Mengikuti tata tertib sekolah. Tapi pada prinsipnya, kita sudah komunikasi sama orang tuanya. Mereka akan dipersiapkan, jika diizinkan oleh orang tuanya, mengikuti pembinaan di kita," katanya.

Menurut Purwanto, program pembinaan di barak militer tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh pemerintah. Selain menunggu penyelesaian perkara, pelaksanaannya harus mendapat persetujuan dari orang tua serta mempertimbangkan proses hukum yang sedang berjalan.

"Rencananya kalau diizinkan oleh kepolisian, proses hukumnya beres. Kalau ini kita menunggu proses hukum seperti apa," ujarnya.

Sementara itu, terkait kemungkinan perdamaian antara keluarga korban dan keluarga pelaku, Purwanto menyebut hingga kini belum ada informasi mengenai kesepakatan tersebut.

Disdik Jabar juga belum mengetahui secara pasti motif di balik pengeroyokan tersebut. Purwanto menduga, insiden itu berkaitan dengan persoalan antarsekolah yang kemudian berdampak kepada pelajar lain.

"Mungkin karena persoalan, biasanya kalau kayak gitu kan persoalan antarsekolah. Jadi anak enggak tahu apa-apa kadang kala jadi korban," katanya.

Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian setelah video aksi perkelahian pelajar di kawasan Plered, Kabupaten Cirebon, viral di media sosial pada Selasa 22 September 2026.

Dalam video yang beredar, sejumlah pelajar terlihat terlibat perkelahian. Beberapa di antaranya tampak membawa benda yang diduga senjata tajam jenis celurit.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi sebelumnya menyatakan pemerintah menyiapkan langkah pembinaan khusus, bagi pelajar yang terbukti terlibat perkelahian.

Menurut Dedi, program pendidikan di barak militer menjadi salah satu opsi untuk membentuk kedisiplinan dan kesadaran pelajar, tetapi tidak menghapus proses hukum apabila perbuatannya memenuhi unsur pidana.

"Mereka yang berkelahi harus mengikuti program pendidikan barak militer untuk membangun jiwa dan kesadarannya. Tapi jika itu tindak kriminal yang mengakibatkan luka-luka, maka proses hukum harus terus berjalan sesuai dengan undang-undang pidana yang mengatur tentang pidana anak di bawah umur," katanya.

Dedi juga meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak di rumah. Menurutnya, pengawasan keluarga menjadi bagian penting dalam mencegah perilaku kenakalan remaja.

"Mohon pada orang tua periksa tas anak-anaknya, periksa kamarnya, periksa lacinya. Saya yakin kalau orang tuanya rajin memeriksa dan bertanya, perilaku anaknya akan ketahuan dan teridentifikasi sejak di rumah," ujarnya. 


Editor : Ahmad Sayuti