Heboh Artis Adopsi Boneka Arwah, Begini Tanggapan Psikolog Unpad Retno Hanggarani Ninin
Psikolog Unpad Retno Hanggarani Ninin memberi tanggapan soal fenomena sederet artis koleksi boneka arwah (spirit doll).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Fenomena para artis adopsi boneka arwah (spirit doll) jadi pro kontra. Psikolog Unpad, Retno Hanggarani Ninin mengutarakan pandangannya.
Ivan Gunawan jadi satu dari sederet artis yang adopsi boneka arwah. Menyusul banyak kontroversi yang muncul, Retno Hanggarani Ninin pun memberi penjelasan dari sisi keilmuan.
Di mata Retno Hanggarani Ninin, fenomena artis adopsi boneka arwah harus dilihat dari berbagai sudut pandang.
Menurut Dosen Departemen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), itu fenomena adopsi spirit doll bisa dilihat dari sudut pandang kemampuan psikologis yang dimiliki seseorang.
Baca Juga: Ini Penyakit Paling Ganas di Dunia Menurut Ustadz Abdul Somad, Adakah Gejalanya dalam Diri Kita?
Retno Hanggarani Ninin mengatakan, setiap orang terlahir dengan kapasitas psikologis yang memungkinkan dia mampu bertahan menghadapi situasi atau persoalan apa pun.
Kapasitas psikologis tersebut ditumbuhkan dan dikembangkan melalui pola asuh, pendidikan formal, serta pendidikan sosial, yang membuat kemampuannya makin mumpuni dalam menghadapi beragam persoalan ketika dewasa.
“Kalau proses itu benar dan baik, dia akan tumbuh dengan kemampuan yang cukup untuk menghadapi persoalan hidupnya,” kata Retno Hanggarani Ninin, dalam siaran Pers Unpad, Minggu 9 Januari 2022.
Baca Juga: Rahasia Dahsyat, Ustadz Adi Hidayat Bongkar Bacaan Saat Sujud Sholat, Bikin Semua Hajat Terkabul!
Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman positif dalam proses tumbuh kembangnya.
Ada pengalaman pola asuh, pendidikan, dan relasi tertentu yang bisa membuat kemampuan psikologis tadi menjadi kurang mumpuni atau bahkan tidak dimiliki.
Ketidakmampuan untuk bertahan tersebut mendorong seseorang memilih cara-cara tertentu untuk menguatkan.
Salah satunya menggunakan alat bantu seperti spirit doll atau boneka arwah.
“Pada dasarnya, jika seseorang dalam tumbuh kembangnya mengalami proses yang positif dan ideal, maka hal-hal itu tidak diperlukan,” imbuhnya.
Baca Juga: Secuil Penyesalan Mohammed Rashid Usai Persib Taklukkan Persita 1-0
Dia memaparkan, batas kewajaran terhadap fenomena ini bergantung pada peran yang diletakkan seseorang (pemiliknya) pada boneka tersebut.
Jika anak-anak yang bermain boneka dan memperlakukannya layaknya temannya, itu merupakan sebuah kewajaran dari perspektif tumbuh kembang, karena faktor usianya.
“Pada usia anak, ketika dia berkomunikasi dengan boneka, seolah-olah bonekanya hidup dan menjadi teman bermain itu adalah sesuatu yang wajar. Kita tidak menganggapnya wajar ketika di tahapan usia lanjut, mereka memperlakukan boneka dengan cara yang sama,” kata Retno Hanggarani Ninin.
Baca Juga: Kabupaten Bogor Targetkan PAD Rp3,14 Triliun Pada 2022
Dia mengungkapkan, ketika di usia dewasa seseorang masih memperlakukan boneka seperti pada usia anak-anak, maka ada sesuatu dari kondisi psikologisnya yang mencetuskan dia untuk membutuhkan cara tersebut.
Ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi persoalan hidup secara mandiri kadang kala membuatnya memerlukan teman untuk mendengar, berdiskusi, dan berbicara.
Ketiadaan pendamping yang bisa diajak mendengar, berkomunikasi, dan memberikan dukungan, bisa jadi membuat seseorang memilih untuk memiliki “teman komunikasi” yang lain.
“Kalau kita lihat, pada umumnya, berdasarkan tradisi dan budaya, perilaku itu bisa jadi tidak lazim. Akan tetapi, kenyataannya ada orang yang memilih cara itu untuk membuatnya memiliki teman berkomunikasi atau teman hidup. Padahal, ‘teman’ yang dia pilih itu tidak bisa menjadi partner untuk memberikan komunikasi atau emosi balasan,” jelasnya.
Baca Juga: Oki Setiana Dewi Ajak Berkontribusi untuk Pembangunan Pesantren Pertama di AS
Retno Hanggarani Ninin mengatakan, apabila orang tersebut masih dalam asuhan orang tua, maka orang tua perlu memberikan pengasuhan yang seharusnya, agar anak bisa berkembang dengan optimal.
Pengasuhan yang baik dan optimal akan membuat anak punya kesiapan untuk bertahan secara mandiri dalam menyelesaikan persoalan hidupnya.
Ketika seseorang yang mengalaminya sudah dewasa, yang seharusnya secara psikologis sudah mandiri, orang tua maupun anggota keluarga lain bisa menjadi support system.
Hal tersebut bertujuan untuk menyangga ketika ada kondisi psikologis tertentu yang tampaknya memerlukan dukungan.
Namun, kata Retno Hanggarani Ninin, dampak support system bisa bersifat konstruktif (membangun), bisa pula destruktif (menghancurkan). Konstruktif terjadi apabila apa yang dilakukan anggota keluaga sesuai dengan apa yang diinginkan orang yang didukung.
Baca Juga: Bukan Hanya Ashanty, Kemenkes Sebut 8 Orang Ini Juga Positif Covid-19 Usai dari Turki, Siapa Saja?
Jika dukungan tidak sesuai dengan yang diharapkan, support system bisa menjadi destruktif.
“Arah support ini bisa ke mana, bergantung kesepakatan antara anggota keluarga yang men-support dengan anggota keluarga yang di-support,” katanya.
Saking viralnya, beberapa orang penasaran bahkan ingin membeli spirit doll. Retno Hanggarani Ninin menegaskan untuk memperhatikan urgensi dari memiliki boneka tersebut.
Baca Juga: Posting Cuplikan Video Gala Sky, Doddy Sudrajat Malah Dikritik Netizen : Itu Asin!
“Tujuan kita memiliki sesuatu itu penting. Kalau sesuatu itu kita butuhkan untuk kebutuhan dasar, maka kita layak untuk membelinya,” katanya.
Karena itu, membeli spirit doll harus jelas tujuannya untuk apa. Bila untuk suvenir atau hobi serta memiliki kemampuan untuk membeli, maka membeli spirit doll serupa dengan membeli suvenir-suvenir lain pada umumnya.
Namun, ketika orang merasa perlu membelinya karena menganggap bahwa spirit doll bisa memberikan efek psikologis yang menenangkan, pada saat ia sedang berada dalam keadaan yang membutuhkan ketenangan, maka situasi ini yang mesti diwaspadai.
Baca Juga: Eks Sekretaris MA Huni Lapas Sukamiskin Bersama Menantunya
“Yang perlu diwaspadai juga adalah ketika seseorang membeli boneka itu hanya karena melihat efek positif dari model yang memilikinya, yang ada di media sosial, padahal yang dilihat di media sosial tersebut belum tentu benar,” ujarnya.*** (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran


