Elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Masih Tertinggi, Survei LSI Denny JA Ungkap Alasannya

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terkini Pilgub Jabar 2024, di Hotel Preanger, Kota Bandung, Jumat 8 November 2024.

Elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Masih Tertinggi, Survei LSI Denny JA Ungkap Alasannya
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terkini Pilgub Jabar 2024, di Hotel Preanger, Kota Bandung, Jumat 8 November 2024./Yuliantono

INILAHKORAN, Bandung - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terkini Pilgub Jabar 2024, di Hotel Preanger, Kota Bandung, Jumat 8 November 2024.

Survei yang dilakukan pada 31 Oktober sampai 4 November 2024, dengan metode Multistage Random Sampling, melibatkan 800 responden melalui wawancara tatap muka, margin of error 3,5 persen di 27 kota/kabupaten atau 15 daerah pemilihan (Dapil), didapati pasangan nomor urut 4 Dedi Mulyadi atau KDM dan Erwan Setiawan memiliki elektabilitas tertinggi.

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA Toto Izul Fatah mengatakan, kurang dari sebulan jelang masa pencoblosan di 27 November 2024, elektabilitas Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan masih unggul.

Dimana pasangan calon atau paslon KDM-Erwan mengantongi elektabilitas 74,6 persen. Dibayangi Akhmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie 12 persen, Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwinatarina 6,5 persen dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja 5,3 persen, serta tidak tahu atau tidak jawab 1,6 persen.

Toto menilai, elektabilitas KDM-Erwan wajar menjadi yang tertinggi, karena Dedi Mulyadi memang telah melakukan aktivitas politik di Jabar sudah terbilang cukup lama ketimbang figur lain.

"Alasan pemilih Dedi-Erwan didominasi karena tingkat keterkenalan yang tinggi. Sebanyak 25 persen pemilih mengaku hanya mengenal keduanya dibanding kandidat lainnya. Alasan ini juga mendominasi pemilih Acep-Gita sebesar 17,3 persen," ujarnya.

Sementara 31,3 persen pemilih Syaikhu-Ilham punya alasan melihat kepribadian keduanya baik. Pemilih Jeje-Ronal didominasi alasan menyukai partai pengusungnya yakni PDIP sebesar 19 persen.

"Dominan pemilih Jeje ini karena suka dengan partai pengusungnya, tapi faktor lainnya rendah. Nah menariknya, 71,8 persen pemilih dari partai PDIP itu mengarahkan suara ke Dedi-Erwan. Sama seperti PKS yang kita kenal militan, meski hanya selisih sedikit tapi 47,9 persen pemilih ke Dedi-Erwan sementara 39,6 persen ke Syaikhu-Ilham," ucap Toto.

Lebih lanjut Toto memaparkan, elektabilitas KDM-Erwan ini juga didukung adanya strong voters atau pemilih yang sudah bulat menentukan pilihannya, yakni 55 persen. 

Tapi terlepas dari itu, masih ada soft voters atau swing voters, pemilih yang ragu-ragu dimaba angkanya di 31 persen. Sehingga masih berpotensi mendongkrak elektabilitas pasangan lain.

"Fenomena ini bisa good news and bad news, karena masih ada 31% soft supporters, jadi masih cair dan bisa direbut siapa saja, seperti tanah tak bertuan," tutur Toto.

Sementara itu, Syaikhu-Ilham sejatinya punya peluang untuk menyusul Dedi-Erwan mengingat posisi elektabilitasnya bisa tembus lebih dari dua digit persentase. Meski begitu, Toto menilai dalam kurun waktu yang singkat, kekuatan elektabilitas Dedi-Erwan akan sulit untuk dikalahkan.

"Harus jujur saya sampaikan, Dedi-Erwan cukup kokoh dan menang fenomenal. Hampir mustahil disusul, kecuali ada tsunami politik dan money politik masif. Kami belum melihat ada tanda-tanda ini, tapi kalaupun ada ya saya kira di Jabar mungkin perlu uang berkarung-karung dan belum tentu efektif," ucap Toro.

"Black campaign misalnya, itu masuk tsunami politik. Kasus tertentu atau isu negatif yang beredar masif, dalam teori negatif campaign itu bisa terjadi. Tapi seberapa publik tahu dan seberapa percaya? Karena pemilih di Jabar 70-80 persen ini grassroot, mereka tidak terakses media, pemberitaan, sosmed. Jadi mungkin hanya tersebar ke lingkungan elit dan belum tentu dipercaya kalau tidak cerdas mengemasnya," sambungnya.

Tingginya angka pengenalan dan kesukaan tersebut, menurut Toto, terkonfirmasi secara logis pada dukungan yang merata di seluruh segmen demografis seperti gender, suku, agama, usia, tingkat pendidikan dan penghasilan, profesi, pemilih parpol, ormas dan lain-lain. Termasuk, unggul di seluruh dapil di Jabar.

Toto mengakui, masih ada sisa waktu kurang lebih 20 hari untuk seluruh kandidat memaksimalkan target ideal elektabilitasnya. Namun, dari pengalaman selama ini melakukan ratusan kali survei, tidak mudah untuk seorang kandidat bisa mengejar ketertinggalan dalam waktu kurang dari satu bulan.

“Biasanya, hanya tsunami politik dan money politic yang bisa mengubah peta elektabilitas dalam waktu yang singkat itu. Masalahnya, sejauh ini belum terlihat akan adanya tsunami politik tersebut. Termasuk, money politic,” katanya.

Jika pun ada kandidat yang akan mencoba melakukan jurus abnormal seperti money politic, menurut Toto, tidaklah mudah. Pertama, butuh cost yang sangat besar, bisa ratusan miliar. Kedua, sangat beresiko kena diskualifikasi KPU karena masuk dalam kategori pelanggaran TSM (Terstruktur, Sistematis dan Massif).

“Mungkin, jika ada kandidat yang mau melakukan money politic, harusnya punya elektabilitas yang tidak terlalu jauh, misalnya selisih 5-7%. Tapi kalau sudah lebih dari 20% apalagi diatas 30%, biasanya akan berpikir ulang. Selain butuh uang berkarung-karung, juga belum tentu efektif,” tandasnya. ***


Editor : JakaPermana