Finalis Een Sukaesih Award 2018 yang satu ini bukanlah seorang guru apalagi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Dia adalah petani sayur yang resah lantaran di lingkungan tempat tinggalnya terlalu banyak anak putus sekolah.
Rohman Gumilar alias Gugum adalah salah satu warga di Desa Kadakajaya, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang yang punya mimpi besar ingin menjadikan anak-anak setempat menggapai pendidikan yang tinggi. Walau pria kelahiran Sumedang 27 Mei 1977 ini hanyalah lulusan Sekolah Dasar (SD).
Berawal di tahun 2010 lalu, dengan memanfaatkan koleksi buku pribadi, dia membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bina Kreasi Muda yang menggunakan salah satu fasilitas Desa. Namun, kala itu masyarakat merasa segan untuk mengakses buku di lokasi tersebut.
"Karena banyak masyarakat menganggap di (kantor) desa itu harus orang orang tertentu, selain itu jam layanan juga terbatas," ujar Gugum.
Lantas, TBM pun dialihkan ke Posyadu dan saat itu masyarakat antusias hingga kerap berjubel. Daya tampung tempat bacaan tersebut lambat laun terasa sangat kecil, lantaran koleksi buku terus bertambah dan jumlah masyarakat yang mengakses pun semakin banyak.
Kemudian, dia menjadikan rumahnya sebagai sarana untuk masyarakat membaca buku dengan menyekat salah satu ruangan berukuran satu setengah meter. Namun tetap saja, tidak bisa menampung warga.
"Dan sekarang saya punya Saung Maca yang terbuat dari bambu didirikan di halaman rumah," ungkapnya.
Semula hanya ada 100 buku yang disediakan Gugum. Namun kini sudah banyak pihak yang membantu, dari mulai mahasiswa hingga donatur yang menambah koleksi bacaan di Saung Maca.
"Sekarang ada sekitar 40 ribu buku. Saya juga mengajak remaja-remaja yang aktif di Karang Taruna untuk membesarkan taman bacaan ini," katanya.
Layanan utama di Saung Maca ini adalah meminjamkan buku kepada masyarakat untuk baca di tempat. Tak dipungut bayaran, tapi siapapun yang akan membaca buku wajib membawa sampah dari rumahnya untuk didaur ulang, atau dijadikan kerajinan.
Saung Maca tak hanya sebagai sarana membaca. Acap kali juga digelar pelatihan untuk warga sekitar, mulai dari pelatihan menulis, kerajinan daur ulang, bahasa Inggris, hingga sinematografi. Dia dibantu oleh 10 relawan yang selalu berganti.
"Karena kan yang SMP nanti lalu masuk SMA, sementara yang kuliah sudah pasti sibuk dan jarang ke TBM. Tapi yang kuliah itu dampak dari TBM, karena sebelumnya jarang yang meneruskan ke perguruan tinggi. Saya tahu persis di Desa Karakajaya, saya hapal awalnya tentara itu cuma ada satu, polisi ada dua. Tapi sekarang sudah mulai berangsur (banyak yang meneruskan pendidikan)," paparnya.
Untuk pendidikan formal, Gugum hanya mengenyam hingga bangku SD. Hanya saja di tahun 2014 dia mengikuti pendidikan paket B setara SMP, dan di tahun 2017 mengejar paket C. Tapi dari dulu dia juga menyukai segala bentuk literasi.
Gugum juga punya hobi membuat film, di mana beberapa karyanya sudah ditayangkan di stasiun televisi lokal dan menjuarai beberapa perlombaan.
Dia mengawali terjun bidang ini hanya mengandapkan kamera saku. Namun setelah memenangkan prestasi pada salah satu lomba, dia mendapat hadiah handy cam sebagai modal untuk menggelar pelatihan di Saung Maca.
"Bahkan saat ini juga kita sering mendapat order video syuting dan lain-lain. Padahal kita hanya TBM. Salah satu relawan juga saya sertakan lomba menulis dan berhasil dapat juara tiga dapat beasiswa bisa melanjutkan ke SMA. Sekarang dia sudah di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)," beber dia.
