Bedah Novel Leiden dan Bangkol, Hasbunallah Haris Hidupkan Sejarah Lewat Fiksi

Hasbunallah Haris bedah buku Leiden dan Bangkol yang dia buat sebagai buku yang menyuguhkan sejarah dan fiksi.

Bedah Novel Leiden dan Bangkol, Hasbunallah Haris Hidupkan Sejarah Lewat Fiksi
Bedah Novel Leiden dan Bangkol, Hasbunallah Haris Hidupkan Sejarah Lewat Fiksi

INILAHKORAN.ID - Novelis Hasbunallah Haris menyapa para pencinta sastra dalam acara Ekspedisi Leiden dan Bangkol yang digelar di Gramedia Paris Van Java (PVJ), Bandung, Sabtu 22 Agustus 2026.

Dalam sesi diskusi tersebut, penulis Leiden dan Bangkol ini membeberkan proses kreatif serta motivasinya mengusung genre historical fiction (fiksi sejarah) yang dinilainya masih jarang dieksplorasi secara mendalam.

​"Bangkol itu mungkin bab 1 dari Leiden, keduanya bawa visi yang sama dengan genre yang sama, historical fiction. Historical fiction bagiku tidak terlalu banyak yang menulis ini, aku hanya berusaha menghadirkan yang tidak ada di buku akademik, aku berusaha menghadirkan perspektif kecil," ujar Hasbunallah Haris dalam acara tersebut.

​Perjalanan penulisan kedua novel karya Hasbunallah Haris ini memiliki dinamika tersendiri. novel Leiden ditulis pada 2022 dalam waktu 3–4 bulan dengan proses riset intensif selama 6 bulan, sebelum akhirnya diserahkan ke penerbit pada 2023 dan terbit pada 2025. 

Sementara novel Bangkol berproses jauh lebih cepat, yaitu selesai ditulis dalam satu bulan hingga resmi terbit pada 2026.

​Meski sama-sama berlatar sejarah, terdapat perbedaan fokus dan tema yang diusung kedua karya Hasbunallah Haris. 

Pada ​novel Leiden Haris menyoroti isu imperialisme dan kolonialisme secara luas, termasuk penjajahan bahasa dan kuliner, serta menggarisbawahi fakta bahwa banyak arsip sejarah Indonesia justru tersimpan di luar negeri.

​Sedangkan pada novel Bangkol Haris mengangkat tema yang lebih berani mengenai sistem tanam paksa di Sumatra dan kehidupan buruh tambang di Sawahlunto yang kehilangan identitas hingga hanya dinamai dengan angka.

​Terkait batasan fakta dan fiksi dalam karyanya, Hasbunallah Haris menekankan bahwa novel-novelnya berfungsi sebagai pemantik rasa ingin tahu pembaca.

​"Baik Leiden atau Bangkol ini novel sejarah, bukan buku sejarah. Aku berharap novel ini jadi tangga untuk menelusuri hal-hal lain di luar sana. Latar-latar yang ada di Bangkol, Leiden mungkin bisa dicari tahu lebih jauh. Aku tidak akan mengubah sesuatu hal yang sebetulnya sudah terjadi," jelasnya.


Editor : Firda Rachmawati