Survei Voxpol: Elektabilitas Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie Naik Signifikan, Gerus Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan

Tren elektabilitas pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 3 Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie mulai naik signifikan dari hasil survei yang dilakukan Voxpol Center Research and Consulting.

Survei Voxpol: Elektabilitas Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie Naik Signifikan, Gerus Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan
Rilis survei preferensi pemilih bertajuk "Meneropong Peta Elektoral Terkini Pemilihan Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2024" yang dilakukan Voxpol secara daring, Jumat 25 Oktober 2024 menunjukkan tren positif eletabilitas bagi pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie (ASIH). (tangakapan layar)

INILAHKORAN, Bandung - Tren elektabilitas pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 3 Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie mulai naik signifikan dari hasil survei yang dilakukan Voxpol Center Research and Consulting.

Rilis survei preferensi pemilih bertajuk "Meneropong Peta Elektoral Terkini Pemilihan Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2024" yang dilakukan Voxpol secara daring, Jumat 25 Oktober 2024 menunjukkan tren positif eletabilitas bagi pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie (ASIH).

Dimana dari survei elektabilitas yang dilakukan Voxpol pada 11-20 Oktober 2024, dengan melibatkan 800 responden dari 26 kabupaten/kota, berimbang antara laki-laki dan perempuan, melalui metode multistage random sampling, wawancara tatap muka dengan margin of error 3,47 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Didapati elektabilitas pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan 61,8 persen, Ahmad Syaikhu-Ikham Habibie 18,6 persen, Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwinatarina 7,4 persen dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja 5,6 persen. Sedangkan tidak menjawab atau tidak tahu sebanyak 6,6 persen.

Dari hasil ini menunjukkan, meski elektabilitas pasangan Dedi-Erwan masih tinggi, namun terjadi penurunan persentase. Berbeda dengan Syaikhu-Ilham Habibie, yang perlahan merangsek naik signifikan. Demikian pula pasangan Acep-Gita dan Jeje-Ronal yang turut mendapat tren positif walaupun belum kentara.

Sebab sebelumnya, hasil survei dari lembaga lain pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie kala itu hanya mengantongi elektabilitas di kisaran 11 persen.

"Ini masih bisa berubah. Sebab ketika ditanya seberapa mantap memilih? Yang menjawab mantap 69 persen, bisa berunah 27,1 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 3,9 persen," ujar CEO Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago.

Terlebih kata Pangi, Jabar selalu ada kejutan. Terakhir yakni pada Pilgub Jabar 2018 silam, dimana pasangan Sudrajat-Syaikhu di awal 3 persen, lalu di masa tenang 9 persen. Namun ketika pemilihan dilakukan, perolehan suara tembus 28 persen. Hanya selisih 4 persen dari pemenang, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum.

"Apakah akan ada kejutan terjadi di Pilgub Jabar 2024? Sangat mungkin," ucapnya.

Apalagi sejauh ini ceruk pemilih atau simpatisan Anies Baswedan di Pilpres kemarin belum sepenuhnya dijangkau oleh PKS, selaku promotor pasangan ASIH.

Mengingat pada Pilpres kemarin kata dia, pemilih Anies di Jabar mencapai 33 persen. Bila itu dimaksimalkan, bukan tidak mungkin elektabilitas ASIH akan kembali naik.

Lantaran bila merujuk elektabilitas pasangan ASIH saat ini di angka 18,6 persen, linier dengan angka elektabilitas PKS di angka 18,8 persen.

"Pemilih non PKS akan sangat ditentukan arah Pak Anies. Suaranya di Jabr belum terkonsolidasi. Pemilih Anies ceruk yang sangat besar di Jabar," imbuhnya.

Tidak hanya itu, faktor turunnya tokoh penting juga sangat berpengaruh menentukan hasil di Pilgub Jabar 2024 ini lanjut Pangi. Termasuk mesin partai, dimana PKS kata dia harus diwaspadai.