Dia katakan, segala keterbatasan bukan alasan untuk berhenti memberikan kontribusi untuk lingkungan. Dalam hal ini dia salut pada mendiang Een Sukaesih. Di mana dengan kondisi sakit dan lumpuh, masih mau berbuat sesuatu untuk Bangsa ini melalui pendidikan.
"Makanya saya mengajarkan kepada anak-anak untuk membuat kebaikan, jangan ada alasan sarana minim," pungkasnya.
Sosok Pembawa Perubahan
Rohman Gumilar kerap dipanggil Kang Gugum oleh adik-adik di lingkungan tempat tinggalnya. Begitu pula oleh Jaka Ramdani, salah satu warga sekitar yang aktif di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bina Kreasi Muda yang Gugum dirikan di Desa Kadakajaya, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.
Menurut Jaka, Gugum adalah sosok yang sangat inspiratif. Bagaimana tidak, walaupun dengan program pendidikan nonformal mampu membangkitkan mimpi warga sekitar.
"Kang Gugum atau Kang Rohman merupakan sosok inspiratif bagi saya, karena walaupun di pendidikan nonformal sudah bisa memberdayakan masyarakat," ujar Jaka.
Dengan semangat yang tidak pernah kendur, kata Jaka, Gugum selalu memikirkan program jitu untuk meningkatkan potensi masyarakat sekitar. Itu melalui berbagai pelatihan, dari mulai melukis hingga sinematografi.
Bahkan, lanjut Jaka, dengan gerakan literasi yang selalu digaungkan oleh Gugum tak sekadar membawa perubahan di lingkungan Rukun Warga atau desa saja. Namun, manfaatnya bisa dijangkau oleh masyarakat lebih luas.
"Dengan gerakan literasinya bukan saja di lingkungan RW atau Desa, tapi sudah bisa membawa perubahan bagi ruang lingkup se-Kabupaten (Sumedang)," jelasnya.
Menurut Jaka, kini mulai marak TBM yang muncul di beberapa daerah di Kabupaten Sumedang. Itu setelah Gugum memulai dengan mendirikan sarana membaca untuk warga.
"TBM Bina Kreasi Muda bisa memunculkan TBM TBM lainnya di setiap pelosok pedesaan dan perkotaan," pungkasnya.
Ari Anggara
Relawan TBM)
Saya sebagai relawan di TBM mengikuti jejak kang Rohman Gumilar. Manfaat menjadi relawan di TBM saya bisa lebih mengerti tentang sosialisasi dan pendidikan.
Menurut saya sosok Kang Rohman adalah sosok yang peduli akan masa depan. Dengan adanya TBM, waktu anak-anak tidak lagi terbuang sia-sia, yang biasanya hanya main kini mereka lebih banyak membaca.
Pokoknya saya mendukung terus Kang Rohman yang ingin menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Setia Deni
(Relawan TBM)
Saya sebagai relawan TBM sangat bangga bisa bergabung dengan komunitas yang dipimpin oleh Kang Rohman Gumilar. Dia adalah sosok orang yang peduli terhadap orang sekitarnya. Dan dengan adanya TBM ini anak anak bisa membaca sambil mengikuti kegiatan yang ada di TBM. Jadi waktu pun tidak terbuang sia sia.
Risky Syaefulloh
(Relawan TBM)
Saya sebagai relawan TBM, semenjak kenal dengan Kang Rohman Gumilar hidup saya lebih bermanfaat dan terpelajar. Karena dia, saya bisa mengetahui bahwa hidup perlu membaca dan mengetahui pendidikan.
Dengan adanya TBM, kita sebagai relawan TBM dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan pemahaman terhadap permasalahan yang diteliti dan banyak hal yang didapat dari TBM. Saya jadi mempunyai banyak pengalaman, bisa mempunyai skill bebagai keterampilan dan di antaranya dari pelatihan sinematografi saya jadi tahu bagaimana proses film itu dibuat.
Harapan saya semoga TBM bisa melahirkan terus generasi generasi Berikutnya. Pokoknya saya akan terus mendukung kang Rohman Gumilar yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap relawan dan masyarakat sekitar.