Genjot Nilai Produk, Pemprov Jabar Bakal Optimalkan Hilirisasi

Pemprov Jabar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bakal mengoptimalkan hilirisasi guna menggenjot nilai produk.

Genjot Nilai Produk, Pemprov Jabar Bakal Optimalkan Hilirisasi
Kepala Disperindag Jabar Nining Yuliastiani menerangkan, tidak sedikit produk asal Jabar yang selama ini diekspor merupakan barang mentah. (dok)

INILAHKORAN, Bandung - Pemprov Jabar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bakal mengoptimalkan hilirisasi guna menggenjot nilai produk.

Kepala Disperindag Jabar Nining Yuliastiani menerangkan, tidak sedikit produk asal Jabar yang selama ini diekspor merupakan barang mentah.

Khususnya dari produk pertanian dan perikanan. Padahal kata dia, ini berpotensi untuk meningkatkan harga jual bila mampu diolah dan dikemas lebih baik.

"Seperti salah satu bahan ekspor kita itu kan produk pertanian dan perikanan. Kebanyakan masih berupa barang mentah, belum misalnya packaging bagus banget seperti di Vietnam, Thailand sudah produk olahan," ujar Nining di Kota Bandung, Selasa 29 April 2025.

Dia menilai, bila industri di Jabar mampu melakukan hilirisasi. Mengolah bahan mentah menjadi barang jadi secara mandiri, kemudian diekspor. Tentunya akan memberi nilai tambah untuk meningkatkan pendapatan.

"Kalau ke depan kita mengembangkan terus produk kita, terutama sumber daya alam tadi menjadi suatu produk yang added value lebih tinggi. Saya yakin kita bisa berkompetisi dengan negara lain," kata dia.

Hal serupa juga berlaku untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), yang mana saat ini Indonesia masih bergantung pada bahan mentah dari luar negeri, khususnya China atau Tiongkok.

Hadirnya Peraturan Kementerian Perindustrian (Permenperin) Nomor 5 Tahun 2024 kata Nining, harus bisa dioptimalkan industri dalam negeri untuk memproduksi sendiri bahan baku. Tujuannya, salah satunya untuk menekan biaya produksi yang kemudian berdampak dengan meningkatnya daya saing produk.

"Dalam posisi, salah satu barang impor kita serat polyester, benang filamen dan bahan tekstil. Itu kemudian banyak bahan baku tadi dimanfaatkan pelaku usaha menjadi barang jadi dan diekspor. Kita bukan tidak ada kesempatan untuk produksi sendiri. Tapi kemudian perlu didukung kebijakan dari pemerintah," kata dia.

Dengan pertimbangan teknis (Pertek) yang ketat dari pemerintah terhadap bahan baku impor, diyakini mampu mengokohkan produk dalam negeri.

"Misalnya dalam posisi terhadap barang impor dari China, kita lakukan Pertek dan persetujuan impor yang lebih ketat terhadap barang yang bisa kita produksi. Juga ini akan mendorong pelaku usaha untuk mau mendirikan industri untuk bahan baku tekstil seperti filamen, polyester untuk menjadi bahan baku mereka. Kemudian cukup, bisa berkompetensi dengan negara lain," paparnya.

Sejauh ini kata dia, sudah ada beberapa perusahaan yang mulai tertarik untuk mulai memaksimalkan produksi bahan baku, khususnya untuk produk TPT dengan adanya kebijakan pemerintah ini.

Harapannya, ke depan produk TPT Indonesia dapat lebih berkembang serta berdaya saing mumpuni, menghadapi persaingan global

"Alhamdulillah kami dapat info, beberapa pelaku usaha yang selama ini bergerak di bidang tersebut sudah tertarik dengan kebijakan tersebut. Kemudian kita juga punya bea masuk anti dumping. Terkhusus untuk tekstil, itu akan sangat berpengaruh dan komitmen pemerintah pusat akan tetap diberlakukan," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani