Gunung Tangkubanparahu Masih Berstatus Normal
“Manifestasi bualan lumpur di Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu yang terbentuk pada 5 Juni 2025 hingga saat ini masih teramati, tingkat intensitas dan luasan area bualan lumpur ini masih sama dibanding dengan aktivitas pada 26 Juni 2025,” kata Kepala Badan Geologi M Wafid, Jumat 27 Juni 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Gunung Tangkubanparahu merupakan gunung api aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.
Pengamatan secara visual di Gunung Tangkubanparahu terpantau hembusan asap putih tipis hingga sedang dengan ketinggian berkisar antara 5 hingga 180 meter dari dasar Kawah Ratu dan 5 hingga 15 meter dari dasar Kawah Ecoma dengan tekanan lemah hingga sedang.
“Manifestasi bualan lumpur di Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu yang terbentuk pada 5 Juni 2025 hingga saat ini masih teramati, tingkat intensitas dan luasan area bualan lumpur ini masih sama dibanding dengan aktivitas pada 26 Juni 2025,” kata Kepala Badan Geologi M Wafid, Jumat 27 Juni 2025.
Pemantauan kegempaan Gunung Tangkubanparahu hingga saat ini masih didominasi getaran tremor menerus yang berasosiasi dengan aktivitas bualan lumpur di Kawah Ratu.
Rekaman kegempaan pada 24 dan 25 Juni 2025 mengalamipeningkatan gempa low-frequency (LF) secara bertahap, yaitu masing-masing 90 dan 103 kejadian perhari.
“Data pemantauan tanggal 26 Juni 2024, jumlah gempa low-frequency ( LF) terekam sebanyak 116 kejadian, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan getaran Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5-1 mm,” katanya.
Pengamatan deformasi permukaan menggunakan alat EDM dan GNSS masih menunjukkan adanya pola inflasi, yang mengindikasikan akumulasi tekanan pada kedalaman dangkal di bawah tubuh gunungapi.
“Hal ini masih menjadi perhatian karena potensi erupsi freatik tetap dapat terjadi secara tiba-tiba, tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas,” katanya.
Hingga tanggal 26 Juni 2025, data pengukuran gas dari stasiun Multi-GAS permanen belum menunjukkan perubahan mencolok pada rasio gas (CO2/SO₂, CO₂/H₂S, H2O/CO2, H2 S/SO2) maupun proporsi antara gas SO₂ dan H₂S.
Dengan mempertimbangkan semua data tersebut di atas, tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih berada pada Level I (normal).
Masyarakat di sekitar Gunung Tangkubanparahu dan para pengunjung tetap diimbau untuk tidak mendekati area dasar kawah, tidak berlama-lama di kawasan kawah aktif, serta segera menjauh jika teramati peningkatan intensitas hembusan atau tercium bau gas menyengat.
Meskipun aktivitas menurun, kewaspadaan harus tetap diperhatikan. Pemerintah Daerah dan BPBD diminta terus menjalin koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Tangkubanparahu di Desa Cikole serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
“Evaluasi tingkat aktivitas Gunung Tangkubanparahu akan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama,” katanya.
Editor : Doni Ramdhani

