Galuga Dijaga dari Ancaman Api Susulan: Usai Bara, Lanjut Siaga
SEPULUH hari api membakar Galuga. Setelah petugas gabungan ditarik, kewaspadaan dilanjutkan DLH Kota Bogor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Rizki Mauludi
Api boleh padam, tetapi pekerjaan di TPAS Galuga belum selesai. Setelah 10 hari penanganan, petugas gabungan mulai ditarik dan tanggung jawab menjaga lokasi beralih kepada jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor.
Sebanyak 15 petugas DLH mendapat pelatihan khusus untuk menghadapi kemungkinan munculnya kembali asap atau api. Mereka dibekali pemahaman mitigasi awal hingga langkah pendinginan ketika menemukan titik panas.
“Ketika terjadi bencana yang sama atau setidaknya muncul asap, mereka bisa melakukan langkah pendinginan awal,” ujar Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, Minggu (27/9).
Kesiapsiagaan juga dibangun di sekitar lokasi. Petugas bergotong royong membuat embung air di sejumlah titik. Terpal, selang, dan pompa air disiapkan agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat ketika asap kembali terlihat.
Patroli khusus pun disiapkan. Petugas akan bekerja secara bergantian untuk memastikan kondisi TPAS tetap terpantau.
Lima belas petugas tersebut berada di luar operator dan petugas timbang. Saat ini terdapat 12 operator serta lima petugas timbang yang tetap menjalankan tugasnya.
Meski pasukan gabungan telah ditarik, dukungan tetap disiapkan. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), BPBD, serta lintas organisasi perangkat daerah tetap akan membantu jika kondisi darurat kembali terjadi.
“Sambil dilakukan pendinginan setiap hari,” kata Jenal.
Pemerintah Kota Bogor juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Sumur bor, kanalisasi, hingga CCTV direncanakan untuk memperkuat pengawasan dan penanganan di TPAS Galuga.
Bagi Jenal, perhatian terhadap Galuga tidak bisa berhenti pada padamnya api. Sebelum pengolahan sampah melalui PSEL diterapkan, kawasan tersebut masih membutuhkan kesiapsiagaan dan pengawasan khusus.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor Dimas Tiko menambahkan, embung yang telah dibuat harus dipastikan selalu terisi. Pola mobil tangki juga perlu disusun agar pasokan air tersedia ketika sewaktu-waktu dibutuhkan. (gin)
Editor : Inilahkoran

