INILAH, Bandung - Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Barat 1 Neilmaldrin Noor mengatakan, sepanjang 2019 ini pihaknya menaikkan target penerimaan pajak.
Pada 2018 lalu, dia mengatakan pencapaian pajak di wilayah DJP 1 Jabar mencapai Rp28,34 triliun. Realisasi tersebut terhitung 87,39% dari target sebesar Rp32,43 triliun. Capaian itu diiringi tingkat kepatuhan wajib pajak sebesar 70-80%.
“Sebenarnya, kami masih memiliki ruang memperbaiki pelayanan untuk meningkatkan kesadaran dan meningkatkan wajib pajak. Ini masih sangat luas, dan akan kami gali. Pada tahun 2019 nanti kami menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp34,797 triliun,” kata Neilmaldrin saat Tax Gathering KPP Pratama Bandung Tegallega, Kamis (31/1/2019).
Menurutnya, target angka tersebut optimistis bisa terealisasi. Pasalnya, secara umum wilayah DJP Jabar 1 ini tidak mengalami kendala berarti. Namun, dengan luas wilayah kerja di 16 kabupaten/kota, kantor wilayah ini hanya diperkuat sebanyak 1.600 pegawai.
“Ini sebenarnya tantangan yang harus kami hadapi. Tetapi bagaimana pun, yang kami kedepankan bagaimana mengumpulkan pajak secara optimal tanpa mendistorsi atau mengganggu perekonomian. Lalu, kami akan mengedepankan pelayanan agar wajib pajak bayar tepat waktu,” tuturnya.
Di bagian lain, pihaknya penghargaan dan apresiasi kepada wajib pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bandung Tegallega. Sebab, kontribusi wajib pajak di sana pada 2018 terhitung tertinggi dalam pencapaian target penerimaan yang mencapai Rp1,549 triliun.
“Penghargaan ini sekaligus mengajak wajib pajak untuk lebih mengerti mengenai pentingnya perpajakan. Karena di acara ini juga, kami menjelaskan strategi-strategi tantangan kami di 2019,” ujarnya.
Neilmaldrin merinci, penghargaan diberikan kepada 50 wajib pajak terbesar. Kontributor terbesar KPP Pratama Bandung Tegallega berasal dari Pinus Merah Abadi, Richeese Kuliner Indonesia, dan Dita Dharma Utama.
Adapun lima sektor dominan penerimaan di KPP Pratama Bandung Tegallega pada 2018 itu berasal dari perdagangan besar dan eceran yang berkontribusi sebesar 50,62%. Disusul industri pengolahan (19,88%), pertambangan dan penggalian (6,55%), kegiatan jasa dan lainnya (4,43%), serta penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum (3,32%).