Elektabilitas Dedi Mulyadi Lampaui Prabowo si SMRC, Pengamat: Kaderisasi Sukses

Pengamat politik menilai kaderisasi yang dilakukan Partai Gerindra Sukses sehingga elektabilitas Dedi Mulyadi melampaui Prabowo

Elektabilitas Dedi Mulyadi Lampaui Prabowo si SMRC, Pengamat: Kaderisasi Sukses
Hasil siurvei SMRC Dedi Mulyadi lampaui Prabowo

INILAHKORAN.ID - Melonjaknya elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dalam survei calon presiden terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dinilai menjadi ujian bagi Partai Gerindra dalam mengelola dinamika internal partai.

Pengamat Politik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Pius Sugeng Prasetyo menilai, tingginya dukungan publik terhadap Dedi seharusnya dipandang sebagai keberhasilan kaderisasi, bukan ancaman politik yang harus dibendung oleh elite partai.

Menurut Pius, Dedi merupakan kader Gerindra yang tumbuh dan berkembang di bawah partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Sebab itu, capaian elektabilitas tersebut semestinya menjadi kebanggaan organisasi.

Meski demikian, ia mengakui setiap partai politik tidak pernah lepas dari pengaruh kelompok elite, yang memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah dan kebijakan partai.

"Ini tinggal bagaimana partai itu menentukan, di situ juga ada istilahnya oligarki internal. Kalau anda pernah membaca bukunya Robert Michels tentang Political Party, maka di situ ada muncul istilah The Iron Law of Oligarchy (Hukum Besi Oligarki)," ujar Pius, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, fenomena oligarki tidak hanya terjadi dalam sistem pemerintahan, tetapi juga hidup di dalam organisasi politik yang secara formal mengusung prinsip demokrasi.

"Artinya di mana pun, bahkan di dalam lembaga-lembaga demokratis seperti partai politik, di dalamnya pun ada oligarki, ada sekelompok orang yang memang sangat menentukan," ucapnya.

Pius menilai, kemunculan figur dengan elektabilitas tinggi kerap memunculkan persaingan baru di internal partai. Apalagi dalam kultur politik Indonesia yang masih kuat dipengaruhi pola patronase dan feodalisme politik.

Sebab itu, hasil survei yang menempatkan Dedi sebagai tokoh paling unggul berpotensi menjadi bahan pembicaraan serius di lingkungan internal Gerindra.

Namun demikian, ia menegaskan partai seharusnya memberikan ruang yang sama kepada seluruh kader untuk berkompetisi berdasarkan kapasitas dan prestasi.

"Saya pikir justru itu keberhasilan kaderisasi kan ya. Ini menjadi satu kondisi yang positif bahwa figur-figur internal partai itu juga berkembang dan potensial. Maka mestinya itu direspons secara positif bahwa saya punya kader-kader yang sangat bagus," katanya.

Ia mengingatkan, partai politik yang sehat harus mampu mengakomodasi kader potensial tanpa melihat faktor kedekatan dengan elite atau pemilik kekuasaan di dalam partai.

"Sampai sejauh mana kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh kader-kader internal partai itu justru malah diakomodasikan sehingga orang juga merasa punya prospek di dalam partai, bukan karena kedekatannya dengan bosnya atau pemilik partainya, tapi memang sebuah prestasi," ujarnya.

Regenerasi Politik Harus Dibuka

Pius mencontohkan, sejumlah negara maju yang telah memberikan ruang lebih luas bagi kader muda maupun kader biasa untuk naik menjadi tokoh utama partai karena rekam jejak dan dukungan publik yang dimiliki.

Ia menyinggung fenomena meningkatnya popularitas Wali Kota New York, Zohran Mamdani, yang berhasil mencuri perhatian publik meski bukan berasal dari lingkaran elite utama partai.

"Saya pikir itu salah satunya ya. Meskipun di negara-negara maju tapi cara berpikirnya kemudian masih konvensional, sulit untuk adanya pembaruan-pembaruan kader atau penguatan partai," katanya.

Menurut dia, partai politik di Indonesia perlu mulai membangun sistem regenerasi yang lebih terbuka agar kader-kader potensial tetap memiliki loyalitas dan semangat membesarkan organisasi.

"Tapi itu yang mestinya harus diperhatikan ya, bagaimana membangun partai politik dari dalam dengan mengakomodasi sumber-sumber yang potensial dan itu dikanalisasikan sehingga orang punya loyalitas, integritas, dan antusiasme dalam membangun partai dari dalam," ucapnya.

Survei SMRC: Dedi Mulyadi di Puncak

Dalam survei simulasi calon presiden yang digelar SMRC pada 5-19 Juli 2026, nama Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan tingkat dukungan sebesar 35 persen.

Angka tersebut jauh melampaui Presiden Prabowo Subianto yang memperoleh 14,5 persen. Dedi juga mengungguli sejumlah tokoh nasional lain, yakni Anies Baswedan (8,2 persen), Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), Mahfud MD (4 persen), Puan Maharani (1,3 persen), Sherly Tjoanda (1,2 persen), Purbaya Yudhi Sadewa (1,1 persen), serta Surya Paloh (1 persen).

Survei melibatkan 749 responden yang memiliki hak pilih. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling, sedangkan 144 responden diwawancarai secara langsung menggunakan metode stratified multistage random sampling. SMRC menyebut survei tersebut memiliki margin of error sekitar 3,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. 


Editor : Ahmad Sayuti