Gangguan Mental Remaja Cimahi Meningkat, Pemkot: Butuh Peran Sekolah dan Keluarga
Pemkot CImahi mengaku gangguan kesehatan mental remaja meningkat dan dibutuhkan bantuan sekolah dan keluarga untuk mencegahnya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Fenomena meningkatnya gangguan kesehatan mental di kalangan pelajar yang diindikasikan mencapai hampir 50 persen di wilayah Bandung Raya menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi.
Angka ini disebut-sebut menandakan ketahanan psikologis anak dan remaja saat ini semakin rapuh, sehingga upaya pencegahan tidak bisa lagi hanya bersifat reaktif, melainkan harus menjadi prioritas utama sistem pendidikan dan pengasuhan.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Cimahi, Kusnia Rustiani mengatakan, membangun mental yang tangguh sejak dini menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak bekerja sendiri, melainkan menggandakan peran guru, konselor sekolah (BK), dan orang tua sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan pembinaan karakter.
"Kita tidak bisa menutup mata terhadap data yang ada. Guru di sekolah dan orang tua di rumah harus memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana pola asuh yang tepat dan lingkungan yang suportif," kata Kusnia, Selasa (7/4/2026).
Sepanjang tahun 2025, ungkap Kusnia, tercatat 82 kasus kekerasan terhadap anak dengan tren yang berfluktuasi, dan hingga Maret 2026 sudah ada 16 kasus baru.
"Angka ini menjadi bukti lingkungan pertumbuhan anak masih belum sepenuhnya aman dan mendukung," sebutnya.
"Oleh karena itu, pendekatan holistik diterapkan melalui penguatan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di setiap jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi," tegasnya.
Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA, Yukie Agustia Kusmala tak memungkiri tantangan terbesar saat ini, yakni derasnya arus informasi dan fenomena fatherless atau kurangnya peran ayah.
Oleh karenanya, pemerintah mendorong keterlibatan aktif kedua orang tua, termasuk gerakan ayah mengambil raport, untuk memberikan rasa aman dan dukungan psikologis yang utuh bagi anak.
"Anak-anak sekarang mudah membandingkan kondisi mereka dengan orang lain lewat media sosial. Ini memicu tekanan batin," kata Yukie.
"Oleh karena itu, keterlibatan ayah dan pola komunikasi keluarga yang sehat menjadi sangat krusial," jelasnya.
Lebih jauh Yukie menekankan pentingnya penanganan kasus dimulai dari asesmen mendalam, namun yang lebih penting adalah pembekalan skill atau keterampilan hidup.
"Manajemen stres dan cara menghadapi masalah harus diajarkan sedini mungkin, sehingga anak tidak mudah terguncang saat menghadapi tekanan akademik maupun sosial, termasuk kasus bullying," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti
