Disperindag Jabar Dorong Petani Lembang Perluas Pasar hingga Internasional

Ekspor pertanian Jabar tumbuh 19,66 persen pada Januari–September 2026. Melalui Desa BISA Ekspor, petani Lembang didorong memenuhi standar pasar global.

Disperindag Jabar Dorong Petani Lembang Perluas Pasar hingga Internasional
Ekspor pertanian Jabar tumbuh 19,66 persen pada Januari–September 2026. Melalui Desa BISA Ekspor, petani Lembang didorong memenuhi standar pasar global.

INILAHKORAN.ID– Potensi pertanian Jawa Barat (Jabar) mulai mendapat peluang lebih besar di pasar internasional. Namun, untuk mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekspor, petani dituntut meningkatkan kualitas produk, menjaga kontinuitas pasokan, hingga memenuhi standar perdagangan global.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelatihan Desa BISA Ekspor yang digelar di Budirahayufarm, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada 4–5 November 2026.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, Nining Yuliastiani, mengatakan penguatan kapasitas petani dan kelompok tani menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk pertanian daerah.

Terlebih, kinerja ekspor sektor pertanian Jabar menunjukkan tren positif. Berdasarkan data periode Januari–September 2026, ekspor pertanian Jabar tumbuh 19,66 persen secara cumulative to cumulative (C-to-C).

Menurut Nining, capaian tersebut harus menjadi momentum bagi petani untuk memperluas orientasi pemasaran. Produk pertanian dari Lembang maupun daerah lain di Jabar dinilai memiliki peluang bersaing di pasar internasional sepanjang mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

“Jangan pernah merasa bahwa produk yang dihasilkan hanya bisa dipasarkan di sekitar Lembang atau Jabar saja. Kita memiliki potensi yang luar biasa. Saya ingin para petani semakin percaya diri, berani bermimpi, dan mulai melihat pasar ekspor sebagai peluang yang bisa kita raih bersama,” ujarnya.

Petani Dituntut Penuhi Standar Ekspor

Nining menegaskan, petani memiliki posisi strategis dalam rantai perekonomian daerah. Hasil pertanian tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bahan baku bagi industri pengolahan dan agroindustri yang menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Karena itu, peningkatan daya saing produk pertanian harus dilakukan secara menyeluruh. Ketersediaan hasil panen dalam jumlah besar saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Petani juga harus mampu menjaga konsistensi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan. Selain itu, penanganan pascapanen, proses sortasi dan grading, pengendalian kualitas, serta penggunaan kemasan sesuai standar ekspor perlu menjadi perhatian.

“Jangan berhenti hanya sampai bisa menghasilkan produk yang baik, tetapi mari kita tingkatkan agar produk tersebut juga memiliki standar dan kualitas yang dibutuhkan pasar internasional,” tuturnya.

Nining turut menyoroti pentingnya kolaborasi antarkelompok tani. Kerja sama diperlukan agar petani mampu memenuhi permintaan pasar dalam skala besar sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan.

“Kita harus bergerak bersama. Jika petani bergerak sendiri-sendiri, tentu akan lebih sulit memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Namun, jika kelompok tani semakin kuat, saling mendukung, dan memiliki standar produksi yang sama, saya yakin peluang untuk menembus pasar ekspor akan semakin terbuka,” tambah Nining.

151 Desa Binaan di Jabar

Melalui Disperindag, Pemprov Jabar terus mendorong pelaku usaha dan sentra industri daerah agar mampu memperluas jangkauan pemasaran hingga ke pasar global.

Upaya tersebut dilakukan melalui pembinaan kapasitas usaha, fasilitasi ekspor, perluasan akses pasar melalui business matching, serta promosi perdagangan internasional.

Nining menilai, program Desa BISA Ekspor menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan potensi ekonomi pedesaan dengan rantai pasok global atau global supply chain.

Dia berharap Desa Cibodas dan kawasan Lembang tidak hanya berkembang sebagai destinasi agrowisata, tetapi juga mampu menjadi sentra ekspor hortikultura dan agroindustri unggulan Jabar.

“Kami di Disperindag Jabar siap berkolaborasi. Kami ingin melihat para petani dan kelompok tani di Lembang semakin berkembang, produknya semakin berkualitas, dan pada akhirnya mampu bersaing di pasar internasional. Jangan takut untuk memulai, karena setiap langkah peningkatan kualitas akan membawa kita semakin dekat dengan pasar ekspor,” tegasnya.

Nining juga mengapresiasi Kementerian Perdagangan dan Local Champion Indonesia (LCI) yang telah menginisiasi serta berkolaborasi dalam penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan, Rifan Ardianto, menjelaskan Desa BISA Ekspor merupakan bagian dari program prioritas Kementerian Perdagangan bertajuk 'Dari Lokal untuk Global'.

Program tersebut dirancang untuk menjadikan desa sebagai salah satu penggerak ekspor melalui pengembangan produk unggulan dan peningkatan kesiapan pelaku usaha di daerah.

Hingga saat ini, Kementerian Perdagangan telah memetakan 2.616 desa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 787 desa masuk kategori siap ekspor, 1.708 desa belum siap ekspor, sedangkan 121 lainnya merupakan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Khusus di Jabar, terdapat 151 desa binaan dengan komoditas yang mayoritas berasal dari sektor pertanian.

Rifan mengatakan, persoalan utama pengembangan ekspor bukan terletak pada keterbatasan potensi produk daerah. Tantangan justru berada pada kemampuan pelaku usaha menjaga kualitas, memenuhi standardisasi, memperbaiki desain kemasan, menjamin kontinuitas pasokan, serta menghubungkan produk dengan kebutuhan pasar internasional.

Melalui pelatihan tersebut, petani, kelompok tani, dan pelaku usaha pertanian mendapatkan materi mengenai pengenalan ekspor dan ekosistem perdagangan internasional, kesiapan produk ekspor (export product readiness), proses serta dokumen ekspor, hingga karakteristik dan kebutuhan pembeli internasional (buyer).

Program yang diinisiasi Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan bersama LCI ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan petani memasuki pasar ekspor.

Dengan penguatan kapasitas produksi dan kualitas komoditas, produk pertanian Lembang diharapkan tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga memiliki posisi lebih kuat dalam rantai perdagangan internasional.***


Editor : JakaPermana