Evaluasi Paris Festival 2026, Antara Strategi Branding Cerdas dan Tantangan Anggaran
Sebagai penyelenggaraan pertama kalinya, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi kini
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID- Sebagai penyelenggaraan pertama kalinya, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi kini menelaah secara menyeluruh pelaksanaan Paris Festival 2026.
Evaluasi ini bukan sekadar formalitas, namun menjadi upaya untuk menilai penerimaan publik, dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, serta kelayakan kegiatan ini untuk dilestarikan menjadi agenda tahunan yang bermanfaat bagi warga Cimahi.
Komitmen untuk menghadirkan kembali festival ini di masa depan memang sudah terucap, namun keputusan akhir tetap bergantung pada hasil pantauan lapangan dan masukan dari berbagai pihak.
“Kita berusaha memegang komitmen tersebut, dan mudah-mudahan di tahun mendatang kita bisa menyelenggarakannya kembali,” kata Kepala Seksi Kebudayaan Disbudparpora Kota Cimahi, Ares Rudhiansyah, Sabtu (22/8/2026).
Ares menjelaskan, pemilihan nama “Paris Festival” memang sengaja dipilih untuk memancing perhatian, bahkan tak sedikit warga yang awalnya mengaitkannya dengan kota Paris di Prancis.
Alih-alih menganggap itu kekeliruan, pihak penyelenggara justru menjadikan persepsi awal itu sebagai pintu masuk untuk mengenalkan identitas lokal yang sesungguhnya.
“Orang-orang mengira ini berkaitan dengan Prancis, padahal ‘Paris’ yang dimaksud adalah Pasir Hiris, sebuah wilayah di Kelurahan Cibeber, Kota Cimahi,” ujarnya.
Menurutnya, ini menjadi langkah branding yang cerdas dengan memanfaatkan keterkenalan nama kota internasional untuk mengangkat nama kampung halaman sendiri, sehingga masyarakat tidak hanya tertarik datang, tetapi juga mulai mengenal potensi budaya dan kearifan lokal di wilayah tersebut.
Ke depannya, konsep festival ini berpotensi dikembangkan lebih kreatif dengan tetap memperkuat identitas nama “Paris” yang telah dibangun.
"Salah satu gagasan yang sedang dikaji, yakni menghadirkan elemen visual seperti cosplay atau karakter bernuansa Prancis, sebagai bentuk penghormatan sekaligus permainan kata atas nama yang diusung," tuturnya.
Kendati demikian, rencana itu harus berjalan beriringan dengan keterbatasan lantaran penyelenggaraan perdana ini dilaksanakan dengan anggaran yang terbatas, sehingga setiap ide baru harus dipertimbangkan secara matang dalam proses evaluasi.
"Selain melibatkan seniman, pelaku budaya, dan kreator lokal Cimahi sebagai tulang punggung kegiatan, panitia juga membuka ruang bagi kekayaan budaya dari luar daerah," ujarnya.
Ares menyebut, salah satu yang mencuri perhatian, yakni pertunjukan wayang golek yang akan dibawakan oleh Ki Dalang Adi Konthea Kosasih Sunarya, didampingi oleh pengiring musik dari kelompok seni Mekar Giri Harja 2.
"Ini menjadi sebuah perpaduan antara identitas lokal dan kekayaan budaya Sunda yang luas," tandasnya.***
Editor : JakaPermana

