Golkar Belum Final Usung Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar, Pengamat Yakin Elektabilitas Ridwan Kamil Jadi Bahan Perdebatan Internal

Pengamat menilai pencalonan Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar oleh Golkar belumlah final terutama jika dikaitkan dengan elektabilitas Ridwan Kamil yang begitu menjulang tinggi.

Golkar Belum Final Usung Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar, Pengamat Yakin Elektabilitas Ridwan Kamil Jadi Bahan Perdebatan Internal
Pengamat menilai pencalonan Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar oleh Golkar belumlah final terutama jika dikaitkan dengan elektabilitas Ridwan Kamil yang begitu menjulang tinggi.

INILAHKORAN, Bandung- Partai Golkar telah mengumumkan usung Dedi Mulyadi di Pilkada Jakarta. Pengamat politik belum sepenuhnya yakin.

Adalah Firman Manan yang menilai pencalonan Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar oleh Golkar belumlah final terutama jika dikaitkan dengan elektabilitas Ridwan Kamil yang begitu menjulang tinggi.

Firman Manan meyakini, masih ada perdebatan alot di internal Golkar soal memilih Dedi Mulyadi atau Ridwan Kamil sebagai bakal calon Gubernur Jabar di Pilgub nanti.

Seperti diketahui, Ketum Golkar Airlangga Hartarto telah menyatakan dukungannya untuk Dedi Mulyadi maju di Pilgub Jabar sementara Ridwan Kamil bakal bertarung di Pilkada Jakarta.

"Secara hitungan elektoral tentu partai Golkar tetap mempertimbangkan menurut saya, masih ada perdebatan mengenai melepaskan Jabar dan mendorong RK untuk maju di DKI Jakarta," ungkap Firman Manan.

Selain itu Firman Manan melihat dukungan Golkar terhadap Dedi Mulyadi juga belum diumumkan secara formal.

"Paling tidak dengan pemberian rekomendasi pada calon-calon kepala daerah di tempat lain itu secara formal, bahkan ada yang diberikan surat dan seterusnya. Sementara untuk Dedi Mulyadi bahkan (hanya) utusan, dari ketua umum saja secara informal," katanya.

Manuver Golkar, yang mengabaikan potensi Ridwan Kamil memenangkan Pilgub Jabar 2024 diakui Firman sangat menarik.

"Menarik ya, Golkar punya kader incumbent yang kalau mengacu pada hasil survei, dia berada di peringkat pertama dan peluang kemenangannya sangat besar. Tapi kemudian Golkar memilih untuk merekomendasikan kader di luar partainya," kata Firman, Senin 5 Agustus 2024.

Dukungan Golkar pada Dedi Mulyadi ini kata dia, sangat menguntungkan Gerindra karena partai berlambang kepala burung garuda ini berpotensi memenangkan Jabar yang notabene memiliki jumlah pemilih terbesar di Indonesia. 

"Sebetulnya kalau berbicara siapa yang mendapatkan insentif, adalah Dedi Mulyadi dan Partai Gerindra, karena mendapatkan peluang untuk bisa menguasai wilayah yang punya dampak elektoral sangat besar," katanya. 

Soal faktor yang membuat Golkar mendukung Dedi Mulyadi, Firman menduga hal itu berkaitan dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM). Apalagi menurutnya KIM memiliki kepentingan di wilayah-wilayah strategis di Pulau Jawa. 

"Kelihatannya ada faktor di luar Partai Golkar dan itu adalah Koalisi Indonesia Maju, karena memang diupayakan untuk hadir di Pilkada. KIM punya kepentingan untuk kemudian menang di wilaya-wilayah strategis, katakanlah di Pulau Jawa," ujarnya. 

Diluar itu, KIM merasa figur yang bisa menyaingi elektabilitas Anies Baswedan di Pilkada DKI Jakarta adalah Ridwan Kamil, sehingga didorong untuk maju di Pilgub DKI Jakarta. 

"Ada satu daerah yang agak berat untuk dimenangkan yaitu Jakarta, karena disana ada Anies. Dengan asumsi Anies maju dalam Pilgub Jakarta. Sejauh ini satu-satunya figur yang berasal dari KIM, yang bisa diasumsikan bisa kompetitif dengan Anies adalah RK," ungkapnya.***


Editor : Bsafaat