Berangkat dari Kegelisahan, Buku 'Resah dalam Sejarah' Ajak Pembaca Renungi Ironi Kehidupan Berbangsa

Berangkat dari sebuah kegelisahannya tentang berbagai persoalan sosial, politik, organisasi dan konflik di Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung Barat (KBB), seorang penulis bernama Deni Permana menorehkan berbagai kritikannya dalam sebuah buku berjudul 'Resah dalam Sejarah'.

Berangkat dari Kegelisahan, Buku 'Resah dalam Sejarah' Ajak Pembaca Renungi Ironi Kehidupan Berbangsa
'Resah dalam Sejarah' merupakan kumpulan esai dan refleksi kritis yang mengajak pembaca untuk merenungi ironi kehidupan berbangsa, mulai dari pengabdian yang kehilangan esensi, korupsi, degradasi moral mahasiswa, hingga keadilan sistemik yang merusak masyarakat. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Berangkat dari sebuah kegelisahannya tentang berbagai persoalan sosial, politik, organisasi dan konflik di Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung Barat (KBB), seorang penulis bernama Deni Permana menorehkan berbagai kritikannya dalam sebuah buku berjudul 'Resah dalam Sejarah'.

'Resah dalam Sejarah' merupakan kumpulan esai dan refleksi kritis yang mengajak pembaca untuk merenungi ironi kehidupan berbangsa, mulai dari pengabdian yang kehilangan esensi, korupsi, degradasi moral mahasiswa, hingga keadilan sistemik yang merusak masyarakat.

Selain, dikemas dengan gaya bahasa yang tajam dan metaforis, melalui bahasa puitis namun pedas buku 'Resah dalam Sejarah' penuh dengan analogi dan sindiran.

"Saya menggabungkan pengalaman pribadi, observasi sosial dan referensi filosofis untuk menyampaikan pesannya," kata Deni Permana usai kegiatan bedah buku perdananya di Bale Gempungan, Komplek Perkantoran Pemkab Bandung Barat.

Bahkan, kata Deni, seringkali dengan nada yang sinis namun tetap menyimpan harapan akan perubahan. 

“Saya menulis dengan bahasa yang sederhana namun tetap mengajak pembaca untuk berpikir. Karena itu, buku ini cocok untuk pelajar, mahasiswa, maupun aktivis yang ingin memahami fenomena sosial dan politik dengan cara yang lebih ringan,” ungkapnya.

Deni menjelaskan, buku 'Resah dalam Sejarah' merupakan sebuah karya seruan untuk membangun kesadaran kolektif, khususnya bagi generasi muda dan para aktivis.

"Hal ini agar mereka tidak terjerumus  dalam pragmatisme dan budaya feodalistik. Sehingga, bisa berpegang teguh pada nilai kebenaran, keadilan, dan pengabdian tulus," jelasnya.

Tak cuma itu, ungkap Deni, buku 'Resah dalam Sejarah' ini juga kian bernilai lantaran kata pengantarnya ditulis sejumlah tokoh, seperti Kepala Program Studi (Prodi) Ilmu Politik S2 Universitas Padjadjaran (Unpad), Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail dan Dinas Pendidikan Bandung Barat.

"Ada beberapa judul dalam buku ini yang merepresentasikan keresahan yang kerap dialami anak muda, seperti Abadi dalam Mengabdi, Pengabdian Tanpa Makna, hingga Degradasi Idealisme Mahasiswa. Bahkan, ada yang terinspirasi dari kalimat tokoh nasional Bambang Pacul, yakni Jadi Korea Sejati, Jadi Kader Sejati," sebutnya.

“Judul-judul itu memang lahir dari pengamatan saya terhadap kondisi sosial dan organisasi. Harapannya, pembaca bisa menjadikannya bahan diskusi di ruang-ruang publik,” jelasnya.

buku 'Resah dalam Sejarah' diterbitkan oleh Adab Adanu Abimata, Indramayu dengan tebal 202 halaman. buku ini bisa diperoleh melalui toko daring seperti Shopee dengan harga Rp74.000 per eksemplar.

Sebagai bocoran, Deni juga tengah menyiapkan karya keduanya yang rencananya akan terbit dalam waktu dekat dengan judul “Pesan-Pesan Untuknya”.

“In syaa Allah, buku berikutnya akan berisi pesan-pesan yang saya tujukan kepada para tokoh nasional maupun tokoh di tingkat Kabupaten Bandung Barat. Tentu, isinya lahir dari pengamatan pribadi dan realitas yang saya rasakan,” tandasnya.

Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail yang turut hadir dalam kegiatan bedah buku tersebut mengapresiasi karya anak muda KBB, seperti Deni Permana.

"buku ini bukan hanya sekadar catatan, tetapi refleksi dari dinamika sosial, politik, dan pendidikan yang bisa menjadi ruang diskusi bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” kata Asep Ismail.


Editor : Doni Ramdhani