Ekspor Kopi Jabar Diprediksi Naik 944 Persen, Tantangan Global Jadi Pemprov
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menilai, kopi asal Jabar mulai memperlihatkan daya saingnya di pasar global.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menilai, kopi asal Jabar mulai memperlihatkan daya saingnya di pasar global.
Namun di balik tren ekspor yang melonjak, berbagai tantangan masih membayangi. Kepala Disperindag Jabar Nining Yuliastiani menegaskan, kinerja ekspor kopi daerah terus menguat dan perlu ditopang sinergi multipihak.
Terlebih ekspor kopi Jabar diprediksi naik mencapai 944 persen, dimana ini menurut Nining bahwa kopi asli Jawa Barat memiliki pasar tersendiri di global.
“Nilai ekspor kopi Jabar pada 2024 mencapai 25 juta USD. Pada tahun 2025, tren ini diprediksi akan meningkat karena secara c-to-c (Januari–Mei), terdapat peningkatan hingga 944 persen dari tahun 2024 ke 2025. Angka ini membuktikan bahwa kopi Jabar punya peluang besar untuk menembus pasar dunia,” ujar Nining, dikutip Minggu 14 September 2025.
Meski demikian, Nining mengingatkan bahwa persoalan yang dihadapi dalam ekspor kopi untuk pasar global ini tak hanya terkait produksi.
“Hambatan kita bukan hanya pada produksi, tapi juga iklim, pembiayaan, hingga branding. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, petani, eksportir, dan asosiasi sangat diperlukan agar kopi Jabar tetap kompetitif di pasar global,” katanya.
Kolaborasi, pemetaan produksi kopi single origin Jabar, serta persiapan menghadapi regulasi Uni Eropa mengenai ketelusuran yang akan berlaku mulai 2026 harus dilakukan. Selain capacity building menyeluruh bagi petani dan eksportir, sekaligus penguatan branding kopi Jabar di pasar domestik maupun internasional.
Dengan sinergi lintas sektor, kopi Jabar diyakini tidak hanya memperbesar nilai ekspor, tetapi juga memperkokoh posisi sebagai kopi premium dunia serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani dan perekonomian daerah. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti
