Firasat Sopir Bajaj dan Angin Puting Beliung Pembawa Maut di Kabupaten Bogor

Di hadapan Bey Mahmudin, Firman mengungkap firasat. Tentang bajaj dan bencana alam angin puting beliung di kampungnya di Pager Jangkung, Kabupaten Bogor.

Firasat Sopir Bajaj dan Angin Puting Beliung Pembawa Maut di Kabupaten Bogor

INILAH, Cibinong – Di hadapan Bey Mahmudin, Firman mengungkap firasat. Tentang bajaj dan bencana alam angin puting beliung di kampungnya di Pager Jangkung, Kabupaten Bogor.

Bey Machmucin, Penjabat Gubernur Jawa Barat, Selasa (3/9) mengunjungi lokasi bencana di Desa Situ Ilir di Kecamatan Cibungbulan itu. Di sana, dia mendapat banyak informasi apa yang terjadi.

Dari Firman, pengemudi bajai di Jakarta, dia pun mendapat cerita menjelang angin kencang itu bertiup menghajar Pager Jangkung. Firman mengaku sebelumnya sempat memiliki firasat bakal terjadi bencana alam.

“Rencananya, kemarin saya ingin balik ke Jakarta untuk bekerja sebagai sopir bajaj. Tapi hati saya kok nggak enak. Jadinya, saya putuskan kembali ke Jakarta hari ini,” katanya.

Namun, sore menjelang magrib, dia melihat fenomena yang membuatnya risau. Hujan deras dan angin putting beliung melanda kampungnya. Rumahnya termasuk yang tersasar puting beliung. Akibatnya, bangunan itu rata dengan tanah.

Firman menuturkan belum memghitung besar kerugian materil yang dia alami. Yang jelas, semua perabot rumah tangganya hancur.

“Untungnya, hanya istri saya yang kakinya lecet karena terkena pecahan kaca lemari dapur. Empat orang anak dan saya selamat karena tertolong segitiga atap, hingga kami bisa  berhasil ke luar rumah,” tambahnya.

Firman dan keluarganya selamat, tak demikian halnya dengan dua orang warga Kabupaten Blitar yang bekerja di Desa Cimayang, Kecamatan Pamijahan. Keduanya, Pendi (45) dan Wanto (40), meregang nyawa karena tertimpa reruntuhan gudang tempat mereka menetap sementara. Empat kawannya, juga bekerja sebagai kuli bangunan, mengalami luka ringan.

Selain ke Situ Ilir di Cibungbulan, Bey juga meninjau lokasi bencana di Desa Cimayang, Pamijahan itu. Di hadapan warga, dia meminta agar tetap waspada terhadap potensi bencana akibat cuaca ekstrem seperti yang terjadi Senin sore hingga malam kemarin.

“Di musim kemarau ini, saya mengimbau masyarakat hati-hati akan cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin puting beliung,” katanya.

Ia menerangkan walaupun berlansung sebentar, ternyata dampak bencana angin puting beliung cukuplah besar.

Bey pun menugaskan Pemkab Bogor untuk merehabilitasi rumah yang rusak ringan, sedang dan berat.

Penjabat Sekda Kabupaten Bogor, Suryanto Putra yang mendampingi Bey, menyatakan kesiapannya merehabilitasi rumah warga yang mengalami kerusakan. Dana dari anggaran biaya tak terduga (BTT) akan digelontorkan.

“Kami menunggu asesmen dari BPBD, Pemdes dan Pemcam. Lalu warga sesuai dengan tingkat kerusakan akan mendapatkan bantuan uang untuk merehabilitasi rumahnya yang rusak,” kata Suryanto.

Ia menjelaskan anggaran sebesar Rp 60 miliar disiapkan untuk merehabilitasi rumah yang rusak di 17 desa dan 8 kecamatan. “Anggaran BTT kita lebih dari cukup,”  jelasnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor Farid Maruf menambahkan sebagian korban bencana alam angin puting beliung  sudah mendapatkan bantuan makanan hingga sandang.

“Insya Allah hari ini penyaluran bantuan bencana angin puting beliung sampai ke semua korban,” tambah Farid Maruf.

Terkait rehabilitasi, Bey mengimbau masyarakat membangun rumah dengan fondasi yang kokoh. Belajar dari kejadian di dua lokasi tersebut, hujan besar sering terjadi. Kemarin hujan dan angin yang kencang tidak berlangsung lama, hanya 10-15 menit, tapi membuat puluhan bangunan terdampak.

Kepala BMKG Kelas I Bandung Teguh Rahayu meminta masyarakat di wilayah Bogor tetap waspada. Menurutnya secara klimatologis, Kota Bogor dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor merupakan zona 1 musim (tidak ada perbedaan yang signifikan antara musim kemarau dan musim hujan) sehingga potensi hujan tetap ada meskipun di musim kemarau.

“Hujan masih berpotensi di sebagian wilayah Jawa Barat. Mohon tetap waspada akan potensi terjadinya cuaca ekstrem dan selalu mengupdate informasi prakiraan cuaca karena pada periode saat ini perubahan cuaca bisa terjadi sangat cepat,” katanya.

Menurutnya kejadian cuaca ekstrem 2 September 2024, dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yakni MJO yang berada pada kuadran 4 dan faktor lokal yakni labilitas atmosfer yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan awan konvektif. “Kondisi seperti ini masih berpotensi terjadi di beberapa hari ke depan,” katanya.

Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan yang disertai angin kencang dan kilat dan petir. “Segera berlindung di tempat aman, seperti di dalam rumah atau gedung, segera berteduh ketika berkendara dan menjauhi pohon yang tinggi atau besar dan tua,” tutupnya. (reza zurifwan/yuliantono/ing)


Editor : Zulfirman