"Adanya Pak Ahmad Heryawan, mesin partai PKS yang panas di ujung ini tidak kaleng-kaleng. Jadi masih bisa ada kejutan," tuturnya.

Tidak kalah penting sambung Pangi, kecenderungan masyarakat Jawa Barat untuk memilih adalah keterkenalan mereka pada figur. 

Turun langsung menyapa masyarakat, menjadi sangat penting. Sebab, dari hasil survei Voxpol alasan responden memilih karena mengenal tokoh atau figur 76,1 persen, faktor partai pengusung 11,3 persen, figur Cawagub 6,8 persen dan tidak tahu 5,9 persen.

"Fitur yang belum tergantikan, tatap muka bertemu masyarakat. Alat peraga, tim sukses berpengaruh. Tapi yang dibutuhkan, bisa bersalaman langsung dengan kandidat. Tapi itu butuh effort. Karakter pemilih kita, tidak ingin ada pemimpin yang tidak mau turun," ucapnya.

Terlebih, potensi perubahan elektabilitas di Jabar cukup kuat, karena mereka memutuskan pilihan, ketika di masa kampanye 37,4 persen. Sebelum berangkat ke TPS 29 persen, di masa tenang 18,1 persen.

Hal senada diungkapkan Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Firman Manan, dimana Jabar kemungkinan perubahan memilih masih tinggi. Kehadiran swing voter yang besar, dapat mengubah hasil akhir di 27 November 2024.

Walaupun diakuinya, elektabilitas pasangan Dedi-Erwan cukup mencolok, karena memang telah melakukan kinerja politik sejak lama, tapi masih bisa berubah.

Tinggal bagaimana pasangan lain menunjukkan keseriusan mereka, untuk memimpin Jawa Barat dalam lima tahun ke depan.

Meski menurutnya akan cukup berat, karena Dedi-Erwan selain telah melakukan kinerja elektoral cukup lama, ada faktor Prabowo Subianto yang juga cukup kuat di Jabar serta didukung dua partai besar, Gerindra dan Golkar yang punya basis pemilih.

Solusinya kata Firman, adalah bagaimana pasangan lain memainkan isu yang dapat menaikkan elektabilitasnya.

"Saya belum melihat ini terjadi di Jawa Barat saat ini," ujarnya.

Sebab dari hasil survei Voxpol turut menunjukkan, mayoritas memilih karena rasional yakni dengan alasan kinerja, pengalaman, visi, misi, program dan kompetensi yang mencapai 57,6 persen.

Faktor sosiologis berdasarkan agama, suku dan asal daerah hanya 11,6 persen dan psikologis, memilih karena gender, usia, fisik menarik 28 persen.

Terlepas dari itu kata dia, ada hal miris yang dapat mengubah alasan masyarakat Jabar untuk memilih, yakni politik uang. Dimana pada riset yang dilakukannya pada akhir 2023 silam, pemilih mewajarkan politik uang mencapai 62 persen.

"Itu sebuah persoalan. Kita harap yang begini tidak terjadi. Tapi realitanya terbuka peluang karena politik uang," ujarnya.

Pada survei yang dilakukan Voxpol kali ini, demografi responden meliputi milenial 32,9 persen, Gen X 39,6 persen, Gen Z 12,9 persen dan baby boomers 14,6 persen.

Dimana tamatan SMA sederajat 41,8 persen, SMP sederajat 20 persen, kuliah 12,9 persen dan lulusan SD 24,4 persen.

Sebanyak 90,6 persen sudah mengetahui Pilkada serentak akan dilaksanakan 27 November 2024 dan telah terdaftar sebagai pemilih sebanyak 97,4 persen. Tingkat partisipasi pemilih di Jabar pada kontestasi kali ini juga sangat tinggi, dimana mereka akan memilih menggunakan hak suaranya sebanyak 98,8 persen. 


Editor : Doni Ramdhani