Tantangan Kesehatan Mental Meningkat, UPTD PPA Cimahi Bangun Sistem Deteksi Dini
Risiko gangguan jiwa seperti kecemasan (ansietas) dan depresi yang mengintai hampir separuh pelajar menjadi perhatian serius Pemkot Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Risiko gangguan jiwa seperti kecemasan (ansietas) dan depresi yang mengintai hampir separuh pelajar menjadi perhatian serius Pemkot Cimahi.
Kondisi itu menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan perkembangan zaman dengan kesiapan mental generasi muda yang harus dijawab dengan strategi pengelolaan psikologis yang terstruktur dan menyeluruh.
UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Cimahi merespons hal itu dengan memperluas jangkauan sosialisasi dan pembinaan.
Kepala UPTD PPA Kota Cimahi Kusnia Rustiani mengatakan, upaya preventif menjadi investasi jangka panjang.
Data menunjukkan adanya 82 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2025 dan 16 kasus di awal tahun 2026 menjadi dasar bahwa perlindungan harus diperketat di lingkungan sekolah maupun rumah.
"Kita harus memastikan bahwa anak-anak tumbuh di lingkungan yang aman. Guru BK dan orang tua adalah mitra strategis kita untuk memantau perkembangan emosi dan mental anak-anak ini," kata Kusnia, Selasa (7/4/2026).
Kusnia menjelaskan, pendekatan yang diterapkan membagi dua jalur utama, yaitu pencegahan dan penanganan.
"Di sisi pencegahan, pemerintah fokus pada pembentukan karakter melalui program Sekolah Ramah Anak dan penguatan kapasitas Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang kini sudah tersedia di hampir seluruh institusi pendidikan," jelasnya.
Sedangkan, Psikolog Klinis UPTD PPA Yukie Agustia Kusmala mengungkapkan tantangan zaman now membuat anak rentan terhadap masalah psikologis.
"Paparan informasi digital dan kurangnya figur ayah dalam pengasuhan menjadi isu yang disoroti," kata Yukie.
Menuruntya, program parenting digencarkan tidak hanya untuk ibu, tetapi juga mengajak ayah lebih aktif terlibat dalam tumbuh kembang anak.
"Keterlibatan ayah itu penting untuk membangun rasa percaya diri dan keamanan emosional," ujarnya.
"Gerakan seperti ayah yang mengambil raport adalah simbol dukungan yang nyata bagi anak," sambungnya.
Dalam hal penanganan kasus, setiap laporan akan melalui tahapan asesmen yang detail terhadap anak, lingkungan pertemanan, dan pihak sekolah. Namun, kunci utama keberhasilan terletak pada edukasi lanjutan.
"Seluruh elemen sekolah dibekali pemahaman yang sama mengenai manajemen stres dan cara menghadapi masalah, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang sehat, suportif, dan bebas dari kekerasan," paparnya.
Editor : Doni Ramdhani

