Berapa Lama Perlu Terkena Sinar Matahari? Ini Penjelasannya

Paparan sinar matahari membantu produksi vitamin D, tetapi terlalu lama dapat berisiko. Ketahui durasi dan cara mendapatkan manfaat matahari dengan aman.

Berapa Lama Perlu Terkena Sinar Matahari? Ini Penjelasannya
Ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-sinar matahari sering dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari karena paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan kulit hingga kanker kulit. Namun, tubuh tetap membutuhkan paparan sinar matahari dalam jumlah tertentu, terutama untuk membantu produksi vitamin D.

vitamin D berperan dalam menjaga kesehatan tulang dan otot, mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh, serta memiliki kaitan dengan suasana hati dan kualitas tidur. Lantas, berapa lama sebenarnya tubuh perlu mendapatkan paparan sinar matahari?

Paparan Singkat dan Rutin Lebih Dianjurkan

Dilansir dari BBC, ahli fisiologi Rebecca Mason dari University of Sydney menjelaskan bahwa paparan sinar matahari sebaiknya dilakukan dalam waktu singkat tetapi secara rutin.

Produksi vitamin D paling efektif ketika sinar UVB cukup tinggi, terutama di sekitar tengah hari. Bagi orang dengan kulit terang, paparan selama beberapa menit pada bagian tubuh seperti tangan, lengan, atau kaki selama beberapa hari dalam sepekan umumnya dapat membantu produksi vitamin D.

Sementara itu, orang dengan kulit lebih gelap biasanya membutuhkan waktu paparan yang lebih lama. Hal ini disebabkan melanin dalam kulit dapat membuat proses produksi vitamin D berlangsung lebih lambat.

Namun, tidak ada durasi paparan yang berlaku sama untuk setiap orang.

Banyak Faktor Memengaruhi Kebutuhan sinar matahari

Kebutuhan paparan sinar matahari dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari warna kulit, lokasi tempat tinggal, musim, usia, luas permukaan kulit yang terkena matahari hingga indeks UV.

Orang dengan kulit sangat pucat, memiliki banyak tahi lalat, mempunyai riwayat kanker kulit, atau mengonsumsi obat yang menekan sistem kekebalan tubuh perlu lebih berhati-hati terhadap paparan sinar UV.

Karena itu, durasi berjemur tidak seharusnya dijadikan patokan tunggal. Kondisi individu dan tingkat paparan UV di lingkungan juga perlu diperhatikan.

sinar matahari Punya Manfaat bagi Tubuh

Selain membantu produksi vitamin D, paparan cahaya alami juga memiliki manfaat bagi tubuh.

Cahaya pagi dapat membantu mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Paparan cahaya alami memberikan sinyal kepada otak bahwa hari telah dimulai sehingga dapat membantu menjaga pola tidur.

Cahaya alami juga dikaitkan dengan suasana hati yang lebih baik dan fungsi kognitif. Sementara itu, vitamin D dibutuhkan tubuh untuk membantu menjaga kesehatan tulang, fungsi otot, serta sistem kekebalan tubuh.

Terlalu Lama Terpapar Matahari Justru Berisiko

Meski memiliki manfaat, paparan sinar matahari yang terlalu lama tidak membuat tubuh menghasilkan vitamin D tanpa batas.

Sebaliknya, paparan UV berlebihan dapat menyebabkan kulit terbakar, mempercepat penuaan kulit, menimbulkan perubahan warna kulit, merusak mata, serta meningkatkan risiko kanker kulit.

Risiko tersebut semakin besar apabila kulit berulang kali terkena sinar UV tanpa perlindungan.

Gunakan Prinsip “Sedikit dan Sering”

Karena itu, prinsip yang lebih aman adalah “sedikit dan sering”. Paparan sinar matahari dalam waktu singkat dapat dilakukan secara rutin, tetapi kulit tetap perlu dilindungi ketika indeks UV tinggi.

Perlindungan dapat dilakukan dengan menggunakan pakaian yang menutup kulit, topi, kacamata hitam, serta tabir surya sesuai kebutuhan.

Bagi orang yang sulit mendapatkan paparan matahari, kebutuhan vitamin D dapat diperoleh melalui makanan atau suplemen apabila memang diperlukan. Namun, konsumsi suplemen vitamin D dalam jumlah berlebihan juga dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Tidak Perlu Menghindari Matahari Sepenuhnya

Pada akhirnya, tubuh tidak perlu menghindari matahari sepenuhnya. Namun, sengaja berjemur dalam waktu lama juga bukan pilihan yang lebih sehat.

Paparan sinar matahari singkat dan rutin, disertai perlindungan kulit ketika diperlukan, dapat menjadi pendekatan yang lebih seimbang untuk memperoleh manfaat cahaya alami sekaligus mengurangi risiko paparan UV berlebihan.***


Editor : JakaPermana