Sikap Kami: Thoriqoh

HEBAT betul Thoriqoh Nashrullah Fitriyah ini. Ikhlas betul meninggalkan kursi DPRD Jawa Barat. Pertanyaannya, jika dia ikhlas, bagaimana dengan 58 ribu warga Kabupaten Bandung yang menumpukan harapan kepadanya?

Sikap Kami: Thoriqoh

HEBAT betul Thoriqoh Nashrullah Fitriyah ini. Ikhlas betul meninggalkan kursi DPRD Jawa Barat. Pertanyaannya, jika dia ikhlas, bagaimana dengan 58 ribu warga Kabupaten Bandung yang menumpukan harapan kepadanya?

Thoriqoh saat sedikit di Indonesia. Jika rata-rata politisi kemaruk kursi kekuasaan, dia faktanya rela melepaskannya. Dia terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Barat periode 2024-2029 bersama Partai Amanat Nasional (PAN), tapi kemudian mundur dan digantikan Nisya Ahmad.

Thoriqoh bukan satu-satunya anggota DPRD Jawa Barat yang mundur setelah memenangkan kursi. Tapi, hanya dia satu-satunya yang mundur tanpa alasan yang jelas. Yang lain terpaksa mundur untuk memenuhi aturan mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada).

Maka, tindakan Thoriqoh pun menuai kontroversi. Banyak yang mempertanyakannya. Dedi Kurnia Syah, pengamat politik dari Indonesia Political Opinion (IPO), menyebutkan pelantikan Nisya Ahmad sebagai anggota DPRD Jawa Barat telah mencoreng kontestasi pemilu.

Nisya adalah caleg PAN untuk DPRD Jabar dari Dapil Kabupaten Bandung. Di pemilu lalu, dia mendapatkan 50 ribuan suara. Dia adalah adik pesohor Raffi Ahmad. Raffi sendiri kerap wira-wiri bersama Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan, dalam berbagai kesempatan.

Adakah yang cawe-cawe sehingga Thoriqoh sebenarnya tidak mundur, melainkan “dipaksa” mundur? Publik wajar saja memiliki banyak pandangan dan berspekulasi macam-macam.

Tapi begini, kursi DPRD itu bukanlah kursi gratis. Dia harus diraih dengan integritas, popularitas, dan isi tas. LPEM Universitas Indonesia belum lama ini merilis hasil penelitian dan riset, rata-rata caleg DPRD mengeluarkan dana Rp320-481 juta dalam perjuangan merebut kursi wakil rakyat.

Adakah Thoriqoh ikhlas mengeluarkan uang sejumlah itu dan ketika punya kesempatan mengembalikan lewat gaji dan honor di DPRD, lalu melepasnya? Jika itu, kita angkat tangan, hormat, kepadanya.

Tapi, sungguhpun begitu, kita tak bisa membebaskan Thoriqoh begitu saja. Sebab apa? Dia membawa harapan dari sekitar 58 ribu masyarakat pemilih di Dapil Kabupaten Bandung. Puluhan ribu warga itulah yang berharap dia perjuangkan. Kini, dengan mundur, tanpa “alasan yang jelas sesungguhnya”, masyarakat patut kecewa.

PAN Jabar sendiri belum bisa memberikan alasan terang benderang tentang mundurnya Thoriqoh dan pengangkatan Nisya. Mereka hanya bilang PAN menyiapkan posisi politik, job lain, mungkin oleh partai. Wahai, sebesar apakah PAN sehingga memungkinkan untuk menentukan job lain untuk kadernya di panggung politik? (*)


Editor : Zulfirman