Dua Tsunami Renggut 8 Anggota Keluarga Asal Bogor Ini
Kisah memilukan datang dari keluarga besar H. Alfena Leonard asal Bogor. Dua kali tsunami merenggut para anggota keluarga.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor - Kisah memilukan datang dari keluarga H. Alfena Leonard asal Bogor. Dua kali tsunami merenggut para anggota keluarga.
Tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12) lalu, adalah yang kedua merenggut anggota keluarga Alfena. Sebelumnya, dua anggota keluarga jadi korban tewas akibat tsunami di Provinsi Nangro Aceh Daarussalam (NAD), 2004 lalu.
Salah satu anggota keluarga, Afriani Majid (62) menuturkan pada tahun 2004 lalu adik dan keponakannya yang menjadi korban tsunami di Provinsi NAD. Sementara itu, 6 orang keluarganya meninggal dunia akibat bencana tsunami di Pantai Ciputih, Ujung Kulon, Banten.
"Waktu bencana tsunami di Aceh jasad adik dan keponakan saya hingga kini belum ditemukan, kalau kejadian bencana tsunami di Ujung Kulon, Banten 6 orang anggota keluarga saya masih ditemukan jasadnya dan dimakamkan di Ciluar, Bogor Utara Kota Bogor dan Cisarua serta Sukaraja, Kabupaten Bogor," tutur Afriani kepada wartawan, Jumat (28/12).
Ibu dua orang anak, ini begitu khawatir ketika hendak berlibur ke Pantai Ciputih, Ujung Kulon, Banten. Bahan adiknya, Gristyawati sempat tak ingin berangkat karena takut terjadi hal-hal tak diinginan.
"Gristyawati itu trauma ombak tinggi (tsunami) namun karena keluarga yang lain berangkat sementara cucunya Ludi Tama butuh liburan, akhirnya mereka berangkat dan akhirnya 6 orang meninggal dunia dan 18 orang lainnya mengalami luka ringan, sedang dan berat," terangnya.
Dharmastowo suami dari Gristyawati mengungkapkan, selain kehilangan istri dan dua orang adiknya, dirinya kehilangan keponakan dan cucu semata wayangnya yang masih berumur 14 tahun.
"Saya pasrah karena semua ini hanya titipan, sekarang keluarga saya hanya tiga orang, saya, anak dan mantu saya. Semoga anak saya kembali dipercayai oleh Allah SWT untuk mempunyai keturunan lagi," jekas Dharmastowo.
Dia melanjutkan sebelum kejadian, cucunya Ludi sempat merengek pada mamahnya untuk tidak ikut dalam rombongan keluarga yang akan menginap di Ciputih Resort. Namun karena tenggang rasa kepada keluarga lain, mereka pun akhirnya ikut juga.
"Hidup dan meninggalnya seseorang itu sudah ada yang mengatur, ini sudah jalan hidup yang harus kami lewati," lanjutnya.
Editor : inilahkoran

