Energi Hijau Sentuh Aviasi

Manfaat energi terbarukan menyentuh sektor transportasi udara. Kini, pesawat terbang bisa mengonsumsi bahan bakar bioavtur J2.4.

Energi Hijau Sentuh Aviasi
Di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Tangerang, sejumlah petinggi negeri menyaksikan Uji Terbang Pesawat CN235-220 Flying Test Bed (FTB) milik PT Dirgantara Indonesia.

INILAHKORAN, Bandung - Manfaat energi terbarukan menyentuh sektor transportasi udara. Kini, pesawat terbang bisa mengonsumsi bahan bakar bioavtur J2.4 tanpa kendala berarti.

Rabu 6 Oktober 2021 kemarin merupakan sejarah bagi industri aviasi nasional. Di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Tangerang, sejumlah petinggi negeri menyaksikan Uji Terbang Pesawat CN235-220 Flying Test Bed (FTB) milik PT Dirgantara Indonesia. Pesawat baling-baling itu terbang melayang sempurna menggunakan bahan bakar bioavtur.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, salah satu strategi untuk percepatan implementasi energi baru terbarukan yaitu melakukan substitusi energi primer dan final dengan teknologi eksisting. Usai sukses dengan program Mandatori B30 utuk sektor transportasi darat, saat ini pemanfaatan bahan bakar nabati telah berhasil diuji coba untuk sektor transportasi udara.

Baca Juga: Industri Dukung Akselerasi Penggunaan Energi Terbarukan RI

“Berkat dukungan dan kerjasama seluruh stakeholder yang terlibat, penerbangan perdana menggunakan bahan bakar nabati, campuran bioavtur 2,4% akhirnya terlaksana menempuh jarak Bandung-Jakarta menggunakan pesawat CN235-220 FTB,” kata Arifin.

Menurutnya, perjalanan panjang telah dilalui untuk sampai di tahap keberhasilan uji terbang. Dimulai melalui sinergi penelitian antara Pertamina Research & Technology Innovation (Pertamina RTI) dan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB) dalam pengembangan katalis MerahPutih untuk mengonversi minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur pada 2012.

Pola kerja sama pun diperluas bersama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk melakukan uji produksi co-processing skala industri di Refinery Unit (RU) IV Cilacap untuk mengolah campuran refined, bleached, and deodorized palm kernel oil (RBDPKO) dan kerosin menggunakan katalis Merah Putih sebagai salah satu inovasi karya terbaik anak bangsa.

Baca Juga: PLN Siapkan Energi Terbarukan untuk Kebutuhan Lebaran

“Keberhasilan ini akan menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi bioavtur di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional,” tegasnya.

Arifin pun mengharapkan dukungan semua pihak dalam tahapan-tahapan uji berikutnya termasuk penyusunan roadmap untuk komersialisasi. Menurutnya, industri aviation biofuel dapat terwujud apabila ada sinergi positif antara pemerintah sebagai regulator, lembaga-lembaga penelitian, produsen bioavtur, dan para pengguna aviation biofuel yakni pihak operator penerbangan.

Sedangkan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan agar hal itu dapat terealisasikan, keekonomian bioavtur J2.4 harus terpenuhi dengan memanfaatkan segala fasilitas yang diberikan, baik terkait perpajakan maupun insentif nonfiskal. Dengan perkiraan konsumsi avtur harian sekitar 14 ribu kilo liter (KL), maka potensi pasar bioavtur J2.4 akan mencapai sekitar Rp1,1 triliun per tahun.

Baca Juga: Ridwan Kamil: Kita Harus Memikirkan Energi Terbarukan

“Tentunya, ini akan menjadi pangsa pasar yang besar bagi pengembangan industri sawit nasional,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Novie Rianto mengapresiasi pencapaian pengembangan bahan bakar alternatif untuk pesawat udara. Hal ini sejalan dengan roadmap Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang mendorong penggunaan bahan bakar alternatif untuk pesawat udara.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bioavtur J2.4 yang diproduksi PT KPI unit Cilacap terbukti menunjukkan performa yang setara dengan bahan bakar avtur fosil. Sejak 2014, Pertamina telah merintis penelitian dan pengembangan bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Cilacap.

Baca Juga: Indonesia Terus Pacu Peningkatan Porsi Energi Terbarukan

“Performa bioavtur sudah optimal, dimana perbedaan kinerjanya hanya 0,2-0,6% dari kinerja avtur fosil. Bioavtur J2.4 mengandung nabati 2,4% ini merupakan pencapaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada,” ujar Nicke.

Dalam kegiatan uji statik, Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi menerangkan dalam prosesnya GMF senantiasa mematuhi manual yang diterbitkan manufaktur mesin pesawat. Prosedur khusus juga dijalankan agar avtur jet A1 dan bioavtur J2.4 tidak bercampur ketika melakukan testing, sehingga memberikan hasil yang representatif dan akurat.

“Hasilnya, performansi keduanya sangat dekat. Tidak ada perbedaan yang signifikan, sehingga bioavtur J2.4 diputuskan layak untuk menjalani tahapan uji non-statis ke pesawat CN235-220 FTB,” ujarnya.***(doni ramdhani)


Editor : inilahkoran