Harga Daging Ayam di Jawa Barat Naik, Pemprov Soroti Rantai Distribusi
Harga daging ayam di Jawa Barat naik setelah program MBG kembali berjalan. Pemprov Jabar menyoroti rantai distribusi yang diduga memicu harga melampaui HAP.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kenaikan harga daging ayam di sejumlah wilayah Jawa Barat mulai menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kondisi tersebut terjadi ketika harga ayam hidup di tingkat peternak justru mulai membaik setelah sebelumnya mengalami penurunan akibat kelebihan pasokan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengatakan kenaikan harga ayam tidak terlepas dari kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah berakhir.
Sebelumnya, penghentian sementara program MBG membuat serapan ayam dari peternak menurun. Di sisi lain, produksi tetap berjalan sehingga pasokan ayam menumpuk di pasar.
“Kemarin kan posisinya daging ayam kita kebanyakan, karena MBG berhenti sementara karena libur sekolah. Sedangkan produksi tidak berkurang sedikit pun,” kata Nining, Jumat (14/8/2026).
Harga Ayam di Tingkat Peternak Mulai Pulih
Nining menjelaskan, peternak tidak bisa secara langsung mengurangi produksi ketika permintaan turun karena siklus budidaya ayam telah direncanakan sejak jauh hari.
Untuk menjaga serapan produksi, Pemprov Jabar sejak Juli 2026 telah mempertemukan koperasi peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kerja sama tersebut diarahkan agar kebutuhan ayam untuk program MBG dapat dipenuhi dari peternak lokal di sekitar SPPG.
“Peternak yang ada di dekat SPPG kita minta untuk melakukan kerja sama sehingga kepastian produk mereka akan diserap oleh SPPG,” ujarnya.
Kebijakan tersebut kemudian diperkuat dengan Surat Edaran Badan Pangan Nasional (Bapanas) tertanggal 12 Agustus 2026 yang mendorong optimalisasi pembelian produk perunggasan untuk penyelenggaraan MBG.
Harga ayam hidup di tingkat peternak pun mulai meningkat. Dari sebelumnya sekitar Rp20.000-Rp20.500 per kilogram, kini berada di kisaran Rp24.500-Rp25.000 per kilogram, atau naik sekitar 22 persen.
Menurut Nining, kenaikan tersebut justru menjadi sinyal positif bagi peternak setelah sebelumnya mengalami kerugian.
“Ini sudah normal sebenarnya, maksudnya normal dalam kaitan peternak itu sudah bisa bernapas. Harga sudah naik, kalau kemarin kan rugi,” katanya.
Pemprov Jabar Curigai Rantai Distribusi
Meski harga di tingkat peternak mulai membaik, Disperindag Jabar menilai kenaikan harga di tingkat konsumen tidak sepenuhnya sejalan dengan peningkatan harga ayam hidup.
Pemprov Jabar menduga terdapat persoalan pada rantai distribusi yang membuat harga ayam di pasar berpotensi melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP).
“Kalau harusnya secara keekonomian harganya seharusnya bisa di bawah 40. Ini yang kita lihat ada something yang terjadi pada saat distribusi,” ujar Nining.
Untuk memastikan penyebab kenaikan harga, Disperindag Jabar kini berkoordinasi dengan Satgas Pangan Jawa Barat. Pengawasan akan dilakukan terhadap jalur distribusi dan sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi penyebab kenaikan harga.
“Kita sekarang lagi melakukan koordinasi dengan Satgas Pangan Jabar untuk kemudian melakukan pengawasan bersama kaitannya di mana ini terjadi titik-titik rawan yang mengakibatkan kenaikan harga yang di atas HAP,” katanya.
Pemprov Jabar berharap pengawasan tersebut dapat memastikan perbaikan harga ayam tidak hanya menguntungkan mata rantai distribusi, tetapi juga memberikan harga yang wajar bagi konsumen sekaligus menjamin peternak memperoleh keuntungan yang layak.***
Editor : JakaPermana


