Buah Ajaib Asal Kepulauan Banda Ini Miliki Banyak Manfaat, Salah Satunya Tangkap Pandemi
Jika berbicara mengenai rempah yang berkhasiat, buah pala adalah salah satunya. Tumbuhan bernama latin Myristica fragrans pengobatan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN-Jika berbicara mengenai rempah yang berkhasiat, buah pala adalah salah satunya. Tumbuhan bernama latin Myristica fragrans ini telah digunakan selama berabad-abad dalam praktik pengobatan herbal dan bumbu masakan.
Buah pala memiliki sejarah panjang terkait penyebarannya. Berasal dari Kepulauan Banda hingga kini manfaatnya dapat dinikmati oleh seantero dunia.
Rempah ini biasa dijadikan sebagai obat hingga sekadar bumbu dapur untuk melengkapi cita rasa makanan.
Baca Juga: Tertangkap Basah Ciuman dengan Zikri Daulay, 5 Foto Ayu Aulia Ini Diunggah di Instagram
Dalam kuliner Indonesia, pala digunakan dalam berbagai resep, terutama untuk masakan berkuah seperti beberapa soto, konro, sup buntut, sup iga, bakso, dan sup kambing.
Pala juga digunakan dalam saus untuk hidangan yang berasal dari Eropa seperti bistik, semur, rolade, bistik lidah, juga menjadi garnish dalam berbagai jenis cocktail.
Namun tidak hanya sebagai bumbu dapur atau sebagai obat, pala dipercaya memiliki banyak kegunaan lain.
Pala Sebagai Penangkal Pandemi
Pada pertengahan hingga abad ke-14 (1347-1351), buah ini dipercaya dapat menangkap Pandemi Black Death yang melanda Eropa. Di mana kala itu membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi.
Hal tersebut seperti yang disebutkan dalam dalam buku karya Penny Le Couteur dan Jay Burreson berjudul Napoleon’s Buttons.
Berdasarkan literasi tersebut, kala itu masyarakat selalu membawa kantung kecil yang di kalungkan ke sekitar leher. Di mana para kantung kecil tersebut berisi pala yang dipercaya dapat menangkal terkena Black Death.
Baca Juga: The Mysterious Class, Web Drama Treasure Tuai Prestasi
Adapun Black Death sendiri muncul melalui tiga varian penularan. Paling umum merupakan Varian Pes berasal dari pembengkakan kelenjar getah bening (Bubo) yang muncul di leher korban, ketiak ataupun pangkal paha.
Varian kedua merupakan wabah Pneumonia yang menyerang sistem pernapasan dan disebarkan hanya dengan menghirup udara yang dihembuskan melalui korban.
Varian ketiga merupakan penularan wabah Septicemia, wabah ini menyerang sistem darah. Berbeda dengan kedua wabah lainnya, varian ini dapat menyebar melalui gigitan serangga atau hewan pengerat yang telah terinfeksi, atau melalui kontak dengan manusia yang telah terinfeksi lainnya.
Baca Juga: Ridwan Kamil Ungkap 180 Vaksin Nyaris Kedaluwarsa
Penggunaan pala untuk mengatasi Black Death tersebu awalnya hanya dianggap sebagai hoax. Kendati begitu, bilamana melihat reaksi kimia, pala memiliki aroma khusus yang enak berasal dari isoeugenol. Komponen tersebut sebagai insektisida alami untuk mengusir kutu.
Meskipun begitu, hingga kini belum ada bukti secara akurat apakah pala dapat benar-benar dapat menjadi benteng bagi penggunanya dari Pandemi Black Death.
Yang pasti, sekitar tahun 1.000 Masehi, ahli obat-obatan dari Persia, yaitu Ibnu Sina mendeskripsikan Pala sebagai 'Jansi Ban' atau Kacang dari Banda.
Harga Fantastis
Baca Juga: Twitter Blokir Akun Anggota DPR AS Karena Melanggar Kebijakan Ini
Di era digital ini, jika melihat di marketplace, untuk satu kilo manisan pala dibanderol dengan harga sekitar Rp60 ribu. Mahal atau murah tentunya sangat relatif, tergantung kemampuan finansial dari yang akan membeli.
Namun jika melihat pada zaman dulu, khususnya 4-5 abad yang lalu, harganya akan berkali-kali lipat. Seorang penyiar televisi, Kate Humble pernah menyampaikan melalui BBC populer bahwa pada masa itu sekarung buah pala dapat membeli sebuah rumah di London, Inggris. .
Dalam daftar harga pasar di Jerman, ditulis bahwa 1 pon (kira-kira 1/2 kg buah pala) seharga dengan " Tujuh Sapi Jantan Dewasa yang Gemuk".
Jika kembali melihat di marketplace, harga sapi dengan bobot 400 kilogram sekitar Rp 30 juta, maka untuk 1/2 kilogram buah pala seharga Rp210 juta. Harga yang fantastis bukan?
Masa itu, permintaan akan buah pala (dan rempah-rempah secara umum) memang tinggi. Hanya saja tidak dibarengi dengan ketersediaan suplai yang memadai.
Terlebih, tanaman pala merupakan tanaman yang cukup lama pertumbuhannya hingga masa panen. Panen pertama dilakukan tujuh sampai sembilan tahun setelah pohonnya ditanam dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Pohon pala dapat tumbuh hingga 20m dan usianya bisa mencapai ratusan tahun
Selain itu juga dikarenakan biaya distribusinya yang tidak murah, mulai dari penghasil pala yang jauh di belahan benua lain, yang di bawa oleh para pedagang Arab dan China, dan dijual melalui pedagang-pedagang Italia di Venesia, maupun melalui jalan sutera, memerlukan usaha dan biaya yang besar.
Namun alasan mengenai harga pala yang fantastis kala itu, hingga kini pun belum dapat dipastikan secara terukur. Begitu banyak kemungkinan lainnya, termasuk mengenai sejarah buah pala yang disebut sebagai rempah yang diperebutkan dengan darah. (Riantonurdiansyah)***
Editor : inilahkoran


