ADHD Tak Hanya Dialami Anak, Banyak Orang Baru Terdiagnosis Saat Dewasa
Kesadaran kesehatan mental meningkat membuat lebih banyak orang baru mengetahui mengidap ADHD saat dewasa. Simak penjelasan para ahli.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Selama bertahun-tahun, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kerap dianggap sebagai gangguan yang hanya dialami anak-anak. Padahal, banyak orang baru mengetahui dirinya mengidap ADHD setelah memasuki usia dewasa.
Berdasarkan laporan The Conversation, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental membuat semakin banyak orang mengenali pola kesulitan yang selama ini mereka alami, seperti sulit mempertahankan perhatian, mudah lupa, hingga kesulitan mengatur aktivitas sehari-hari.
Banyak Kasus ADHD Dulu Tidak Terdiagnosis
Para peneliti menjelaskan bahwa pada masa lalu banyak kasus ADHD tidak teridentifikasi, terutama pada perempuan.
Gejalanya sering kali tidak berupa perilaku hiperaktif, melainkan lebih dominan berupa kesulitan berkonsentrasi, mudah terdistraksi, atau kesulitan mengelola tugas. Kondisi tersebut kerap dianggap hanya sebagai sifat pribadi sehingga tidak pernah diperiksa lebih lanjut.
Akibatnya, banyak orang baru memperoleh diagnosis ketika sudah dewasa setelah menyadari pola kesulitan yang terus berulang dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sehari-hari.
Media Sosial Meningkatkan Kesadaran
Media sosial turut berperan dalam meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai ADHD.
Berbagai pengalaman yang dibagikan pengguna membuat banyak orang mulai mengenali gejala yang selama ini mereka alami dan menyadari kemungkinan adanya penjelasan medis di balik kesulitan tersebut.
Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa informasi di media sosial tidak dapat dijadikan dasar untuk mendiagnosis diri sendiri.
Sulit Fokus Belum Tentu ADHD
Peneliti menegaskan bahwa tidak semua orang yang mengalami kesulitan berkonsentrasi berarti mengidap ADHD.
Keluhan serupa juga dapat dipicu oleh berbagai kondisi lain, seperti kurang tidur, stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, depresi, hingga tekanan pekerjaan yang tinggi.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan menyeluruh agar penyebab sebenarnya dapat diketahui.
Diagnosis Harus Dilakukan Tenaga Kesehatan
Dalam proses diagnosis, dokter atau tenaga kesehatan akan mengevaluasi riwayat gejala sejak masa kanak-kanak, menilai dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, serta memastikan keluhan tersebut bukan disebabkan oleh gangguan kesehatan lain.
Para peneliti menilai meningkatnya jumlah diagnosis ADHD merupakan tanda positif karena menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin baik.
Meski demikian, yang terpenting adalah memastikan setiap individu memperoleh pemeriksaan yang tepat sehingga diagnosis dan penanganan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.***
Editor : JakaPermana


