Energi Hijau Pertamina Sentuh Industri Aviasi
Plong. Perasaan itu diyakini menghinggapi Nicke Widyawati saat menyaksikan uji terbang CN235-220 FTB di Tangerang, Rabu 6 Oktober 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Plong. Perasaan itu diyakini menghinggapi Nicke Widyawati saat menyaksikan seremoni keberhasilan uji terbang pesawat CN235-220 FTB sanggup terbang melayang di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Tangerang, Rabu 6 Oktober 2021.
Pesawat milik PT Dirgantara Indonesia hasil karya anak negeri itu mampu terbang menggunakan campuran bahan bakar bioavtur buatan Pertamina. BUMN yang mendapatkan amanah memproduksi bahan bakar pesawat dari campuran sawit sebagai sumber energi.
Direktur Utama Pertamina itu mengatakan, Bioavtur J2.4 yang diproduksi Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap terbukti menunjukkan performa yang setara dengan bahan bakar avtur fosil. Sejak 2014, Pertamina merintis penelitian dan pengembangan Bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Cilacap. Nicke menjelaskan, performa bioavtur sudah optimal dimana perbedaan kinerjanya hanya 0,2-0,6 persen dari kinerja avtur fosil.
“Bioavtur J2.4 mengandung nabati 2,4 persen ini merupakan pencapaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada,” kata Nicke.
Baca Juga: Solar Langka, DPR: Pertamina jangan Hanya Kejar Untung
Nicke yang belum lama ini masuk jajaran wanita paling berpengaruh di dunia itu menuturkan, Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap didapuk memiliki kapasitas teknis untuk mengembangkan Bioavtur nasional. Hal tersebut tak lepas dari portfolio bisnis unit kilang Cilacap yang merupakan produsen bahan bakar minyak (BBM) jenis aviation turbine terbesar di Indonesia, dengan angka produksi tertinggi 1.852 ribu barrel sepanjang 2020.
Menurutnya, dalam pengembangan bioavtur J2.4 itu terdapat dua tahapan penting dalam proses produksi Pertamina. Yakni, tahap awal pengembangan yang dikelola kilang Unit Dumai melalui distillate hydrotreating unit (DHDT). Pada masa itu merupakan tahap pertama yang ditandai dengan proses ‘hydrodecarboxylation’ yaitu target awalnya memproduksi diesel biohidrokarbon dan Bioavtur dalam skala laboratorium. Selanjutnya, pada tahap kedua ditandai dengan proses ‘hydrodeoxygenation’ dimana Pertamina telah berhasil memproduksi diesel biohidrokarbon yang lebih efisien.
Puncaknya, pada 2020 lalu kilang Unit Dumai berhasil memproduksi diesel biohidrokarbon D-100 yang 100 persen berasal dari bahan baku nabati yaitu refined bleached deodorized palm oil (RBDPO). RBDPO yaitu minyak kelapa sawit yang sudah melalui proses penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta penjernihan untuk menghilangkan warna dan bau. Tahap awal tersebut menjadi langkah penting pengembangan green product termasuk green diesel dan Bioavtur. Di Unit Kilang Cilacap, pengembangan Bioavtur dilakukan di dalam treated distillate hydro treating (TDHT).
Katalis merah putih untuk Bioavtur diproduksi di fasilitas milik Clariant Kujang Catalyst di Cikampek, dengan supervisi langsung dari tim Research Technology and Innovation (RTI) Pertamina. Melalui Unit Kilang Cilacap, Bioavtur dihasilkan melalui bahan baku minyak inti kelapa sawit atau refined, bleached, and deodorized palm kernel oil (RBDPKO) dengan avtur fosil.
“Kapasitas produksi Bioavtur di Unit Kilang Cilacap mencapai 8 ribu barrel per hari dan akan terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar mulai 2023,” sebut wanita asal Tasikmalaya itu.
Baca Juga: Lowongan Kerja Pertamina untuk Lulusan Diploma III, Fresh Graduate Segera Melamar!
Hasil pemanfatan Bioavtur itu diakui Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi. Dalam kegiatan uji statik, dia menerangkan dalam prosesnya GMF senantiasa mematuhi manual yang diterbitkan manufaktur mesin pesawat. Prosedur khusus juga dijalankan agar avtur jet A1 dan Bioavtur J2.4 tidak bercampur ketika melakukan pengujian sehingga memberikan hasil yang representatif dan akurat.
“Hasilnya, performansi keduanya sangat dekat. Tidak ada perbedaan yang signifikan, sehingga Bioavtur J2.4 diputuskan layak untuk menjalani tahapan uji non-statis ke pesawat CN235-220,” tutur Andi.
Sinergi penciptaan energi hijau itu pun melibatkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi dan dukungan dana penelitian dalam rangka mendukung program Pemerintah untuk mencapai target bauran energi, diantaranya dukungan riset untuk pengembangan biodiesel, pengembangan biohidrokarbon,lainnya serta pemanfaatan biomassa menjadi energi.
Melalui pendanaan penelitian yang diberikan kepada Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai Prof Subagjo itu telah dihasilkan inovasi pengolahan dan produksi green diesel, green gasoline yang disebut bensin sawit dan green avtur yang disebut sebagai Bioavtur. Dukungan pendanaan untuk pengujian Bioavtur ini diberikan mulai dari pengujian statis hingga uji terbang. Untuk pengujian Bioavtur secara akademis telah dimulai di Fakultas Mesin dan Dirgantara ITB sejak 2012 dalam skala laboratorium.
Baca Juga: Pertamina Teliti dan Lakukan Pemeriksaan USG Kebumian Bawah Permukaan di Cirebon
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebutkan pemanfaatan bioavtur itu merupakan tonggak sejarah bangsa. Menurutnya, penerbangan perdana menggunakan bahan bakar nabati campuran Bioavtur 2,4 persen akhirnya terlaksana menempuh jarak Bandung–Jakarta menggunakan pesawat CN235-220 FTB.
Keberhasilan ini menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi Bioavtur di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Dia menyebutkan, dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12/2015 mengatur kewajiban pencampuran bahan bakar nabati dalam bahan bakar jenis avtur dengan persentase sebesar 3 persen pada 2020, dan pada 2025 akan meningkat menjadi Bioavtur 5 persen.
"Industri aviation biofuel dapat terwujud apabila ada sinergi positif antara Pemerintah sebagai regulator, lembaga-lembaga penelitian, produsen Bioavtur, dan para pengguna aviation biofuel yaitu pihak operator penerbangan," ujar Arifin Tasrif.
Baca Juga: Inilah Lompatan-lompatan Basuki Tjahaja Purnama dalam Restrukturisasi Pertamina
Sedangkan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto keberhasilan uji terbang Bioavtur iitu memberikan kepercayaan tinggi terhadap kemampuan kita dalam memanfaatkan sumber daya domestik khususnya minyak sawit untuk dimanfaatkan sebagai upaya membangun kemandirian energi nasional.
Dia menjelaskan, agar dapat terealisasi keekonomian Bioavtur J2.4 itu harus terpenuhi dengan memanfaatkan segala fasilitas yang telah diberikan pemerintah.
"Dengan perkiraan konsumsi avtur harian sekitar 14 ribu KL, maka potensi pasar Bioavtur J2.4 akan mencapai sekitar Rp1,1 triliun per tahun. Tentunya akan menjadi pangsa pasar yang besar bagi pengembangan industri sawit nasional," kata Airlangga Hartarto.***(dnr)
Editor : inilahkoran

