Skin-Brain Axis: Saat Masalah Kulit dan Kesehatan Mental Saling Memengaruhi
Skin-brain axis menjelaskan hubungan dua arah kulit dan otak. Stres dapat memperburuk kulit, sementara peradangan kulit dapat memengaruhi kesehatan mental.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Para ilmuwan semakin memahami adanya hubungan dua arah antara kulit dan otak yang dikenal sebagai skin-brain axis atau jalur kulit-otak. Jaringan komunikasi ini melibatkan sistem saraf, hormon, dan sistem kekebalan tubuh yang saling mengirimkan sinyal.
Hubungan tersebut membantu menjelaskan mengapa stres dapat memperburuk sejumlah masalah kulit, sementara penyakit kulit kronis juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Stres Dapat Memengaruhi Kondisi Kulit
Hubungan antara kulit dan otak sebenarnya telah terbentuk sejak perkembangan embrio. Keduanya berasal dari lapisan jaringan embrional yang sama dan kemudian terus berkomunikasi melalui berbagai sinyal saraf, hormonal, dan kimiawi.
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh dapat meningkatkan pelepasan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Perubahan tersebut dapat memengaruhi fungsi kulit, termasuk respons peradangan, produksi sebum, serta kekuatan lapisan pelindung kulit.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat memperburuk masalah kulit tertentu, termasuk jerawat atau penyakit kulit yang berkaitan dengan peradangan.
Sebaliknya, masalah kulit yang berlangsung lama juga dapat menjadi sumber stres. Perubahan pada penampilan, rasa tidak nyaman, atau kekhawatiran terhadap kondisi kulit dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental.
Kondisi ini kemudian dapat membentuk siklus yang saling memperburuk: stres memengaruhi kulit, sementara masalah kulit kembali meningkatkan stres.
peradangan kulit Juga Berkaitan dengan Otak
Komunikasi antara kulit dan otak tidak hanya berlangsung dari otak menuju kulit. Kulit yang mengalami peradangan juga dapat menghasilkan berbagai molekul sistem imun, termasuk sitokin.
Molekul tersebut berperan dalam mengatur respons peradangan tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa sinyal peradangan dari tubuh dapat berkomunikasi dengan sistem saraf dan memengaruhi sejumlah fungsi otak, termasuk respons terhadap stres, tidur, energi, dan suasana hati.
Namun, hubungan antara peradangan dan gangguan kesehatan mental masih kompleks. Peradangan bukan satu-satunya penyebab depresi atau kecemasan, dan penelitian masih terus dilakukan untuk memahami mekanisme serta hubungan sebab-akibatnya.
Karena itu, penyakit kulit kronis sebaiknya tidak hanya dilihat dari gejala fisiknya. Kondisi psikologis dan kualitas hidup pasien juga penting diperhatikan dalam penanganannya.
Muncul Konsep Precision psychodermatology
Pemahaman mengenai hubungan kulit dan otak turut mendorong berkembangnya pendekatan psychodermatology, yaitu bidang yang memperhatikan hubungan antara kondisi kulit dan faktor psikologis.
Ke depan, pendekatan yang lebih presisi dapat menggabungkan dermatologi, kesehatan mental, ilmu imunologi, hingga teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Misalnya, dua orang dengan kondisi kulit yang terlihat serupa belum tentu memiliki pemicu yang sama. Pada satu pasien, faktor peradangan mungkin lebih dominan, sedangkan pada pasien lain stres, kecemasan, pola tidur, atau faktor psikologis dapat berperan lebih besar.
Dengan memahami faktor yang paling berpengaruh pada masing-masing pasien, dokter dapat menentukan kombinasi penanganan yang lebih sesuai.
skin-brain axis Bukan Berarti Semua Penyakit Kulit Berasal dari Stres
Meski hubungan kulit dan otak semakin jelas, bukan berarti semua masalah kulit disebabkan oleh stres atau semua penyakit kulit dapat disembuhkan dengan menangani kondisi mental.
jerawat, eksim, psoriasis, dan penyakit kulit lainnya memiliki banyak faktor penyebab, termasuk genetik, sistem imun, hormon, lingkungan, dan mikrobioma.
Karena itu, pendekatan terbaik tetap berupa penanganan medis yang sesuai dengan penyebab dan kondisi masing-masing pasien. Faktor stres dan kesehatan mental dapat menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan, terutama ketika kondisi kulit berlangsung kronis atau sangat memengaruhi kualitas hidup.***
Editor : JakaPermana

